Selasa, 28 April 2015

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN Oleh: Nani Rosdijati ABSTRAK Kepala sekolah merupakan jabatan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan, baik yang berkaitan dengan pengelolaan maupun dengan pembelajaran di sekolah. Dalam mengelola pendidikan kepala sekolah berperan sebagai pemimpin, manajer, administrator dan supervisor, sedangkan dalam pembelajaran kepala sekolah berperan sebagai edukator atau pembelajar, karena kepala sekolah meskipun mengelola pendidikan juga melaksanakan tugas pembelajaran. Kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan penampilan guru, penguasaan materi/kurikulum, penggunaan metode mengajar, pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan, penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi serta pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Indikator yang menandai pembelajaran bermutu berkaitan dengan input yaitu guru, tujuan pengajaran, peserta didik dan alat/media pendidikan; proses serta output. Beberapa strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi peningkatan kemampuan mengajar guru, optimalisasi penggunaan media dan sarana pendidikan, pelaksanaan supervisi secara rutin, menjalin kerjasama dengan masyarakat dan penerapan disiplin yang ketat Kata kunci: strategi, kepala sekolah dan mutu pembelajaran PENDAHULUAN Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, yaitu diantaranya dengan pengadaan sarana dan prasaran pendidikan, pengadaan tenaga guru kontrak, penataran, penyempurnaan kurikulum dan sebagainya yang memungkinkan. Permasalahan yang mendasar sebenarnya yaitu mampu atau tidak sumber daya pendidikan yang ada atau belum ada untuk dikelola secara efektif dan efisien oleh setiap lembaga penyelenggara pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu suatu terobosan dalam mewujudkan tujuan pendiikan adalah dengan cara meningkatkan fungsi dan peran kepala sekolah dasar untuk menciptakan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan dengan beragam tingkat pengetahaun, kemampuan serta nilai atau sikap yang memungkinkan untuk menjadi warga masyarakat dan warga negara yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, beriman dan berbudi pekerti luhur. Tujuan yang sangat mulia tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari tenaga kependidikan yang profesional. Salah satu tenaga kependidikan yang paling menentukan dalam pengelolaan pendidikan dasar adalah kepala sekolah yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Tugas dan tanggung jawab yang harus diemban oleh kepala sekolah dalam memimpin atau mengelola sekolah yaitu meningkatkan mutu pendidikan, artinya bahwa seorang kepala sekolah dituntut untuk mampu mengelola seluruh sumber daya pendidikan yang ada di sekolah, sehingga mampu mendukung terhadap perwujudkan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Keadaan tersebut sebagaimana diungkapkan dalam konsep Total Quality Manajemen bahwa mutu suatu produk ditentukan oleh pengelolaan input, proses sampai dengan output. Dengan kata lain bahwa mutu suatu produk akan bagus apabila bahan dasarnya diproses dengan benar dan dikontrol dengan tepat. Demikian pula hanya dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pendidikan, termasuk sekolah dasar. Sementara pada pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar di Indonesia, siswa yang masuk (input) tidak diseleksi secara khusus, asal memenuhi persyaratan administratif mereka bisa diterima. Dengan demikian, yang paling menentukan kualitas lulusan terletak pada pembelajarannya. Oleh karena itu suatu langkah yang perlu ditingkatkan dalam penyelenggaraan atau pengelolaan pendidikan di sekolah dasar yaitu menciptakan suatu sistem pengelolaan yang berkualitas. Dalam hal ini kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan manajerial yang profesional dalam peranannya memimpin sekolah. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan, sehingga menjadi kendali sekolah dasar menjadi tidak bermutu antara lain: karena tidak ada standar input (siswa), sehingga kemampuan dan karakteristik siswa sangat beragam, sistem guru kelas berdampak pada menurunnya kinerja guru, kurikulum pada beberapa mata pelajaran masih dianggap terlalu luas, sehingga memberatkan bagi siswa untuk mempelajarinya dan masih adanya guru yang kurang aktif dalam pembelajaran. Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya merupakan suatu kendala bagi dunia pendidikan di sekolah dasar yang keberadaannya perlu segera ditangani benar-benar, sehingga tidak mengganggu atau menghambat terwujudnya tujuan pendidikan yang akan dicapai. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut diperlukan upaya-upaya dalam bentuk strategi kepala sekolah untuk menanganinya. Dengan harapan mutu pembelajaran yang merupakan produktivitas sekolah tetap dipertahankan tingkat keefektifan, keefisienan dan relevansinya. Rumusan masalah yang ditetapkan adalah bagaimana strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran? Tujuan penulisan artikel ini adalah ingin mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran. LANDASAN TEORI Pengertian Strategi Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai manajer pendidikan yang berada di sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan atau membawa sekolah yang dipimpinnya memperoleh mutu pembelajaran yang baik. Keadaan tersebut tentunya dapat diwujudkan dengan baik, apabila kepala sekolah mampu menciptakan strategi yang relevan dengan kondisi dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Untuk mengetahui tentang pengertian strategi kepala sekolah, maka terlebih dahulu perlu dipahami mengenai pengertian tentang strategi itu sendiri. Winardi (2012:95-96) mengemukakan bahwa strategi sebuah organisasi atau subnya merupakan konseptualisasi yang dinyatakan dan akan diimplikasikan oleh pimpinan organisasi yang bersangkutan, meliputi: sasaran-sasaran jangka panjang atau tujuan-tujuan organisasi tersebut, kendala-kendala luas dan kebijakan-kebijakan yang atau ditetapkan sendiri oleh sang pemimpin, atau yang diterimanya dari pihak atasannya yang membatasi skope aktivitas-aktivitas organisasi yang bersangkutan dan kelompok rencana-rencana dan tujuan-tujuan jangka pendek yang telah diterapkan dengan ekspekasi akan diberikannya sumbangsih mereka dalam hal mencapai sasaran-sasaran organisasi tersebut. Sementara Salusu (2014:101) mengemukakan bahwa strategi adalah suatu seni menggunakan kecakapan dan nara sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan. Konsep tersebut mengemukakan bahwa strategi lebih menekankan pengertiannya pada suatu situasi di mana pimpinan mampu mendayagunakan segenap sumber daya organisasi dengan tepat dan benar. Dalam hal ini, maka seorang pimpinan harus dituntut memiliki kepandaian dalam menguasai situasi dan kondisi yang dimiliki oleh organisasi, sehingga mampu menerapkan suatu pengembangan program dan menggerakkan sumber daya organisasi yang dimilikinya. Lebih lanjut Winardi (2012:1) mengemukakan bahwa strategi merupakan pola sasaran, tujuan atau maksud dan kebijakan utama serta rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep tersebut lebih menitikberatkan pada upaya pimpinan dalam menetapkan sasaran yang harus dicapai organisasi melalui suatu perencanaan yang akurat, matang dan sistematis. Perencanan dalam hal ini merupakan suatu pola kebijakan tertentu dalam mengelola organisasi menuju tujuan yang telah ditetapkan. Sejalan dengan pengertian tersebut Glueck (Saladin, 2014:1) mengemukakan bahwa strategi adalah sebuah rencana yang disatukan luas dan terintegrasi, yang menghubungkan seunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi. Berdasarkan konsep tersebut, maka strategi merupakan suatu kesatuan rencana yang menyeluruh, komprehensif dan terpadu yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahwa strategi kepala sekolahmerupakan rangkaian dari rencana sebagai sasaran, kebijakan atau tujuan yang ditetapkan oleh seorang kepala sekolah dalam pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu pembelajaran. Konsep Peningkatan Mutu Pembelajaran Mutu pembelajaran merupakan bagian dari mutu pendidikan secara keseluruhan. Dalam hal ini sebelum memahami mutu pembelajaran terlebih dahulu perlu dipahami mutu pendidikan. Banyak ahli yang mencoba mendefinisikan mutu pendidikan, salah satunya Kemendikbud (2014:7) mendefinisikan bahwa mutu pendidikan di sekolah dasar adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisiensi terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku. Dalam pengertian tersebut diungkapkan bahwa pada dasarnya mutu pendidikan merupakan kemampuan sekolah dalam menghasilkan nilai tambah yang diperolehnya menurut standar yang belaku. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pengertian mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam menyenggarakan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai bagi pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen-komponen Peningkatan Mutu Pembelajaran 1. Penampilan Guru. Komponen yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah penampilan guru, artinya bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan pengajaran sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran. Keadan tersebut dikarenakan guru merupakan salah satu pelaku dan bahwa pemeran utama dalam penyelenggaraan pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan guru harus benar-benar memiliki kemampuan, keterampilan dan sikap seorang guru yang profesional, sehingga mampu menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yang akan dicapai. 2. Penguasaan Materi/Kurikulum. Komponen lainnya yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yaitu penguasaan materi/kurikulum, artinya bahwa penguasaan materi/kurikulum sangat mutlak harus dilakukan oleh guru dalam menyelenggaran pembelajaran. Keadaan tersebut dikarenakan kurikulum/materi merupakan objek yang akan disamapikan pada peserta didik. Dengan demikian kedudukan penguasaan materi ini merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut atau ditekankan untuk menguasai materi/kurikulum sebelum melaksanakan pengajaran di depan kelas. 3. Penggunaan Metode Mengajar. Penggunaan metode mengajar huna merupakan komponen dalam peningkatan mutu pembelajaran, artinya penggunaan metode mengajar yang dipakai guru dalam menerangkan di depan kelas tentunya akan memberikan kontribusi tersebut peningkatan mutu pembelajaran. Dengan menggunakan metode mengajar yang benar dan tepat, maka memungkinkan siswa lebih mudan dalam memahami materi yang disapaikan guru. 4. Pendayagunaan Alat/Fasilitas Pendidikan. Komponen lainnya yang menentukan peningkatan mutu pembelajaran yaitu pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan. Mutu pembelajaran akan baik apabila dalam pelaksanaan pembelajaran didukung oleh alat/fasilitas pendidikan yang tersedia. Keadaan tersebut memudahkan guru dan siswa untuk menyelenggarakan pembelajaran. Dengan demikian diharapkan pendayagunaan alat/fasilitas belajar harus memperoleh perhatian yang baik bagi sekolah dalam upayanya mendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. 5. Penyelenggaraan Pembelajaran dan Evaluasi. Mutu pembelajaran juga ditentukan oleh penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasinya. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada dasarnya mutu akan dipengaruhi oleh proses. Dengan demikian guru harus mampu mengelola pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu yang tinggi. 6. Pelaksanaan Kegiatan Kurikuler dan Ekstra-kurikuler. Peningkatan mutu pembelajaran pula dipengaruhi oleh pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler, artinya bahwa mutu akan mampu ditingkatkan apabila dalam pembelajaran siswa ditambah dengan adanya kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Keadaan ini beralasan bahwa dengan diadakannya kegiatan tersebut akan menambah pengetahuan siswa di luar pengajaran inti di kelas dan tentunya hal tersebut akan lebih meningkatkan kreativitas dan kompetensi siswa. Indikator Pembelajaran yang Bermutu 1. Input. Mutu pembelajaran salah satunya dipengaruhi oleh input yang menjadi bahan dasar dari pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan mutu pembelajaran akan dipengaruhi oleh keberadaan atau kondisi dari input yang dimiliki. Oleh karena itu upaya mempersiapkan input secara optimal merupakan suatu langkah awal bagi terciptanya suatu peningkatan mutu pembelajaran. Adapun usnur-unsur yang perlu dipersiapkan oleh pihak sekolah dalam upayanya menciptakan suatu mutu pembelajaran adalah: a. Guru. Guru merupakan orang yang sangat strategis dalam meningkatkan mutu pembelajaran, mengingat kedudukan guru yang secara langsung berhadapan dengan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian guru yang profesional dalam melaksanakan tugas tentu akan lebih baik untuk mewujudkan mutu pembelajaran dibandingkan dengan guru yang kurang atau tidak profesional. b. Tujuan Pengajaran. Sementara tujuan pengajaran merupakan suatu unsur yang akan mempengaruhi terhadap mutu pembelajaran. Keadaan ini bisa dibuktikan dengan adanya kecenderungan bahwa suatu aktivitas tidak akan mampu menghasilkan suatu yang bermutu tanpa didahului dengan adanya penetapan tujuan. Oleh karena itu dalam hal ini pula pembelajaran akan mampu memiliki mutu yang baik apabila dalam pelaksanaannya memiliki tujuan yang ditetapkan, sehingga pelaksanaannya terarah baik dan ada target yang akan dicapai. Pada dasarnya mutu dari pembelajaran itu dapat dilihat dari mampu tidaknya suatu pembelajaran dalam mencapai tujuan tersebut. c. Peserta Didik. Peserta didik merupakan salah satu pendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Peserta didik merupakan pelaku dalam penyelenggaraan pembelajaran. Oleh karena itu peserta didik harus dikondisikan untuk mampu menunjang terhadap kelancaran penyelanggaran pendidikan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa peserta didik harus dikelola dengan baik, sehingga mampu mendukung terhadap kelancaran pembelajaran. d. Alat/Media Pendidikan. Unsur pendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah salah satunya alat/media pendidikan. Alat/media tersebut memiliki peranan yang sangat besar terhadap kelancaran pembelajaran. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa alat/media pendidikan harus dikelola secara baik dan dipastikan mampu mendukung terhadap penyelenggaraan pembelajaran, baik secara kualitas maupun kuantitas. 2. Proses. Proses merupakan unsur penting yang mempengaruhi terhadap mutu pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran harus didukung oleh adanya interaksi yang aktif antara peserta didik dengan guru. Komunikasi yang kondusif merupakan suatu hal yang penting dalam mewujudkan peningkatan mutu pembelajaran. 3. Output. Output pengajaran dipandang bisa melihat sampai sejauhmana mutu pembelajaran yang dimiliki oleh suatu sekolah. Oleh karena itu, maka ouput pengajaran yang menjadi ukuran mutu pembelajaran mencakup nilai prestasi dan perubahan sikap peserta didik. PEMBAHASAN Beberapa strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi: Peningkatan Kemampuan Mengajar Guru Strategi pertama yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yaitu dengan cara peningkatan kemampuan mengajar guru. Peningkatan kemampuan mengajar ini dipandang oleh kepala sekolah sangat penting mengingat gurulah sebagai peran kunci yang melaksanakan dan menentukan baik tidaknya mutu pembelajaran tersebut. Selain itu pula sejumlah permasalahan dalam meningkatkan mutu pembelajaran banyak bersumber darai guru, misalnya kurang disiplin, kurang profesional, kinerjanya rendah atau permasalahan-permasalahan pribadi lainnya. Peningkatan kemampuan guru dalam hal ini yaitu meningkatkan kemampuan para guru dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar. Tentunya peningkatan kemampuan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan dan bahkan menilaia hasil pembelajaran yang dilakukannya. Pengembangan kemampuan guru yang diterapkan kepala sekolah yaitu dengan cara mengikutsertakan para guru dalam seminar, diklat dan penataran kependidikan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kepofesian. Bahkan dalam hal ini pihak sekolah memberikan keleluasaan yang penuh terhadap para guru yang akan melanjutkan pendidikan formalnya. Sementara itu pula, kepala sekolah berupaya untuk mendorong para guru agar aktif dalam Kelompok Kerja Guru, sehingga diharapkan setiap guru mampu mengembangkan kemampuannya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Melalui KKG inilah guru dapat saling tukar pengalaman dan berdiskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam mengajar. Optimalisasi Penggunaan Media dan Sarana Pendidikan Strategi yang diterapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yaitu dengan optimalisasi pemanfaatan dan penggunaan media dan sarana pendidikan. Permasalahan yang muncul dalam hal ini bahwa selama ini guru kurang mendayagunakan penggunaan media dan sarana pendidikan yang ada, sehingga keberadaannya jelas tidak bermanfaat untuk memperlancar pembelajaran. Optimalisasi penggunaan media dan sarana ini dilakukan dengan cara membuat kebijakan untuk mewajibkan setiap guru dalam melakukan pembelajarannya dengan menggunakan media atau sarana pendidikan yang tersedia, sehingga mampu mewujudkan hasil pengajaran yang optimal. Sementara itu pula sebagai pimpinan, kepala sekolah berupaya untuk membina dan mengarahkan cara-cara penggunaan media dan sarana pendidikan yang mendukung terhadap pembelajaran, sehingga hasil pembinaan dan pengarahan ini setiap guru dapat menggunakan media dan sarana pendidikan tersebut dengan baik dalam pembelajaran. Untuk memberdayakan penggunaan media dan sarana pendidikan ini pula, kepala sekolah berupaya menerapkan pengelolaan yang baik. Kepala sekolah mendesain atau mengatur penempatan, penggunaan dan pemeliharaan dari media dan sarana pendidikan yang ada. Keadaan ini dilakukan dalam upaya mengkondisikan media dan sarana pendidikan yang ada mampu dilindungi dan mampu untuk dimanfaatkan keberadannya. Lebih lanjut kepala sekolah menganggarkan biaya untuk pemeliharaan dan pengadaan media dan sarana pendidikan yang belum tersedia. Pelaksanaan Supervisi secara Rutin Strategi yang lain yang diterapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan pelaksanaan supervisi rutin. Keadaan ini dilakukan mengingat keberadaan guru yang relatif memiliki pendidikan cukup sama yaitu SPG, sehingga pembinaan dan pengarahan merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan sekali dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Strategi inipun ditemph kepala sekolah untuk mengatasi permasalahan sehubungan dengan kurangnya sikap profesionalisme yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugas. Kegiatan supervisi dilakukan kepala sekolah agar kepala sekolah mengetahui secara langsung permasalahan yang dihadapi guru selama melaksanakan pembelajaran, sehingga kepala sekolah dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya. Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah dengan cara mengadakan kunjungan kelas, rapat-rapat dan pembinaan secara individual terhadap guru. Kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah di sini yaitu dengan mengadakan pengunjungan terhadap setiap kelas tentang kelengkapan sarana pendidikan yang ada dan mengecek kehadiran guru maupun siswa. Selanjutnya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah ini dilakukan dengan cara mengadakan rapat-rapat yang dilakukan dalam mengadakan pengevaluasi atau bahkan pembinaan terhadap para guru untuk mengenalkan sesuatu yang baru dan perlu diketahui oleh guru mengenai hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Kemudian juga kepala sekolah sering mengadakan supervisi terhadap para guru secara perorangan dalam membina dan mengarahkan guru tersebut, sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan baik, biasanya dilakukan jika ada permasalahan yang begitu besar dan terjadi pada tugas guru tersebut. Menjalin Kerjasama dengan Masyarakat Masyarakat merupakan relasi yang cukup besar dalam memberikan pengaruh dan bantuan terhadap kelancaran penyelenggaraan pembelajaran. Palagi jika dikaitakan dengan keadaan sekarang bahwa masyarakat memiliki peran sebagai pengawas dan penyumbang kebutuhan sekolah dengan dibentuknya “Dewan Sekolah”. Namun demikian dalam kenyataannya bahwa masyarakat masih kurang peka terhadap kebutuhan sekolah. Oleh karena itulah sebagai langkah awal memperbaiki hubungan dengan sekolah dengan masyarakat, maka kepala sekolah mengadakan suatu strategi dalam bentuk kerjasama dengan masyarakat. Dalam mengadakan hubungan kerjasama dengan masyarakat ini, maka sekolah membentuk Dewan Sekolah yang memiliki fungsi dan peran sebagai wadah untuk memfasilitas masyarakat berhubungan dengan sekolah atau sebaliknya. Selama ini melalui “Dewan Sekolah” itulah orang tua siswa, masyarakat umum atau donatur mengadakan jalinan hubungan yang harmonis. Lebih lanjut kepala sekolah mengadakan hubungan dan komunikasi dengan para orang tua siswa dan “Dewan Sekolah” yaitu dengan mengadakan rapat-rapat. Rapat/pertemuan dengan para orang tua siswa dilakukan pada awal tahun pelajaran dan pada waktu pembagian “Buku Laporan Pendidikan”. Pada pertemuan sekolah dengan orang tua siswa pada awal tahun merupakan pertemuan yang membicarakan tentang pengenalan program-program pendidikan yang akan diselenggarakan dan uraian secara terbuka mengenai penggaran yang digunakannya. Sementara pertemuan pada pembagian Buku Laporan Pendidikan merupakan pertmuan yang berupaya untuk secara tetap menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua siswa. Rapat “Dewan Sekolah” merupakan upaya menjalin kerjasama dengan masyarakat dalam membahas program-program pendidikan yang akan diselenggarakan oleh pihak sekolah. Pada pertemuan ini dibahas mengenai program-program yang akan dilaksanakan oleh pihak sekolah. Penerapan Disiplin yang Ketat Penerapan disiplin yang ketat merupakan pula salah satu strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Penerapan disiplin ini penting dilakukan sehubungan dengan rendahnya tingkat kedisiplinan guru maupun siswa, antara lain: datang terlambat, berpakaian kurang rapi dan pulang belajar mengajar belum pada waktunya. Pendisiplinan ini dilakukan untuk mengkondisikan semua warga SD memiliki kinerja dalam menjalankan tugas dan peranannya secara optimal. Di mana melalui pendisiplinan ini diharapkan para personil pendidikan mampu memberikan kinerjanya yang optimal. Sementara pendisiplinan yang terapkan pada siswa diharapkan mampu menciptakan keteraturan dan ketertiban dalam menjalankan atau mengikuti pembelajaran. Pendisiplinan iklim sekolah ini dilakukan dengan cara pembuatan tata tertib bagi siswa dan tata tertib bagi para guru yang ada di sekolah. Pendisiplinan ini ditegakkan secara objektif, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Kepala sekolah setipa hari mengontrol kedisiplinan guru dan siswa dengan cara melihat kehadiran, kerapihan dari pakaiannya dan menampilkan perilaku kepemimpinan yang patut untuk dicontoh atau ditiru. Lebih konkritnya jika ada guru maupun siswa yang tidak berdisiplin, maka kepala sekolah melakukan teguran secara lisan, melakukan pemanggilan dan pemberian sanksi apabila guru maupun siswa tetap membandel. Selain itu pula khusus untuk siswa jika ada yang tidak disiplin, kepala sekolah memanggil orang tua siswa ke sekolah untuk meminta bantuan dalam membina anaknya. Secara lebih konkrit pendisiplinan yang dilakukan kepada guru, kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap ketepatan waktu mengajar, kehadiran dan kerapihan pakainnya. Kepala sekolah terbiasa memanggil guru yang terlambat dalam mengajar, tidak rapih dalam berpakaian dan sering tidak hadir. Kondisi tersebut ditindaklanjuti dengan pembinaan dan pengajaran, sehingga para guru tetap mampu menegakkan kedisiplinannya. Kepala sekolah menggap bahwa melalui pendisiplinan inilah nantinya akan mampu memberikan dapak terhadap hasil belajar. Dengan demikian kedisiplinan ini perlu diciptakan dengan baik, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap mutu pembelajaran dengan baik pula. PENUTUP Kepala sekolah dalam konteks penyelenggaraan pendidikan memiliki peranan yang sangat strtaegis sebagai pemimpin, administrator dan supervisor pendidikan. Oleh karena itulah tanggung jawab sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajarannya terletak di tangan kepala sekolah. Strategi yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan merupakan pilihan yang terbaik sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang dipimpinnya. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran bersumber dari permasalahan guru serta fasilitas pendidikan yang dimiliki oleh sekolah. Oleh karena itu strategi yang ditetapkan kepala sekolahpun diorientasikan kepada guru (personil) dan juga fasilitas pendidikan yang tersedia. Strategi yang ditetapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi: peningkatan kemampuan mengajar guru, pendayagunaan media dan sarana pendidikan, pelaksanaan supervisi secara rutin, menjalin kerjasama dengan masyarakat dan penerapan disiplin yang ketat, baik bagi guru maupun bagi siswa. Setelah penulis mengadakan pengkajian terhadap strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran, maka saran yang dapat diajukan untuk kepala sekolah adalah: meningkatkan dan mengembangkan kualitas guru, sehingga diperoleh pengembangan kemampuan, keterampilan dan sikap seorang guru yang profesional. Keadaan ini bisa dilakukan dengan menganjurkan para guru untuk melanjutkan pendidikan formalnya, mengikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan, diklat, penataran ataupun menganjurkan untuk aktif dalam mengikuti kegiatan KKG, lebih meningkatkan jalinan kerjasama dnegn masyarakat. Keadaaan ini mengingat masyarakat sebagai salah satu sumber daya pendidikan yang potensial dalam mendukung dan membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kerjasama yang dilakukan ini tidak hanya sebatas pengadaan dana, tetapi terlibat langsung dalam perencanaan dan pengawasan serta evaluasi program pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dan hendaknya pihak sekolah memberikan bantuan kepada guru dalam membiayai untuk mengikuti program pendidikan lanjutan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (minimal S1), sehingga profesionalisme guru dalam mengajar dapat diandalkan. Bantuan tersebut agar lebih rasional dilakukan melalui pembicaraan khusus dengan “Dewan Sekolah” sehingga tidak memberatkan anggaran pihak sekolah dan menjadi bahan pertimbangan bersama antara pihak sekolah dengan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar