Selasa, 28 April 2015

PERAN DAN FUNGSI GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN

Oleh: Nani Rosdijati ABSTRAK Guru memiliki tugas yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sehingga kedudukan, peran dan fungsinya tidak dapat digantikan dengan fasilitas apapun. Guru harus hadir bersama siswa melaksanakan pembelajaran di kelas. Peran dan fungsi guru dalam pembelajaran berkaitan dengan sebagai informator, organisator, motivator, pengarah/direktor, transmiter, fasilitator, mediator dan evaluator. Pencapaian mutu pembelajaran berkaitan dengan kemampuan sekolah dalam pengelolaan sekolah secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Komponen-komponen mutu meliputi: penampilan guru, penguasaan materi/kurikulum, penguasaan metode mengajar, pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan, penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi serta pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Peran guru dalam pembelajaran terlebih dahulu guru harus membekali diri dengan sejumlah kompetensi dalam bidang pengajaran baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun bantuan kepala sekolah. Kegiatan pembekalan tersebut dilakukan secara kontinyu seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga pada akhirnya akan membentuk sikap lebih profesional dari guru itu sendiri. Agar kegiatan pembekalan lebih efektif langkah yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru serta kebutuhannya sehubungan dengan pelaksanaan tugas mengajar di sekolah. Kata kunci: pran dan fungsi, guru dan mutu pembelajaran PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar (central basic) yang dapat membawa perubahan terhadap manusia. Perubahan tersebut sifatnya bertahap dan memerlukan waktu yang cukup lama. Telah banyak perkembangan dan kemajuan di segala bidang yang disebabkan oleh adanya pendidikan. Dengan demikian adanya pendidikan dapat mengubah suatu keadaan (negara, bangsa bahkan perorangan) menjadi kondisi kehidupan yang lebih baik. Melalui pendidikan manusia memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri termasuk juga kepentingan dirinya sendiri. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka sudah sepatutnya apabila berbagai lembaga pendidikan dari waktu ke waktu senantiasa meningkatkan peranannya, termasuk dalam peningkatan mutu pembelajarannya. Upaya peningkatan mutu pembelajaran setiap jenjang dan satuan pendidikan pada saat ini terus-menerus diupayakan. Peningkatan mutu tersebut semata-mata dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk mencapai ke arah tujuan tersebut menuntut adanya peranan dari berbagai unsur pendidikan yang terlibat, baik pihak sekolah (kepala sekolah dan guru), pemerintah maupun masyarakat. Khusus untuk guru yang secara internal terlibat langsung dalam pembelajaran di sekolah harus berusaha mencari terobosan-terobosan baru dalam rangka meningkatkan mutu pembelajarannya. Untuk itulah peningkatkan mutu pembelajaran menuntut peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab secara khusus dari guru agar senantiasa memikirkan upaya-upaya atau terobosan-terobosan baru secara konkrit, sehingga mutu pembelajaran di sekolah dapat lebih meningkat. Permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah upaya peningkatan peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran? Dengan demikian tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui, memahami dan menganalisis upaya peningkatan peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran. LANDASAN TEORI Peran dan Fungsi Guru dalam Pembelajaran Sehubungan dengan peran dan fungsi guru dalam pembelajaran, maka diperlukan adanya usaha dari guru untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya tersebut. Peranan guru tersebut akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru maupun dengan staf sekolah atau bahkan dengan kepala sekolah. Dari berbagai kegiatan interaksi, maka kegiatan pembelajaran dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya, mengingat disadari atau tidak bahwa sebagian waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk penggarapan pembelajaran di dalam kelas dan berinteraksi dengan siswa. Beberapa fungsi guru menurut Zen (2010:69-70) sehubungan dengan tugasnya selaku pengajar dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Sebagai Informator. Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. dalam pada itu berlaku teori komunikasi: teori stimulus – respon, teori dissonance – reduction dan teori – pendekatan fungsional. 2. Sebagai Organisator. Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, work shop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa. 3. Sebagai Motivator. Peranan guru sebagai motivator, penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcemen untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya, sehingga akan terjadi dinamika di dalam pembelajaran. 4. Sebagai Pengarah/Direktor. Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. 5. Sebagai Inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam pembelajaran. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. 6. Sebagai Transmiter. Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan. 7. Sebagai Fasilitator. Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasan kegiatan yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar akan berlangsung secara efektif. 8. Sebagai Mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa, misalnya menengahi atau memberikan jalan ke luar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa. Mediator juga diartikan penyedian media, bagaimana cara memakai dan mengorganisasi penggunaan media. 9. Sebagai Evaluator. Ada kecenderungan bahwa peran sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. Tetapi kalau diamati secara agak mendalam evaluasi-evaluai yang dilakukan guru itu sering hanya merupakan evaluasi ekstrinsik dan sama sekali belum menyentuh evaluasi instrinsik. Evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi yang mencakup pula evaluasi intrinsik. Untuk itu guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kreteria keberhasilan. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat bisa atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat kompleks, terutama menyangkut perilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran. Konsep Peningkatan Mutu Pembelajaran Pengertian Mutu Pembelajaran Mutu pembelajaran merupakan bagian dari mutu pendidikan secara keseluruhan. Dalam hal ini sebelum memahami konsep mutu pembelajaran, terlebih dahulu harus diketahui konsep dasar tentang mutu pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014:7) mendefinisikan pengertian mutu pendidikan, yaitu kemampuan sekolah dalam pengelolaan sekolah secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Berdasarkan pengertian tersebut diungkapkan bahwa pada dasarnya mutu pendidikan merupakan kemampuan sekolah dalam menghasilkan nilai tambah yang diperolehnya menurut standar yang berlaku. Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, maka mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam penyelenggaraan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai tinggi bagi pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen-komponen Peningkatan Mutu Pembelajaran Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa peningkatan mutu pembelajaran akan terwujud secara baik apabila dalam pelaksanaannya didukung oleh komponen-komponen peningkatan mutu yang ikut andil dalam pelaksanannya. 1. Penampilan Guru. Komponen yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah penampilan guru, artinya bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pengjaran sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran yang dihasilkan. Kunci keberhasilannya mengingat bahwa guru yang merupakan salah satu pelaku dan bahkan pemeran utama dalam penyelenggaraan pembelajaran, sehingga diharapkan penampilan gutu harus benar-benar memiliki kemampuan, keterampilan dan sikap yang profesional yang pada akhirnya mampu menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yang akan dicapai. 2. Penguasaan Materi/Kurikulum. Komponen lainnya yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yaitu penguasaan materi/kurikulum. Penguasaan ini sangat mutlak harus dilakukan oleh guru dalam menyelenggarakan pembelajaran, mengingat fungsinya sebagai objek yang akan disampaikan kepada peserta didik. Dengan demikian penguasaan materi merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sehingga seorang guru dituntut atau ditekan untuk menguasai materi/kurikulum sebelum melakukan pengajaran di depan kelas. 3. Penggunaan Metode Mengajar. Penggunaan metode mengajar juga merupakan komponen dalam peningkatan mutu pembelajaran yang menunjukkan bahwa metode mengajar yang akan dipakai guru dalam menerangkan di depan kelas tentunya akan memberikan konstribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Dengan menggunakan metode mengajar yang benar dan tepat, maka memungkinkan akan mempermudah siswa memahami materi yang akan disampaikan. 4. Pendayagunaan Alat/Fasilitas Pendidikan. Kemampuan lainnya yang menentukan peningkatan mutu pembelajaran yaitu pendayagunaan alat-fasilitas pendidikan. Mutu pembelajaran akan baik apabila dalam pelaksanaan pembelajaran didukung oleh alat/fasilitas pendidikan yang tersedia. Hal ini akan memudahkan guru dan siswa untuk menyelenggarakan pembelajaran, sehingga diharapkan pendayagunaan alat/fasilitas belajar harus memperoleh perhatian yang baik bagi sekolah-sekolah dalam upaya mendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. 5. Penyelengaraan Pembelajaran dan Evaluasi. Mutu pembelajaran ditentukan oleh penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi yang menunjukkan bahwa pada dasarnya mutu akan dipengaruhi oleh proses. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu yang optimal. 6. Pelaksanaan Kegiatan Kurikuler dan Ekstra-kurikuler. Peningkatan mutu pembelajaran dipengaruhi pula oleh pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler yang menunjukkan bahwa mutu akan mampu ditingkatkan apabila dalam pembelajaran siswa ditambah dengan adanya kegiatan kurikuler dan esktra-kurikuler. Kegiatan tersebut perlu dilakukan, mengingat akan menambah pengetahuan siswa di luar pengjaran inti di kelas dan tentunya hal ini akan menjadi lebih baik terutama dalam meningaktkan kreativitas dan kompenetis siswa. Peranan Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sebagaimana yang telah diketahui bahwa selain kepala sekolah hal yang tidak kalah pentingnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah peran, fungsi dan tanggung jawab guru, mengingat guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga pada akhirnya out put pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat. Keadaan tersebut dapat terlaksana apabila ditunjang dengan adanya upaya peningkatan kemampuan guru dalam mengelola dan berperan langsung dalam mengajar serta mendidik para siswanya. Guru merupakan pelaksana terdepan pendidikan anak-anak di sekolah. Oleh karena itu berhasil tidaknya upaya peningkatan mutu pendidikan banyak ditentukan juga oleh kemampuan yang ada pada guru dalam mengemban tugas pokok sehari-harinya yaitu pengelolaan pembelajaran di sekolah. Adapun peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan menurut Usman (2014:6-9) meliputi : 1. Guru sebagai demonstrator berfungsi untuk mendemonstrasikan suatu materi pembelajaran, sehingga lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa. Oleh karena itu guru harus mampu menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkan kemampuannya yang pada akhirnya mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis. 2. Guru sebagai pengelola kelas berfungsi untuk mengendalikan dan mengorganisasikan siswa di dalam kelas agar lebih terarah kepada tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan. 3. Guru sebagai mediator dan fasilitator berfungsi untuk memperagakan suatu media atau alat pembelajaran yang mendukung materi sehingga siswa lebih merasa jelas. Oleh karena itu guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan pembelajaran. 4. Guru sebagai evaluator berfungsi untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Oleh karena itu guru harus melaksanakan evaluasi pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan untuk mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Sebagai wujud nyata dari guru untuk meningkatkan kompetensi pribadi yang menunjang terhadap peningkatan peran dan fungsi guru tersebut, maka usaha-usaha konkrit yang dapat dilakukan antara lain: (1) guru sebagai demonstrator: mengetahui kurikulum pembelajaran secara keseluruhan, membaca dan mempelajari materi yang akan diajarkan, melatih diri di depan cermin atau rekan sejawat mengenai cara menyampaikan materi yang baik serta mengetahui dan mempelajari cara memperagakan hal-hal yang diajarkannya secara didaktis, (2) guru sebagai pengelola kelas: mengetahui dan memahami aspek-aspek yang berhubungan dengan psikologis siswa, mengetahui latar belakang, sifat, sikap, perilaku dan kemauan siswa yang berhubungan dengan pembelajaran serta mengetahui cara-cara memberikan sanksi dan memotivasi siswa yang diarahkan kepada tujuan pembelajaran, (3) guru sebagai mediator dan fasilitator: mengetahui, memahami dan berketerampilan dalam menggunakan media pengajaran serta mampu berpikir kritis untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran bagi siswa dan (4) guru sebagai evaluator : mampu menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, menilai diri sendiri (self evaluation) untuk mengukur keberhasilan dalam menyampaikan materi pelajaran atau melalui rekan sejawat serta mampu melakukan penilaian terhadap hasil prestasi belajar siswa, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekurangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Semua kegiatan tersebut dapat diperoleh guru dalam bentuk wadah pembinaan profesional, pendidikan dan pelatihan serta peningkatan kompetensi secara pribadi atau pendidikan lanjutan. Selanjutnya setelah guru memiliki kemampuan profesional yang menunjang terhadap peran dan fungsinya, maka strategi yang dapat dilakukan sehubungan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan antara lain: pelaksanaan pembelajaran lebih mengaktifkan belajar siswa, perhatian menyeluruh terhadap semua siswa, memahami perbedaan karakter setiap siswa (aspek psikologisnya), memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan melaksanakan evaluasi secara keseluruhan terhadap hasil belajar siswa. Mengingat begitu pentingnya peran dan fungsi guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan terutama dalam pelaksanaan pembelajaran sudah selayaknyalah apabila kemampuanya ditingkatkan, dibina dengan baik dan secara kontinyu, sehingga benar-benar memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan profesinya. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki beberapa syarat yaitu tertentu, sebagaimana yang dikemukakan Hamalik (2011:76), yaitu: 1. Persyaratan fisik, yaitu kesehatan jasmani yang artinya seorang tenaga kependidikan harus berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular yang membahayakan; 2. Persyaratan psychis, yaitu sehat rohani yang artinya tidak mengalami gangguan jiwa ataupun kelainan; 3. Persyaratan mental, yaitu memiliki sikap mental yang baik terhadap profesi kependidikan, mencintai dan mengabdi serta memiliki dedikasi yang tinggi pada tugas dan jabatannya. 4. Persyaratan moral, yaitu memiliki budi pekerti yang luhur dan memiliki sikap susila yang tinggi; serta 5. Persyaratan intelektual, yaitu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan, yang memberikan bekal guna menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik. Dengan demikian syarat-syarat tersebut dapat ditelaah bahwa syarat yang terakhir yang bersifat khusus dan hanya dilakukan secara khusus pula. Selanjutnya untuk merealisasikan peningkatan mutu oleh guru berdasarkan peran, fungsi dan tanggung jawabnya tentunya guru akan dihadapkan terhadap sejumlah permasalahan antara lain: karakteristik siswa yang berbeda, media pembelajaran yang relatif terbatas, kurangnya pemahaman terhadap aspek psikologis dan latar belakang siswa serta kurangnya koordinasi antara guru dengan orang tua siswa. Oleh karena itu dengan adanya permasalahan tersebut akan menyebabkan guru tidak optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan, sehingga guru perlu bekerja sama dengan kepala sekolah dan masyarakat. PEMBAHASAN Permasalahan yang berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang upaya yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada guru yang mengikuti studi lanjutan pada Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang menunjang keilmuan dan pengembangan karier, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah upaya yang dilakukan adalah pembinaan dari kepala sekolah maupun pengawas sekolah, mengharuskan aktif dalam organisasi keprofesian, mengikuti kegiatan pendidikan dan penataran serta pemberian motivasi dan disiplin dari kepala sekolah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap upaya yang dilakukan adalah pembinaan supervisi yang kontinyu dari kepala sekolah dan pengawas, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran upaya yang dilakukan adalah guru melakukan evaluasi terhadap seluruh pembelajaran dan berkonsultasi dengan guru lainnya, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu upaya yang dilakukan adalah konsultasi dan kerjasama dengan orang tua siswa, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi guru dengan fasilitas pendidikan selengkap mungkin dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru upaya yang dilakukan adalah melakukan kegiatan percobaan dalam bidang pengajaran dan mengharuskan guru untuk berusaha sendiri memperkaya pengetahuan melalui berbagai informasi yang sangat bermanfaat bagi kemajuannya. Jika digambarkan, maka pola peran guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran adalah sebagai berikut. Gambar 1 Pola Peran Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Berdasarkan gambar tersebut dapat ditelaah bahwa untuk mencapai mutu pembelajaran terlebih dahulu guru harus membekali diri dengan sejumlah kompetensi dalam bidang pengajaran baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun bantuan kepala sekolah. Kegiatan pembekalan tersebut dilakukan secara kontinyu seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga pada akhirnya akan membentuk sikap lebih profesional dari guru itu sendiri. Agar kegiatan pembekalan lebih efektif langkah yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru serta kebutuhannya sehubungan dengan pelaksanaan tugas mengajar di sekolah. Kegiatan analisis ini penting dilakukan, sehingga proses pembekalan lebih berarti dan sesuai dengan kebutuhan guru. Jika sikap profesional telah dimiliki, maka secara otomatis mutu pembelajaran akan dicapai secara optimal yang ditandai oleh prestasi belajar siswa meningkat, lulusan mampu bersaing dengan sekolah lain dan presentase lulusan banyak diterima di sekolah unggulan. PENUTUP Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya agar berguna baik untuk kehidupannya sendiri maupun lingkungannya. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Peranan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran menempati posisi yang secara langsung sangat menentukan keberhasilannya, mengingat guru sebagai figur yang secara langsung terlibat dalam pembelajaran di dalam kelas. Peranan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat diidentifikasi dari perilaku guru sebagai fasilitator, demonstrator, pengelola kelas, mediator dan evaluator. Kesemua peran tersebut membutuhkan lagi usaha yang lebih konkrit dan langsung menyentuh terhadap kebutuhan peserta didik agar mutu pembelajaran lebih bermutu. Permasalahan-permasalahan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru. Setiap permasalahan tersebut dilakukan upaya pemecahannya yang sekiranya mampu dilakukan oleh guru maupun pihak lain di sekolah. Beberapa saran yang dapat diberikan sehubungan dengan peranan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran adalah: agar lebih berhasil dalam meningkatkan mutu PBM, sehingga tercapai prestasi belajar siswa yang memuaskan hendaknya guru dalam melaksanakan tugas mengajar disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan perkembangan siswa dengan tetap mengacu kepada kurikulum yang telah ditetapkan, agar siswa belajar lebih serius dan memiliki perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran yang diberikan, hendaknya guru mampu mengelola kelas secara efektif dan untuk mencegah terjadinya prestasi belajar siswa yang jelek, hendaknya guru dapat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran dan membantu mengatasi kesulitan dalam belajarnya, misalnya dengan mengadakan pengajaran remidial atau memberikan kesmepatan kepada siswa yang memiliki nilai jelek untuk memperbaikinya. DAFTAR PUSTAKA Hamalik. 2011. Profesionalisasi Tenaga Kependidikan. Bandung: Angkasa. Kemendikbud. 2014. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Kemendikbud. Usman. 2014. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Angkasa. Zen. 2010. Peranan Guru dalam Pembelajaran. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar