Senin, 08 Desember 2014

SEMBILAN CARA UNIK DALAM MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS UNTUK PARA GURU

SEMBILAN CARA UNIK DALAM MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS UNTUK PARA GURU

Oleh: Mampuono, S.Pd., M.Kom
Widyaiswara LPMP Jawa Tengah
ABSTRAK
Bagi orang Indonesia, belajar bahasa Inggris tampaknya bukanlah suatu perkara yang mudah. Realitanya, orang masih harus bersusah-payah ketika berkomunikasi dalam bahasa tersebut walaupun banyak dari mereka yang yang sudah mempelajari bahasa internasional ini dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Bisa dilbuktikan bahwa bahasa ini sudah dipelajari terus menerus oleh para siswa Indonesia, umumnya selama enam tahun, yaitu tiga tahun di SMP dan tiga tahun di SMA, , namun hasilnya lebih sering mengecewakan daripada sebaliknya. Mereka masih sulit mengimplementasikan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari walaupun faktanya mereka minimal memperoleh pembelajaran bahasa Inggris empat jam pelajaran seminggu di SMP dan SMA. Penulis termasuk satu dari sekian banyak orang Indonesia yang mengalami hal tersebut sekian puluh tahun yang lalu, tetapi pengalaman di lapangan membawa penulis kepada sembilan cara yang unik tetapi efektif untuk mempelajari bahasa Inggris. Cara ini sangat berguna bagi guru karena guru harus banyak belajar hal-hal yang baru dari sumbernya langsung, yaitu yang berbahasa Inggris. Dengan demikian para guru pengetahuannya selalu up to date.

PENDAHULUAN
Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Kemampuan berbahasa Inggris dapat menjadi aspek yang sangat penting bagi kehidupan kita di berbagai bidang, mulai dari bisnis sampai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ter-up date. Bahkan dengan menguasai bahasa Inggris dengan baik seorang penutur asli bahasa Inggris bisa mendapatkan keuntungan dari peningkatan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan menulis. Ada banyak cara yang dapat diakses untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris secara efektif tanpa mengambil kelas formal karena jika kita hanya mengkitalkan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, hasilnya belum tentu memuaskan.
Adalah sebuah keniscayaan bahwa belajar bahasa Inggris bagi orang Indonesia tampaknya bukanlah perkara mudah. Terbukti, banyak sekali orang yang sudah mempelajari bahasa internasional ini dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, tetapi realitanya mereka masih harus bersusah-payah ketika berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Bayangkan, selama enam tahun, yaitu tiga tahun di SMP dan tiga tahun di SMA, bahasa ini dipelajari terus menerus oleh para siswa Indonesia, namun hasilnya sering tidak sesuai harapan. Para siswa ini minimal memperoleh pembelajaran bahasa Inggris empat jam pelajaran seminggu, nyatanya mereka cenderung masih sulit mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
tahun yang lalu (1989) penulis termasuk satu dari sekian banyak orang Indonesia yang mengalami hal tersebut. Bahkan penulis belajar bahasa Inggris bukan hanya selama enam tahun, tetapi tujuh tahun karena ada tambahan satu tahun (dua semester pada tahun pertama) ketika kuliah di jurusan pendidikan kimia di IKIP Semarang, tepatnya dari tahun 1989-1990. Sampai semester sembilan penulis masih “gagu” dalam urusan komunikasi dalam bahasa yang satu ini. Namun alhamdulillah pada tahun 1994 ketika penulis sedang menjalankan program KKN di kabupaten Wonosobo, penulis di tempatkan di dukuh Klesman, desa Blederan, kecamatan Mojotengah. Penulis berada satu desa dengan seorang mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang cakap yang bernama Silakhul Muttaqien. Pertemuan dan interaksi intensif dengan mahasiswa yang asli kelahiran desa Kangkung, kecamatan Mranggen Demak tersebut membuat penulis terinspirasi untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris agar kelak bisa jalan-jalan ke luar negeri. Kritikan mahasiswa tersebut tentang kemampuan bahasa Inggris penulis yang masih sangat perlu ditingkatkan membuat penulis sadar diri dan bangkit dari keterpurukan. Waktu itu penulis bepikir, jika anak TK atau gelkitangan di Amerika yang tidak sekolah saja bisa berbahasa Inggris, tentu penulis sebagai “anak sekolahan” harusnya lebih bisa dari mereka. Dan hipothesis penulis tersebut ternyata berhasil penulis buktikan sekian tahun kemudian. Tentu saja diperlukn langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada pembuktian hipothesis tersebut. Berikut ini akan diuraikan sembilan langkah yang dapat dikatakan unik yang sudah penulis tempuh dalam belajar bahasa ratu Elizabeth tersebut.
CARA UNIK MENGUASAI BAHASA INGGRIS.
Ada berbagai cara yang ditempuh guru untuk menguasai bahasa Inggris. Berikut ini adalah sembilan cara unik menguasai komunikasi dalam bahasa inggris yang bila diimplementasikan secara kontinyu akan menjadikan guru lebih mahir berbahasa Inggris.
1. Think in English
Bagaimana memberdayakan pikiran kita dalam belajar bahasa Inggris? Pertama, kita perlu mulai berpikir dan mengidentifikasi motivasi kita dengan menanyakan pada diri sendiri mengapa ingin belajar bahasa Inggris. Dengan memahami motivasi, apakah itu untuk membantu memenuhi syarat untuk pekerjaan yang lebih baik, mempelajari ilmu-ilmu ter-update dengan lebih mudah, atau untuk berkomunikasi dengan seseorang yang kita kenal, akan membantu kita tetap tujuan kita belajar bahasa Inggris. Pertama kali yang harus kita pikirkan adalah bahwa bahwa bahasa Inggris itu mudah. Hal itu sangat membantu memotivasi kita untuk lebih meningkatkan diri. Jika anak kecil di London atau gelkitangan di Boston yang sama-sama tidak “makan” sekolah saja bisa berbahasa Inggris dengan lancar, kita yang sudah sekolah mestinya lebih bisa. Apakah English sesulit operasi otak atau mekanika kuantum? Ternyata tidak. Itu hanya bahasa asing, sesuatu yang diucapkan dengan mudah oleh jutaan orang setiap hari tanpa berpikir. Itu seperti kita berbahasa Indonesia. Benar-benar penutur bahasa Inggris memperlakukan bahasa Inggris sebagai hal yang sekunder, bukan sesuatu yang dipikirkan, dan tentu saja kita tidak perlu khawatir, itu hanya keterampilan lain, seperti menyapu bersepeda atau mengendarai mobil. Ini adalah sesuatu yang dapat kita capai dengan mudah. Yang dibutuhkan adalah cara berpikir yang benar dan sedikit usaha. Mari kita mulai berpikir bahwa bahasa Inggris itu mudah.
Kedua, ketika pada umumnya orang lain memulai belajar bahasa asing dengan listening, kita bisa kembali ke awal dan memulainya dengan thinking. Ya, ini seperti pepatah, “mulutmu harimaumu!” dalam bentuk lain. Pikir baik-baik sebelum bicara! Diperlukan sedikit tambahan energi untuk mencoba cara ini. Kita harus berusaha keras merombak semua pola pikir yang ada di dalam otak penulis ke dalam bahasa Inggris. Ibaratnya ada dua buah folder, yaitu folder bahasa Indonesia dan folder bahasa Inggris di dalam otak kita. Maka ketika sedang terfokus belajar bahasa Inggris, yang diaktifkan adalah folder bahasa Inggris. Contoh: Ketika kita mendengar orang berbicara atau kita sendiri berbicara, di dalam hati kita menterjemahkan pembicaraan itu ke dalam bahasa Inggris sebisanya. Jika suatu ketika kita tidak tahu tahu arti kata dalam pembicaraan itu, kita akan mencatatnya baik-baik di dalam ingatan, selanjutnya usahakan kalau ada kesempatan kita membuka kamus untuk mencari artinya. Ketika mengalami atau melihat suasana tertentu, atau ketika membaca buku, koran, bahkan membaca bacaan sholat, semuanya kata dan kalimat coba diartikan dalam bahasa Inggris. Kebiasaan itu lambat laun memperkaya kosa kata kita dalam bahasa Inggris. Pengalaman penulis, hal-hal kecil yang penulis lakukan sehari-hari juga penulis cari terjemahannya di dalam kamus yang penulis miliki.
Misalnya:
- Kentut : fart
- Terkentut : Let fart by accident
- Berkacak pingg
ang : akimbo
- keplengkang
(Jawa) : straddled
- Kejlungub
(Jawa) : fall headfirst
- gragapan (Jawa) : grapple,
-
menungging : topsy-turvy
-
terjungkal : upside down
-
tergeletak : sprawl
- telentang = recumbent
- dengan telentang= recumbently
- mengkurep (Jawa) = prone
- miring(Jawa) = tilt, sideways
- merot(Jawa) = asymmetrical
- tonggos, prongos = crooked
- nylekutar, njepat (Jawa) = bouncy, curl up
dll.

2. Listening All the Time
Tiada hari tanpa listening. Hal termudah yang dilakukan penulis saat itu adalah memanfaatkan piranti elektronik paling umum, yaitu TV dan radio. Menonton atau mendengarkan media dalam bahasa Inggris adalah cara untuk meningkatkan pemahaman bahasa Inggris tanpa merasa seperti kita belajar. Menonton film Inggris yang populer dan mendengarkan musik Inggris Pada tahun-tahun 1995-an penulis selalu menyempatkan diri melakukan aktivitas listening terhadap film barat yang diputar di TVRI setiap malam (adanya saat itu hanya TVRI) selama dua jam setiap malam. Setiap jam 21.30 setelah siaran Dunia Dalam Berita biasanya di TVRI diputar film-film barat. Anehnya setelah skian lama melakukan kegiatan ini, seringkali penulis bermimpi didatangi oleh para aktor yang ada di film-film tersebut dan berkomunikasi dengan mereka. Kegiatan listening penulis bermula dari pemahaman yang sangat minim, tetapi karena penulis rutinkan maka kemampuan penulis lambat laun meningkat pesat. Penulis bahkan juga mulai menirukan sepersis mungkin apa yang diucapkan para aktor di film-film tersebut. Dengan bangga penulis bisa menyebut bahwa bintang film serial HUNTER adalah salah satu guru native speaker penulis karena dia salah satu yang sering berkunjung ke dalam mimpi penulis. Di samping itu penulis sempatkan juga melakukan aktivitas listening terhadap siaran radio luar negeri selama dua jam setiap pagi. Hampir setiap hari, mulai jam 04.00-06.00 WIB penulis mendengarkan siaran BBC, Radio Australia, dan VOA dalam siaran gelombang SW2 dari radio bekas yang penulis beli seharga 7500 rupiah di PM (maaf, PM = Pasar Maling, nama untuk pasar barang loak di Semarang, sekarang sudah lama digusur). Lama-lama karena kegiatan itu jadi kebiasaan, seiring dengan peningkatan kemampuan listening penulis akhirnya penulis mulai paham dengan sendirinya materi yang ada di dalam siaran radio tersebut.
3. Reading All the Time
Saat kita membaca bahasa Inggris itu berarti bahwa kita menggunakan otak dengan cara yang sangat aktif. Membaca adalah proses yang sangat aktif. Ketika membaca teks, kita dapat secara kritis membayangkan adegan di kepala kita, memahami dengan jelas apa yang penulis coba katakan atau setuju dan tidak setuju dengan penulis.
Ada banyak keuntungan yang terkait dengan membaca, salah satunya adalah belajar kosakata dalam konteks. Kita biasanya akan menemukan kata-kata baru ketika membaca. Jika dalam membaca ditemukan terlalu banyak kata baru, itu artinya tingkat bacaan terlalu tinggi, dan kita harus beralih membaca sesuatu yang sederhana. Tapi jika ada, katakanlah, maksimal lima kata baru per halaman, kita akan belajar kosa kata ini dengan mudah. Kita sering kali tidak perlu repot-repot membuka kamus karena kita bisa menebak makna dari sisa teks (dari konteks). Kita tidak hanya belajar kata-kata baru, namun kita juga akan terbiasa melihat kata-kata tersebut digunakan secara alami.
Membaca juga merupakan aktivitas mencermati sebuah model untuk menulis. Ketika kita membaca, bacaan itu memberikan contoh yang baik untuk menulis. Teks yang kita baca menunjukkan struktur dan ekspresi yang dapat kita gunakan ketika menulis. Selain itu, dengan membaca kita bisa mencermati stuktur bahasa Inggris yang benar. Ketika orang menulis, mereka biasanya menggunakan struktur gramatikal bahasa Inggris yang tepat. Hal ini tidak selalu benar ketika orang berbicara. Jadi, dengan membaca kita melihat dan belajar tata bahasa dalam bahasa Inggris yang alami.
Kita dapat membaca secepat atau selambat yang kita inginkan. Kita dapat membaca sepuluh halaman dalam 30 menit, atau mengambil satu jam untuk mengeksplorasi hanya satu halaman. Tidak masalah. Pilihan ada di tangan kita. Kita tidak dapat dengan mudah melakukan hal ini ketika berbicara atau mendengarkan. Ini adalah salah satu keuntungan besar dari membaca karena orang yang berbeda bekerja pada kecepatan yang berbeda.
Untuk melengkapi dan memperbanyak kosakata bahasa Inggris yang penulis miliki, penulis mulai membaca apa saja asal artikelnya dalam bahasa Inggris. Mulai dari buku kimia terbitan luar negeri semacam Organic Chemistry yang setebal 800 halaman, novel-novel picisan, cerita rakyat, koran The Jakarta Post bekas, sampai majalah Hello bekas yang penulis beli Rp.1000 dapat tiga. Penulis baca semua sambil sangu kamus. Pikir penulis kalau penulis "khatam" satu majalah, insya Allah penulis akan mudah mengkhatamkan yang lain karena bahasanya kurang lebih sama. Dan kenyataannya memang benar-benar demikian.
4. Speaking All The Time
Salah satu aspek yang paling penting untuk mendapatkan kemahiran dalam bahasa apapun adalah dengan berbicara secara teratur. Belajar-sendiri dapat meningkatkan membaca dan pemahaman keterampilan, tetapi berinteraksi dengan penutur bahasa Inggris lainnya sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dunia nyata dan penggunaan praktis bahasa Inggris. Jika kita tinggal di sebuah lingkungan bilingual, misalnya sekolah internasional, pondok pesantren, atau kampung Inggris sebagaimana di Kota Pare Kabupaten Kediri, kita bisa aktif meningkatkan kemampuan kita dengan mengimplementasikan kegiatan setiap hari dengan berbicara hanya dalam bahasa Inggris. Berteman berbahasa Inggris, mungkin mereka yang tertarik untuk belajar bahasa yang berbeda yang kita berbicara, juga dapat membantu meningkatkan kemampuan kita . Tinggal di sebuah negara berbahasa Inggris akan membantu membuat kita tenggelam dalam bahasa dan meningkatkan berbahasa Inggris, kita harus punya partner semua aspek pengetahuan bahasa Inggris kita. Namun, bagaimana jika semua itu tidak kita miliki?
Pengalaman ini pernah penulis alami. Ajaran yang penulis peroleh adalah, jika ingin sukses berbahasa Inggris, kita harus punya partner. Dan kenyataannya penulis tidak memiliki partner sama sekali. Tetapi jangan kehilangan akal, kita bisa membuat partner imajinasi. Kita bisa tetap berbicara dalam bahasa Inggris dengan teman bayangan kita tersebut. Mulailah menjadi getol atau bahkan "gila" dengan selalu berbicara dalam bahasa Inggris di mana ada kesempatan, terutama sekali ketika berada dalam perjalanan. Caranya? Penulis menutup helm cakil (helm untuk pembalap) penulis, lalu mulai "ngedumel" dan "ndremimil" dalam bahasa Inggris. Yang penulis ucapkan adalah dialog-dialog dalam film atau radio dan penulis ulang-ulang sepersis mungkin (hingga akhirnya penulis menemukan berbagai metode gila cara belajar English yang sukses). Siapa partnernya? Siapa lagi kalau bukan para tokoh imaginer di dalam film atau radio?
Untuk membuat cara berbicara bahasa Inggris kita lebih fasih, terurutama dalam mengucapkan konsonan ledak seperti pada bunyi huruf c, d, k, dan p kita dapat menggunakan cara khusus. Kalau orang lain memaksa bahasa Inggris ke dalam aksen bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, penulis justeru sebaliknya. Penulis berbicara dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia dengan logat asing. Kita menamainya logat Asindo (asing-Indonesia) sebagaimana yang dilakukan olah artis Cinta Laura atau pebola Christian Gonzales. Pendeknya kalau mereka asli sedangkan penulis memang sengaja meniru agar nantinya pronunciation penulis lebih baik.
Sampai saat ini, karena penulis banyak bepergian dengan mengendarai mobil, maka biasanya penulis menyetel siaran radio dalam bahasa Indonesia. Lantas, ketika penyiarnya mengucapkan kalimat-kalimat siarannya dalam bahasa Indonesia, penulis cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Cara ini sangat efektif untuk memelihara kemampuan bahasa Inggris penulis. Terbukti ketika bulan April 2008 penulis harus berpidato di hadapan 200 orang guru dari 22 negara karena sempat menjadi salah satu yang terbaik dalam event Microsoft Asia Pacific Innovative Teacher Competition, banyak guru dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia menyatakan apresiasinya terhadap pidato bahasa Inggris penulis. Demikian juga pada bulan Oktober 2013 lalu ketik penulis harus berpidato di hadapan para pejabat Indonesia, duta besar, rektor, dan tokoh-tokoh pendidikan dari Finlandia semisal Prof.Dr.Pashi Sahlberg (Penulis buku best seller, Finnish Lesson), penulis banyak mendapat apresiasi sebagai great presenter dari mereka karena kelancaran bahasa Inggris penulis.
DSC02795.JPG
Gambar 1: Penulis menerima penghargaan sebagai salah satu juara guru Innovative tingkat Asia Pasific dari Director of Unesco (April 2008).
https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1383011_10202154334690289_846934532_n.jpg
Gambar 2: Berbicara di depan duta besar dan para tokoh pendidikan dari negara dengan sistem pendidikan terbaik, Finlandia.
5. Writing All the Time
Kemampuan tertinggi seseorang dalam menguasai bahasa terlihat dari kemampuannya menulis, maka tidak salah jika porsi latihan tulis-menulis dalam bahasa Inggris juga perlu ditingkatkan. Setiap saat jika tersedia waktu kita dapat selalu menuliskan even-even yang dialami ke dalam lembaran-lembaran kertas. Sebagai misal, ketika seorang guru sedang mengawasi ulangan atau ujian nasional, maka tangan guru tersebut diharapkan tidak pernah berhenti mencorat-coretkan ide dalam bahasa Inggris. Usaha terebut tidak hanya berguna untuk menghilangkan kejenuhan dan menghabiskan waktu menunggu, tetapi juga memperbaiki ketrampilan writing para pembelajar bahasa Inggris. Bahkan ungkapan hati terdalam terhadap sesuatu atau seseorang yang dapat digoreskan dalam tulisan berbahasa Inggris. Bagi yang masih membujang, ada kalanya ungkapan hati sebaiknya terkirim dalam bahasa Inggris, baik melalui surat, email, Blackberry message, sms, atau media sosial, meskipun dengan resiko memaksa penerimanya sering membuka kamus atau dibiarkan sama sekali.
kita dapat memotivasi diri dengan harapan dan impian masa depan lebih baik dengan terus-men erus emnulis dalam bahasa Inggri. Contoh, saking semangatnya menulis dalam bahasa Inggris, thesis S-2 penulis di jurusan Gametech UDINUS ketika menjadi mahasiswa Beasiswa Unggulan Kemdikbud tahun 2007-2010 juga penulis tulis dalam bahasa Inggris. Ringkasn thesis tersebut pernah masuk ke dalam proceeding di sebuah seminar internasional (ISODEL = International Seminar of Open Distance Learning) yang dihadiri peserta dari 18 negaradi seluruh dunia yang penulis juga menjadi salah satu pembicaranya. Hingga saat ini, kebiasaan menulis dalam bahasa Inggris penulis salurkan dengan berkomunikasi dengan teman-teman guru dari negara lain ataupun dengan memasuki sebuah dunia virtual yang disebut Second Life, di mana penulis yang diwakili avatar penulis bisa berkeliling dunia dan bertemu berbagai karakter avatar dari berbagai bangsa dan berkomunikasi dengan mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar