Kamis, 06 Februari 2014

SEKOLAH FORMAL VS BIMBEL


RAIH nilai yang baik tentu jadi prestasi tersendiri yang membanggakan bagi pelajar. Untuk meraih target itu, pelajar tidak hanya belajar di sekolah. Para pelajar juga mengikuti program belajar yang ditawarkan di berbagai lembaga bimbingan belajar (bimbel), selain juga, mengikuti jam tambahan belajar di sekolah.
Seperti yang dilakukan Uliya. Dia merasa ada yang kurang ketika belajar sendiri di rumah. Sehingga dia memilih untuk mengikuti satu kelas di satu bimbingan belajar. "Karena kalau belajar di rumah sendiri kadang ada yang ditanyakan, lebih enak bimbel, sekalian ada yang mengajari kalau ada yang mau ditanyakan," ujar dia.
Sejak November lalu, Uliya meminta orangtuanya untuk mendaftar sebagai murid bimbel. Keinginannya itu berbuah manis. Orangtua langsung menyetujui usulnya. "Kata mama, daripada belajar sendiri malah ngantuk," kata dia sembari tertawa.

Selain bisa diajari secara langsung oleh tentor, dia merasakan manfaat yang lain dari bimbel. Uliya senang bisa bertemu teman-temannya. "Jadi bisa belajar bareng, lebih asyik," aku siswi SMA Negeri 5 Semarang itu.
Dalam satu kelasnya, ada enam orang dari beberapa sekolah. Dia tidak hanya mendapatkan teman satu sekolah. "Saya tidak merasa terganggu, justru ramai karena kami tetap fokus bahas pelajaran," papar Uliya.
Dari program bimbel yang diikuti, dia ingin mendapatkan nilai yang bagus. Baik di sekolah maupun di rumah, dia sudah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mempelajari materi yang disiapkan untuk ujian. "Saya kelas 12 dan ingin dapat nilai ujian yang baik serta berharap bisa masuk ke perguruan tinggi yang saya inginkan," terang dia.
Siswi SMA lain, Firda, menyatakan hal yang serupa. Dia memilih mengikuti les di bimbel. Namun, ada beberapa karakteristik kelas yang dia ajukan. "Saya tidak mau ikut bimbel yang dalam satu kelas ada lebih dari tiga murid nanti terlalu ramai," papar dia.
Dalam satu kelas, dia belajar dengan teman-teman satu sekolahnya. Bahkan bisa dikatakan sebagai teman yang sudah akrab baik di sekolah maupun luar sekolah. Ada alasan tersendiri kenapa dia mengambil langkah itu. "Karena kami sudah akrab sehingga tidak kikuk lagi kalau ada kesulitan dan mau bertanya kepada guru bimbel," ucap Firda.
Hal yang berbeda diungkapkan Aulia Yuman. Dia memang pernah terdaftar sebagai murid satu bimbel. Namun sekarang dia tidak lagi melanjutkannya. "Saya lebih memilih les privat dengan seorang guru," aku dara yang mengenakan jilbab itu.
Suasana yang privat lebih dia butuhkan untuk mendukung kejernihan otaknya dalam berpikir. Dia merasa tidak kondusif jika harus belajar di satu ruangan yang tidak berbeda dengan sekolah. "Memang muridnya lebih sedikit daripada di sekolah, tetapi sama saja gurunya tidak bisa fokus dengan satu murid," beber Yuman.
Dalam sepekan, dia didatangi seorang guru sebanyak tiga kali pertemuan. Durasi sekali pertemuannya selama 90 menit. Rentang waktu tersebut diakuinya sebagai durasi yang tepat untuk fokus belajar satu pelajaran. "Mulai dari pembahasan materi, latihan mengerjakan soal, dan membahas jawaban soalnya," tutur siswi SMA Nassima Semarang itu.
Terpisah, seorang guru bimbingan belajar, Indah, melihat perbedaan dari murid-muridnya. Memang beberapa siswa SMA yang dia ajari memilih kelas privat, satu murid dan satu guru. Namun, ada pula yang mengajak teman-teman satu grup untuk belajar bersama selain di sekolah.
"Kalau menurut saya karena tingkat konsentrasi yang berbeda antara satu anak dengan anak lainnya," jelas dia.
Indah menambahkan, ada siswa yang bisa lebih fokus belajar secara privat. Sementara siswa lain, memilih belajar bersama teman-temannya. Manfaat lain dari belajar bersama lebih dari satu orang teman adalah bisa tercipta suasana diskusi yang kondusif. "Bisa diskusi banyak hal meski hanya dari satu tema," kata dia.
Dia menambahkan, program belajar yang ditawarkan bimbel lebih terarah daripada guru privat lepas. Artinya, guru yang datang ke rumah dan bukan dari satu bimbel hanya mengajar materi yang diinginkan murid.
"Biasanya hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tidak memberikan materi lain. Itu berlaku untuk murid yang tidak sedang mempersiapkan ujian nasional," terang Indah. (Tribun Jateng cetak/lin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar