Selasa, 07 Januari 2014

KARYA TULIS ASAH KEMAMPUAN GURU

BANYUMAS, suaramerdeka.com - Keharusan membuat sebuah karya tulis ilmiah (KTI) yang selama ini menjadi salah syarat bagi guru yang ingin naik pangkat/golongan, dinilai memberikan dampak positif bagi guru.  Pasalnya dengan membuat karya ilmiah, kemampuan guru akan terus diasah.
Drs Sri Harmianto MPd, Pengamat Pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Senin (6/1), mengatakan kendati karya tulis ilmiah tidak termasuk salah satu tugas pokok guru, tetapi kebijakan itu justru dapat mendorong guru untuk terus mengembangkan kemampuannya.

''Keberadaan karya tulis memiliki peran cukup penting bagi guru, terutama menyangkut empat kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.  Empat kompetensi itu, antara lain pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian,'' terangnya.
Oleh karena itu, dia berpendapat, kebijakan pemerintah (Kemendikbud) yang akan menghapus syarat karya tulis ilmiah dalam kenaikan pangkat/golongan guru perlu ditinjau kembali.
''Sebisa mungkin jangan dihapus, sebab keberadaan KTI penting bagi guru, sebab KTI dapat digunakan guru dalam meningkatkan profesionalisme dalam kegiatan pembelajaran,'' tambah dia.
Bahkan, menurut dia, guna menunjang kemampuan guru dalam pembelajaran, semestinya guru tidak hanya diwajibkan membuat karya tulis, tetapi juga melakukan penelitian yang dapat menghasilkan temuan baru.
''Apalagi ini sesuai dengan penerapan kurikulum 2013 yang lebih mengedepankan pendekatan scientific,'' jelasnya.
Dia menambahkan, supaya hasil karya tulis ilmiah yang dibuat guru lebih bermanfaat, sebaiknya perlu dipresentasikan dalam forum MGMP.  Harapannya para guru dapat berbagi pengalaman lewat diskusi hasil penulisan tersebut.
Sementara Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Banyumas, Takdir Widagdo, mengatakan tugas seorang guru adalah mendidik, sehingga pembuatan karya tulis ilmiah/penelitian semestinya tidak perlu menjadi syarat dalam kenaikan pangkat/golongan guru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar