Senin, 04 Maret 2013

Menyelamatkan Bambu Peninggalan Sunan Kalijaga


 WARGA seputar obyek wisata Goa Kreo di Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, menggelar prosesi unik berkaitan pelestarian seni dan budaya di lingkungan mereka, Minggu (24/2). Prosesi unik yang baru sekali dilaksanakan itu mendapat perhatian ratusan pengunjung.
Warga dan tokoh masyarakat, kemarin, beramai ramai memindah pohon yang dianggap istimewa bernama bambu krincing menghindari tertelan genangan air proyek Waduk Jatibarang. Prosesi itu mendapat dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang,
sekaligus upaya promosi kunjungan wisatawan. ’’Pohon bambu krincing ini diyakini warisan Kanjeng Sunan Kalijaga yang tumbuh di tepi sungai bawah Goa Kreo. Lokasi tumbuhnya pohon akan tergenang air proyek waduk Jatibarang sehingga pohon yang ada harus diselamatkan,’’ tutur sesepuh warga Ki Kasmani (62). Prosesi dimulai sekitar pukul 08.00 dengan menuruni punggung bukit yang lumayan terjal di bawah Gunung Kreo.
Kabid Pembinaan Industri Pariwisata Disbudpar Giarsito Sapto Putratmo dan Kasmani memimpin prosesi bersama puluhan warga. Usai mencabut sembilan batang pohon bambu, rombongan bergerak naik bersiap melaksanakan prosesi inti. Prosesi inti yakni menanam kembali pohon bambu krincing di lokasi parkir pengunjung, dekat pintu menuju Goa Kreo. Prosesi ini terkesan sakral karena arak-arakan pembawa batangan pohon bambu disambut alunan gending karawitan, atraksi tari krincing, dan aksi pukul lesung hingga suguhan kesenian tradisional thek-thek.
Batangan pohon bambu diarak naik menggunakan ancak atau alat penandu terbuat dari bambu. Potensi Wisata Penanaman pohon diawali sesepuh masyarakat, kemudian Kadisbudpar Kota Semarang Nurjanah. Menurut Nurjanah, pihaknya sekaligus akan membuat buku dan katalog wisata sehubungan aktivitas kesenian dan budaya di Goa Kreo dan sekitarnya. Goa Kreo, katanya, menyuguhkan pesona pariwisata kota. Pihaknya akan berupaya penuh menggarap potensi wisata di lokasi itu termasuk mendukung program Visit Jateng 2013. Sesuai keyakinan warga, obyek wisata Goa Kreo berkaitan dengan kisah perjalanan Sunan Kalijaga mencari pohon jati untuk tiang utama Masjid Agung Demak.
Kalijaga berjalan menyusuri wilayah Demak dan Kota Semarang setelah mendapat titah majelis Walisanga di Kerajaan Demak Bintoro. Putra Adipati Tuban Wilwatikta itu menyusuri sejumlah tempat mencari kayu jati berkualitas sampai akhirnya beristirahat di Goa Kreo. Sebelum singgah di goa, Kalijaga menemukan pohon jati berukuran besar namun konon bisa berpindah tempat saat akan ditebang. Kelak lokasi ditemukannya pohon disebut kawasan Jatingaleh di Semarang atas. Berturut-turut perjalanan mencari pohon yang akan dipakai tiang masjid agung melintasi Desa Delik, Kalipancur, dan Karangkumpul.
Kalijaga saat beristirahat di Goa Kreo sekaligus ditemui empat kera berwarna kuning, putih, hitam, dan cokelat. Konon, kera itu sekaligus melambangkan sifat manusia yang kerap disebut mutmainah, supiyah, aluamah dan amarah. Kawanan kera yang sempat melakukan sembah bekti di hadapan ulama besar itu menyatakan keinginan membantu membawa pohon menuju Bintoro.
Namun mereka justru diminta pemilik Perdikan Kadilangu Demak tersebut supaya menjaga kawasan Goa Kreo. Seiring itu, penamaan bambu krincing muncul menjadi kisah. Bermula saat Kanjeng Sunan usai mengajar ilmu keislaman dan bermaksud menyantap sate suguhan warga sekitar goa. Kejadian di luar nalar timbul ketika tusuk bambu yang dibuang mengeluarkan suara gemerincing. (Hari Santoso-43)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar