Sabtu, 09 Mei 2015

PROCEDURE TEXT

Tugas B.Inggris
FRIED RICE





HOW TO MAKE FRIED RICE
> Utensils > Materials
- Wok - Rice - Soy sauce
- Spatula - Chili - Carrot
- Plate - Onion - Tomatoes
- Spoon - Garlic - Cabbage
- Fork - Salt - Cauliflower
- Knife - leek - Celery
- Cutting board - Meatballs - 2 eggs

> Step
>> Firs step, heat wok and pour oil into it. Then whisk the eggs an give some sait. Fry eggs until cooked, after that drain and chop eggs into small places.
>> Second step, wash chili, onion, garlic, carrots, tomatoes, cabbage, cauliflower, leeks and celery.
>> Third step, preparev rice. Then chop carrots and cabbage into small places. Cut meatballs into two places.
>> Four step, mashed chili, onion,garlic and salt into mortar. That heat wok and pour oil. Then put the mashed seasoning into it, add carrots meatballs. After the carrots and meatballs cooked, then put the rice and stir it.
>> Five step, serve the fried rice in plate, decorate as good as possible.
You can use leeks, celery and cauliflower for garnish.
# THANK YOU#







FRIED RICE
Meterial:
- 1 egg
- cucumber
- a plate of rice
- chicken meat
- 3 chilis
- crackers
- salt and pepper
- cooking oil to taste
- 3 cloves onion
- 3 cloves garlic

How to make it :
- frist,heat cooking oil in frying pan
- second,pour the ground garlic,onion,chilis,salt and pepper. Put the leek into the mixture and plate of rice.
- third,fry the chicken meat. Stir the mixture well.
- finally,serve fried rice on a plate with crackers and cucumber.
THANK YOU




"SPECIAL FRIED RICE"
material :
1) salt and pepper
2) a plate of rice
3) 1 egg
4) 1 leek
5) 2 cloves garlic
6) 3 cloves onion
7) cooking oil to taste
8) 2 chilis
9) chicken meat
10) crackers
11) cucumber

How to make it :
first, heat cooking oil in a frying pan.
second, pour the ground garlic,onion,chilis,salt and pepper. Put the leek into the mixture and a plate of rice.
third, fry the chicken meat. Stir the mixture well
finally, serve fried rice on a plate with crackers and cucumber
thank you



Rabu, 29 April 2015

Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Peningkatan Ketrampilan Membaca Pada Peserta Diklat Bahasa Inggris SMP Di LPMP Jawa Tengah ( Sebuah Studi Kasus)

Penerapan Pendekatan Saintifik untuk Peningkatan Ketrampilan Membaca Pada Peserta Diklat Bahasa Inggris SMP Di LPMP Jawa Tengah ( Sebuah Studi Kasus) ABSTRAK Tri Mulyani,M.Pd, Widyaiswara LPMP Jawa Tengah. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki sikap peserta diklat SMP bahasa Inggris di LPMP Jawa Tengah terhadap kemampuan membaca EFL menggunakan pendekatan saintifik dalam pemahaman bacaan. Obyek penelitian ini adalah 40 guru SMP peserta pendidikan dan pelatihan Bahasa Inggris. Mereka diobservasi metode Mind Mapping tentang pendekatan saintifik yang mereka laksanakan dengan yang menggunakan skala likert. Temuan menunjukkan sikap positif para peserta terhadap penggunaan pendekatan saintifik di kelas membaca. Kata Kunci: saintifik, ketrampilan membaca,peserta diklat Pendahuluan Membaca hal yang sangat berarti dan membutuhkan keterlibatan aktif pembaca , karena selama membaca teks mereka memiliki tujuan yang berbeda untuk dicapai ( Koda , 2005). Gambrell , Blok , dan Pressley ( 2002) menyatakan pemahaman sebagai bagian terpenting dari membaca. Membantu pembelajar untuk mengatasi teks rumit yang mereka hadapi adalah salah satu bagian penting dalam belajar mengajar kepada peserta pendidikan dan pelatihan bahasa Inggris. Di antara berbagai strategi yang diterapkan untuk meningkatkan pemahaman bacaan, peneliti menerapkan pendekatan saintifik. Metode saintifik merujuk pada teknik-teknik investigasi atas suatu atau beberapa fenomena atau gejala, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Untuk dapat disebut Saintifik, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode Saintifik umumnya memuat serangkaian aktivitas pengumpulan data melalui observasi atau ekperimen, mengolah informasi atau data, menganalisis, kemudian memformulasi, dan menguji hipotesi Permasalahan Hal yang dipermasalahkan pada penelitian ini adalah : Apakah dengan pendekatan saintifk dapat meningkatkan ketrampilan membaca pada peserta diklat Bahasa Inggris EFL SMP Di LPMP Jawa Tengah ?( sebuah studi kasus) Pembahasan Membaca Membaca , sebagai aspek penting dari literasi , dianggap sebagai interaksi antara pembaca dan teks ( Alderson & Urquhart , 1984). Di antara berbagai teknik dan keterampilan mengajar membaca , lima di antaranya diidentifikasi penting oleh Membaca Panel Nasional (2000). Mereka adalah : ( a) kesadaran fonemik, ( b ) phonics ,( c ) pemahaman ,( d ) kelancaran , dan ( e ) kosa kata. Dengan demikian , pemahaman memainkan peran penting sebagai kemampuan membaca peserta didik EFL dituntut untuk menguasai. Membaca pemahaman sangat penting dalam konteks EFL. Saintifik Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip-prinsip, atau kriteria Scientific. Proses pembelajaran disebut Scientific jika memenuhi kriteria seperti berikut ini. · Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. · Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis. · Mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. · Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu dengan yang lain dari substansi atau materi pembelajaran. · Mendorong dan menginspirasi peserta didik mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon substansi atau materi pembelajaran. · Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung -jawabkan. · Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana, jelas, dan menarik sistem penyajiannya. Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai non-Scientific yang meliputi intuisi, akal sehat, prasangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Kegiatan pembelajaran bahasa Inggris dengan pendekatan saintifik dapat dijelaskan seperti berikut. · Mengamati Kegiatan yang dilakukan pada tahapan ini yaitu kegiatan yang memaksimalkan pancaindra dengan cara melihat, mendengar, dan membaca, atau menonton. Yang diamati adalah “materi”berbentuk fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan dari teks yang didengar dan dibaca baik teks interpersonal, transaksional, teks funsional khusus, maupun teks fungsional, dalam bentuk bacaan, video, atau rekaman suara. Untukitu saat melakukan kegiatan pengamatan ini guru harus menyiapkanpanduan pengamatan berupa format tugas. Tahap mengamati bertujuan mengenalkan teks yang akan dipelajari. Untuk dapat mengenal dengan baik, peserta didik perlu mengamati banyak teks contoh, secara aktif, dalam kegiatan yang bervariasi,dan melibatkan penggunaan lebih dari satu indera. Fokus pengamatan adalah pada isi pesan, bukan pada teori tentang teks tersebut.Struktur teks dan unsur kebahasaan juga belum perlu dibahas dari aspek bentuknya.Untuk mempertajam pengamatan, peserta didik dapat diarahkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut. - Fungsi Sosial: Apa maksud atau fungsi sosial yang hendak dicapai? - Struktur Teks: Bagaimana bagian-bagian teks diurutkan secara logis dan runtut untuk mencapai maksud atau fungsi sosial teks? - Unsur Kebahasaan: Ungkapan, kosa kata, dan tata bahasa apa yang dipilih untuk mencapaimaksud dan fungsi sosial teks dan bagaimana unsur kebahasaan (ucapan,tekanan kata, intonasi, ejaan, huruf besar, dan tanda baca) digunakandalam bahasa lisan dan tulis? - Sikap: Bagaimana sikap pembicara atau penulis menggunakan teks dalammencapai maksud atau fungsi sosialnya? · Menanya Pada tahapan kegiatan menanya merupakan proses mengkonstruksi pengetahuan tentang fungsi sosial, unsur kebahasaan, dan struktur teks melalui diskusi kelompok atau diskusikelas. Pada proses menanya dikembangkan rasa ingin tahu dan berpikir kritis peserta didik, yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan hasil pengamatan yang baik. Pada saat yang sama peserta didik juga belajar membiasakan diri bertanya dalam bahasa Inggris secara wajar dan bermakna. Peserta didik dibiasakan untuk menggunakan ungkapan secara bermakna, tanpa perlu dijelaskan tata bahasanya.Masalah yang sering dihadapi peserta didik adalah makna kata, dalam bentuk padanan kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Untuk itu peserta didik perlu dibiasakan menggunakan pertanyaan, misalnya: What is ‘salak’ in English? What is ‘banana’ in Indonesian? Masalah lain yang ditemui peserta didik adalah cara mengucapkan kata, termasuk meletakkan tekanan kata dengan benar. Untuk itu pesertadidik perlu dibiasakan menggunakan pertanyaan, misalnya: How do we say this word? Respon atas pertanyaan tersebut bukan hanya pengucapan bunyidemi bunyi, tetapi juga tekanan kata pada suku kata yang tepat. Gurudapat meminta peserta didik untuk menirukan sampai mencapaiketepatan maksimal.Masalah lain yang juga ditemui peserta didik adalah cara menuliskanatau menggunakan ejaan yang benar. Untuk itu peserta didik perludibiasakan menggunakan pertanyaan, misalnya: How do you spell the word? · Mengumpulkan Informasi: Mengumpulkan informasi dilakukan melalui kegiatan mencoba atau mengeksplorasi untuk menginternalisasi pengetahuan dan keterampilan yang baru saja diperoleh/ dipelajari. Pada proses ini peserta didik berlatih mengungkapkan hal-hal baru yang dipelajari dan mencoba menggunakan kemampuan itu dalam dunia nyata, di dalam/di luar kelas.Kegiatan ini adalah kegiatan belajar individual yang dikerjakan secara kolaboratif dalam kelompok di bawah bimbingan guru.Pada kegiatan ini peserta didik diberi kesempatan untuk bereksperimen dan mengeksplorasi untuk memahami dan mengungkapkan makna teks yang sedang dipelajari.Kegiatan ini mutlak memerlukan keaktifan peserta didik berusaha untuk berinteraksi dalam bahasa Inggris dengan guru dan temannya.Pada tahap ini dilakukan hal-hal berikut. 1. Mengumpulkan fakta yang akan dikomunikasikan 2. Bereksperimen dan bereksplorasi untuk memperoleh dan memilih kosa kata, tata bahasa, dan unsur kebahasaan lainnya untuk dapat mengomunikasikan berbagai fakta yang ingin diutarakan dan dipahami. 3. Memperhatikan, memberikan balikan, atau menanyakan tentang berbagai pernyataan yang dibuat oleh teman-temannya. Langkah ini sangat perlu untuk memperkaya dan mematangkan penguasaan terhadap teks yang dipelajari. 4. Menyampaikan secara lisan pernyataan yang telah direncanakan secara tertulis. 5. Jika perlu, menuliskan setiap pernyataan tentang semua fakta yang ingin diutarakan dalam buku catatan masing-masing. · Menalar/Mengasosiasi: Kegiatan menalar atau mengasosiasi merupakan proses mengembangkan kemampuan mengelompokkan dan membandingkan beragam ide dan peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan dimemori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnyayang sudah tersedia.Pada tahap ini peserta didik dibimbing untuk mengelompokkan danmembandingkan teks berdasarkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsurkebahasaan. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengaitkan informasi tentang teks yang sedang dipelajari dengan teks sejenis dengan bentuk berbeda yang ditemukan di sumber lain, untuk tujuan pengayaan dan pendalaman.Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan ini. 1. Peserta didik telah menguasai bentuk teks yang menjadi dasar pembelajaran. 2. Kegiatan ini perlu menyadarkan peserta didik bahwa variasi isi dan bentuk teks adalah suatu keniscayaan dan kekayaan, bukan persaingan atau pertentangan. 3. Bentuk kegiatan bervariasi, termasuk yang telah sering digunakan pada tahap-tahap sebelumnya, antara lain memainkan peran, menyalin dengan tulis tangan, dan mengomunikasikan fakta. · Mengomunikasikan: Kegiatan mengomunikasikan ditujukan untuk mengembangkankemampuan menyajikan atau mempresentasikan semua pengetahuandan keterampilan yang sudah dikuasai dan yang belum, baik secaralisan maupun secara tertulis. Pada kegiatan ini tidak hanya pengetahuandan keterampilan mengomunikasikan saja tetapi juga permasalahandan kesuksesan yang dialami selama proses pembelajaran. Dengandemikian menggambarkan secara utuh kemampuan peserta didik dalampenguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Sehingga prosesmengomunikasikan ini selalu disertai dengan penulisan jurnal belajar oleh peserta didik.Kegiatan komunikasi mencakup antara lain interaksi lisan selamaproses pembelajaran, presentasi lisan di depan kelas atau dalam kelompok,mempublikasikan karya di majalah dinding, dan lain sebagainya.Hasil kegiatan dapat berupa karya individual atau kelompok. Metode Dalam pengumpulan data , proses yang melibatkan lebih dari satu sumber data dan lebih dari satu metode untuk meningkatkan validitas dalam penelitian ( Merriam , 1992). 10 item observasi terdiri dari respon tertutup berdasarkan skala Likert 4 -point , sangat setuju , setuju , tidak setuju , dan sangat tidak setuju. Prosedur Data dikumpulkan selama proses diklat oleh peneliti. Semua peserta diminta untuk membaca pertanyaan observasi dan kemudian menjawab mereka secara individu. Sepuluh peserta dipilih oleh instruktur dari kalangan peserta diklat yang memiliki pandangan positif terhadap menggunakan saintifik saat membaca pemahaman dan mereka yang tidak memiliki pandangan yang positif. Para peserta menyadari bahwa mereka berpartisipasi dalam studi penelitian , dan mereka diberitahu tentang tujuan dan prosedur penelitian . Obyek Penelitian Responden penelitian ini adalah 40 peserta diklat guru SMP bahasa Inggris di LPMP Jawa Tengah. Adapun waktu pengambilan data dilakukan ketika diklat Juli 2013. Data kuantitatif dikumpulkan melalui observasi. Analisis Data Seperti dalam penelitian ini , data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan untuk dianalisis . Pada awalnya , dalam menganalisis data dari kuesioner , nilai rata-rata dari setiap item dihitung dan kemudian frekuensi dan persentase untuk setiap item yang disebutkan. Data tersebut disajikan dalam bentuk tabel . Kedua , data wawancara ditranskrip dan dianalisis melalui analisis lintas kasus untuk mengidentifikasi kecenderungan umum peserta diklat dengan jawaban umum yang diberikan oleh peserta diklat. Selain itu, frekuensi ide peserta dihitung dan dilaporkan. Hasil dan Pembahasan Para peserta menjawab item dalam kuesioner pada skala Likert dari 1 sampai 4 , di mana 4 berarti untuk " sangat tidak setuju " , 3 berarti " Tidak Setuju " , 2 berarti " Setuju " , dan 1 untuk " Sangat Setuju " . Untuk pengolahan data yang diperoleh melalui kuesioner , pada awalnya hal itu dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata untuk setiap item dalam kuesioner secara terpisah dan kemudian , frekuensi dan persentase jawaban pembelajar diidentifikasi. Analisis untuk kuesioner , yang didasarkan pada skala Likert 4 -point , yang dihitung dengan menggunakan program SPSS ( versi 16 ) . Kemudian , hasilnya disajikan dalam bentuk tabel . Dalam menafsirkan tanggapan , skor 1 dan 2 dianggap sebagai positif , dan 3 dan 4 sikap negatif . Analisis Kuantitatif : Sikap Angket Tabel 1. Sikap tentang Penggunaan saintifik di pemahaman bacaan No Deskripsi Mean 1 Strategi saintifik sangat menarik bagi saya 1,621 2 Saya membutuhkan banyak training untuk menerapkan saiintifik 2,03 3 saintifik membantu saya memahami bacaan 1,899 4 Saya sangat menikmati berbagi ilmu tentang saintifik 1,031 5 Saintifik membantu saya berkomunikasi dengan peserta lain 2,111 6 Strategi saintifik cukup membosankan saya 3,51 7 Saya tidak suka dengan metode saintifik 3,47 8 saya lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja sama dengan peserta lain dalam merancang saintifik 3,46 9 Sulit untuk mendesain saintifik 2,931 10 Saya suka melihat hasil saintifik orang lain baru membuat saintifik saya 3,012 Dalam Tabel 1., Nilai rata-rata tertinggi untuk item, terutama diperoleh untuk item 6 (Strategi saintifik cukup membosankan saya, dan nomer 7 (Saya tidak suka dengan metode saintifik ), dan nomer 8 (saya lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja sama dengan peserta lain dalam merancang saintifik ) menunjukkan jawaban peserta untuk pertanyaan ini sebagian besar sama, dan respon peserta menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka menjawab untuk pertanyaan-pertanyaan ini dalam bentuk 'Sangat Tidak Setuju' atau ' Tidak Setuju'. Analisis Kualitatif Pada penelitian ini data kualitatif diperoleh melalui wawancara pada sepuluh (10) peserta diklat. Respon dari pertanyaan wawancara dianalisis melalui cross-case analysis. Penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan sikap peserta didik ke arah menggunakan saintifik dalam pemahaman membaca. Dalam hal ini, data kuantitatif yang dikumpulkan oleh kuesioner menunjukkan bahwa 91,4% dari siswa menunjukkan sikap positif yang signifikan terhadap penggunaan saintifik dalam pemahaman membaca, sementara hanya 8,6% peserta diklat memiliki sikap negatif terhadap menggunakan saintifik dalam membaca. Data kualitatif dikumpulkan dengan mewawancarai sepuluh peserta diklat EFL mengungkapkan, hasil penelitian menunjukkan bahwa diklat ini menyenangkan untuk mereka semua dan saintifik adalah strategi yang menyenangkan. Di sisi lain, satu dari responden lebih suka untuk mencoba saintifik pada sendiri daripada kelompok. Kesimpulan dan Saran Dari pemaparan diatas dapat kesimpulan bahwa teknik saintifik yang kreatif dan efektif serta memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak baik belahan otak kanan atau belahan otak kiri yang terdapat didalam diri seseorang (Bobby De Porter, Mike Hernacki: 2003; 153). Temuan dari studi ini berimplikasi praktis terhadap peningkatan penggunaan strategi saintifik di pembelajaran. Referensi http://digilib.unimed.ac.id/public/UNIMED-Undergraduate-22702-5.%20BAB%20II.pdf diakses 27 Maret 2014 Kim Duncan,Using saintifik to Effectively Solve Problems, Improve Creative Thinking and Accomplish Whole Brain Thinking -Amazon Digital Services (2011) Mahsa Hariri M.A. student of TEFL, University of Guilan, Efl Learners’ Attitudes Towards Using saintifik Technique In Their Reading Comprehension , Modern Journal of Language Teaching Methods (MJLTM) Vol.3, Issue 1, March 2013 Kemdikbud. (2013-a). Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 2013 SD Jakarta: Badan PSDMP dan PMP Wang, Wen-Cheng, A Brief Review on Developing Creative Thinking in Young Children by Mind , International Business Research Vol. 3, No. 3; July 2010 Published by Canadian Center of Science and Education 233

Selasa, 28 April 2015

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN

STRATEGI KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN Oleh: Nani Rosdijati ABSTRAK Kepala sekolah merupakan jabatan strategis dalam penyelenggaraan pendidikan, baik yang berkaitan dengan pengelolaan maupun dengan pembelajaran di sekolah. Dalam mengelola pendidikan kepala sekolah berperan sebagai pemimpin, manajer, administrator dan supervisor, sedangkan dalam pembelajaran kepala sekolah berperan sebagai edukator atau pembelajar, karena kepala sekolah meskipun mengelola pendidikan juga melaksanakan tugas pembelajaran. Kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan penampilan guru, penguasaan materi/kurikulum, penggunaan metode mengajar, pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan, penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi serta pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Indikator yang menandai pembelajaran bermutu berkaitan dengan input yaitu guru, tujuan pengajaran, peserta didik dan alat/media pendidikan; proses serta output. Beberapa strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi peningkatan kemampuan mengajar guru, optimalisasi penggunaan media dan sarana pendidikan, pelaksanaan supervisi secara rutin, menjalin kerjasama dengan masyarakat dan penerapan disiplin yang ketat Kata kunci: strategi, kepala sekolah dan mutu pembelajaran PENDAHULUAN Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan pemerataan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, yaitu diantaranya dengan pengadaan sarana dan prasaran pendidikan, pengadaan tenaga guru kontrak, penataran, penyempurnaan kurikulum dan sebagainya yang memungkinkan. Permasalahan yang mendasar sebenarnya yaitu mampu atau tidak sumber daya pendidikan yang ada atau belum ada untuk dikelola secara efektif dan efisien oleh setiap lembaga penyelenggara pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu suatu terobosan dalam mewujudkan tujuan pendiikan adalah dengan cara meningkatkan fungsi dan peran kepala sekolah dasar untuk menciptakan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang dapat menghasilkan lulusan dengan beragam tingkat pengetahaun, kemampuan serta nilai atau sikap yang memungkinkan untuk menjadi warga masyarakat dan warga negara yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, beriman dan berbudi pekerti luhur. Tujuan yang sangat mulia tersebut tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan dari tenaga kependidikan yang profesional. Salah satu tenaga kependidikan yang paling menentukan dalam pengelolaan pendidikan dasar adalah kepala sekolah yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, administrasi sekolah, pembinaan tenaga kependidikan lainnya dan pendayagunaan serta pemeliharaan sarana dan prasarana. Tugas dan tanggung jawab yang harus diemban oleh kepala sekolah dalam memimpin atau mengelola sekolah yaitu meningkatkan mutu pendidikan, artinya bahwa seorang kepala sekolah dituntut untuk mampu mengelola seluruh sumber daya pendidikan yang ada di sekolah, sehingga mampu mendukung terhadap perwujudkan tujuan pendidikan yang akan dicapai. Keadaan tersebut sebagaimana diungkapkan dalam konsep Total Quality Manajemen bahwa mutu suatu produk ditentukan oleh pengelolaan input, proses sampai dengan output. Dengan kata lain bahwa mutu suatu produk akan bagus apabila bahan dasarnya diproses dengan benar dan dikontrol dengan tepat. Demikian pula hanya dalam penyelenggaraan atau pengelolaan lembaga pendidikan, termasuk sekolah dasar. Sementara pada pendidikan dasar, khususnya sekolah dasar di Indonesia, siswa yang masuk (input) tidak diseleksi secara khusus, asal memenuhi persyaratan administratif mereka bisa diterima. Dengan demikian, yang paling menentukan kualitas lulusan terletak pada pembelajarannya. Oleh karena itu suatu langkah yang perlu ditingkatkan dalam penyelenggaraan atau pengelolaan pendidikan di sekolah dasar yaitu menciptakan suatu sistem pengelolaan yang berkualitas. Dalam hal ini kepala sekolah dituntut untuk memiliki kemampuan manajerial yang profesional dalam peranannya memimpin sekolah. Permasalahan-permasalahan yang terjadi di lapangan, sehingga menjadi kendali sekolah dasar menjadi tidak bermutu antara lain: karena tidak ada standar input (siswa), sehingga kemampuan dan karakteristik siswa sangat beragam, sistem guru kelas berdampak pada menurunnya kinerja guru, kurikulum pada beberapa mata pelajaran masih dianggap terlalu luas, sehingga memberatkan bagi siswa untuk mempelajarinya dan masih adanya guru yang kurang aktif dalam pembelajaran. Permasalahan-permasalahan tersebut tentunya merupakan suatu kendala bagi dunia pendidikan di sekolah dasar yang keberadaannya perlu segera ditangani benar-benar, sehingga tidak mengganggu atau menghambat terwujudnya tujuan pendidikan yang akan dicapai. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut diperlukan upaya-upaya dalam bentuk strategi kepala sekolah untuk menanganinya. Dengan harapan mutu pembelajaran yang merupakan produktivitas sekolah tetap dipertahankan tingkat keefektifan, keefisienan dan relevansinya. Rumusan masalah yang ditetapkan adalah bagaimana strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran? Tujuan penulisan artikel ini adalah ingin mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran. LANDASAN TEORI Pengertian Strategi Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai manajer pendidikan yang berada di sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan atau membawa sekolah yang dipimpinnya memperoleh mutu pembelajaran yang baik. Keadaan tersebut tentunya dapat diwujudkan dengan baik, apabila kepala sekolah mampu menciptakan strategi yang relevan dengan kondisi dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Untuk mengetahui tentang pengertian strategi kepala sekolah, maka terlebih dahulu perlu dipahami mengenai pengertian tentang strategi itu sendiri. Winardi (2012:95-96) mengemukakan bahwa strategi sebuah organisasi atau subnya merupakan konseptualisasi yang dinyatakan dan akan diimplikasikan oleh pimpinan organisasi yang bersangkutan, meliputi: sasaran-sasaran jangka panjang atau tujuan-tujuan organisasi tersebut, kendala-kendala luas dan kebijakan-kebijakan yang atau ditetapkan sendiri oleh sang pemimpin, atau yang diterimanya dari pihak atasannya yang membatasi skope aktivitas-aktivitas organisasi yang bersangkutan dan kelompok rencana-rencana dan tujuan-tujuan jangka pendek yang telah diterapkan dengan ekspekasi akan diberikannya sumbangsih mereka dalam hal mencapai sasaran-sasaran organisasi tersebut. Sementara Salusu (2014:101) mengemukakan bahwa strategi adalah suatu seni menggunakan kecakapan dan nara sumber daya suatu organisasi untuk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan. Konsep tersebut mengemukakan bahwa strategi lebih menekankan pengertiannya pada suatu situasi di mana pimpinan mampu mendayagunakan segenap sumber daya organisasi dengan tepat dan benar. Dalam hal ini, maka seorang pimpinan harus dituntut memiliki kepandaian dalam menguasai situasi dan kondisi yang dimiliki oleh organisasi, sehingga mampu menerapkan suatu pengembangan program dan menggerakkan sumber daya organisasi yang dimilikinya. Lebih lanjut Winardi (2012:1) mengemukakan bahwa strategi merupakan pola sasaran, tujuan atau maksud dan kebijakan utama serta rencana untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep tersebut lebih menitikberatkan pada upaya pimpinan dalam menetapkan sasaran yang harus dicapai organisasi melalui suatu perencanaan yang akurat, matang dan sistematis. Perencanan dalam hal ini merupakan suatu pola kebijakan tertentu dalam mengelola organisasi menuju tujuan yang telah ditetapkan. Sejalan dengan pengertian tersebut Glueck (Saladin, 2014:1) mengemukakan bahwa strategi adalah sebuah rencana yang disatukan luas dan terintegrasi, yang menghubungkan seunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi. Berdasarkan konsep tersebut, maka strategi merupakan suatu kesatuan rencana yang menyeluruh, komprehensif dan terpadu yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahwa strategi kepala sekolahmerupakan rangkaian dari rencana sebagai sasaran, kebijakan atau tujuan yang ditetapkan oleh seorang kepala sekolah dalam pembelajaran sesuai dengan kondisi yang ada, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu pembelajaran. Konsep Peningkatan Mutu Pembelajaran Mutu pembelajaran merupakan bagian dari mutu pendidikan secara keseluruhan. Dalam hal ini sebelum memahami mutu pembelajaran terlebih dahulu perlu dipahami mutu pendidikan. Banyak ahli yang mencoba mendefinisikan mutu pendidikan, salah satunya Kemendikbud (2014:7) mendefinisikan bahwa mutu pendidikan di sekolah dasar adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisiensi terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku. Dalam pengertian tersebut diungkapkan bahwa pada dasarnya mutu pendidikan merupakan kemampuan sekolah dalam menghasilkan nilai tambah yang diperolehnya menurut standar yang belaku. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pengertian mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam menyenggarakan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai bagi pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen-komponen Peningkatan Mutu Pembelajaran 1. Penampilan Guru. Komponen yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah penampilan guru, artinya bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan pengajaran sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran. Keadan tersebut dikarenakan guru merupakan salah satu pelaku dan bahwa pemeran utama dalam penyelenggaraan pembelajaran. Oleh karena itu diharapkan guru harus benar-benar memiliki kemampuan, keterampilan dan sikap seorang guru yang profesional, sehingga mampu menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yang akan dicapai. 2. Penguasaan Materi/Kurikulum. Komponen lainnya yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yaitu penguasaan materi/kurikulum, artinya bahwa penguasaan materi/kurikulum sangat mutlak harus dilakukan oleh guru dalam menyelenggaran pembelajaran. Keadaan tersebut dikarenakan kurikulum/materi merupakan objek yang akan disamapikan pada peserta didik. Dengan demikian kedudukan penguasaan materi ini merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut atau ditekankan untuk menguasai materi/kurikulum sebelum melaksanakan pengajaran di depan kelas. 3. Penggunaan Metode Mengajar. Penggunaan metode mengajar huna merupakan komponen dalam peningkatan mutu pembelajaran, artinya penggunaan metode mengajar yang dipakai guru dalam menerangkan di depan kelas tentunya akan memberikan kontribusi tersebut peningkatan mutu pembelajaran. Dengan menggunakan metode mengajar yang benar dan tepat, maka memungkinkan siswa lebih mudan dalam memahami materi yang disapaikan guru. 4. Pendayagunaan Alat/Fasilitas Pendidikan. Komponen lainnya yang menentukan peningkatan mutu pembelajaran yaitu pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan. Mutu pembelajaran akan baik apabila dalam pelaksanaan pembelajaran didukung oleh alat/fasilitas pendidikan yang tersedia. Keadaan tersebut memudahkan guru dan siswa untuk menyelenggarakan pembelajaran. Dengan demikian diharapkan pendayagunaan alat/fasilitas belajar harus memperoleh perhatian yang baik bagi sekolah dalam upayanya mendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. 5. Penyelenggaraan Pembelajaran dan Evaluasi. Mutu pembelajaran juga ditentukan oleh penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasinya. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada dasarnya mutu akan dipengaruhi oleh proses. Dengan demikian guru harus mampu mengelola pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu yang tinggi. 6. Pelaksanaan Kegiatan Kurikuler dan Ekstra-kurikuler. Peningkatan mutu pembelajaran pula dipengaruhi oleh pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler, artinya bahwa mutu akan mampu ditingkatkan apabila dalam pembelajaran siswa ditambah dengan adanya kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Keadaan ini beralasan bahwa dengan diadakannya kegiatan tersebut akan menambah pengetahuan siswa di luar pengajaran inti di kelas dan tentunya hal tersebut akan lebih meningkatkan kreativitas dan kompetensi siswa. Indikator Pembelajaran yang Bermutu 1. Input. Mutu pembelajaran salah satunya dipengaruhi oleh input yang menjadi bahan dasar dari pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan mutu pembelajaran akan dipengaruhi oleh keberadaan atau kondisi dari input yang dimiliki. Oleh karena itu upaya mempersiapkan input secara optimal merupakan suatu langkah awal bagi terciptanya suatu peningkatan mutu pembelajaran. Adapun usnur-unsur yang perlu dipersiapkan oleh pihak sekolah dalam upayanya menciptakan suatu mutu pembelajaran adalah: a. Guru. Guru merupakan orang yang sangat strategis dalam meningkatkan mutu pembelajaran, mengingat kedudukan guru yang secara langsung berhadapan dengan siswa dalam melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian guru yang profesional dalam melaksanakan tugas tentu akan lebih baik untuk mewujudkan mutu pembelajaran dibandingkan dengan guru yang kurang atau tidak profesional. b. Tujuan Pengajaran. Sementara tujuan pengajaran merupakan suatu unsur yang akan mempengaruhi terhadap mutu pembelajaran. Keadaan ini bisa dibuktikan dengan adanya kecenderungan bahwa suatu aktivitas tidak akan mampu menghasilkan suatu yang bermutu tanpa didahului dengan adanya penetapan tujuan. Oleh karena itu dalam hal ini pula pembelajaran akan mampu memiliki mutu yang baik apabila dalam pelaksanaannya memiliki tujuan yang ditetapkan, sehingga pelaksanaannya terarah baik dan ada target yang akan dicapai. Pada dasarnya mutu dari pembelajaran itu dapat dilihat dari mampu tidaknya suatu pembelajaran dalam mencapai tujuan tersebut. c. Peserta Didik. Peserta didik merupakan salah satu pendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Peserta didik merupakan pelaku dalam penyelenggaraan pembelajaran. Oleh karena itu peserta didik harus dikondisikan untuk mampu menunjang terhadap kelancaran penyelanggaran pendidikan. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa peserta didik harus dikelola dengan baik, sehingga mampu mendukung terhadap kelancaran pembelajaran. d. Alat/Media Pendidikan. Unsur pendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah salah satunya alat/media pendidikan. Alat/media tersebut memiliki peranan yang sangat besar terhadap kelancaran pembelajaran. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa alat/media pendidikan harus dikelola secara baik dan dipastikan mampu mendukung terhadap penyelenggaraan pembelajaran, baik secara kualitas maupun kuantitas. 2. Proses. Proses merupakan unsur penting yang mempengaruhi terhadap mutu pembelajaran. Dalam hal ini pembelajaran harus didukung oleh adanya interaksi yang aktif antara peserta didik dengan guru. Komunikasi yang kondusif merupakan suatu hal yang penting dalam mewujudkan peningkatan mutu pembelajaran. 3. Output. Output pengajaran dipandang bisa melihat sampai sejauhmana mutu pembelajaran yang dimiliki oleh suatu sekolah. Oleh karena itu, maka ouput pengajaran yang menjadi ukuran mutu pembelajaran mencakup nilai prestasi dan perubahan sikap peserta didik. PEMBAHASAN Beberapa strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi: Peningkatan Kemampuan Mengajar Guru Strategi pertama yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yaitu dengan cara peningkatan kemampuan mengajar guru. Peningkatan kemampuan mengajar ini dipandang oleh kepala sekolah sangat penting mengingat gurulah sebagai peran kunci yang melaksanakan dan menentukan baik tidaknya mutu pembelajaran tersebut. Selain itu pula sejumlah permasalahan dalam meningkatkan mutu pembelajaran banyak bersumber darai guru, misalnya kurang disiplin, kurang profesional, kinerjanya rendah atau permasalahan-permasalahan pribadi lainnya. Peningkatan kemampuan guru dalam hal ini yaitu meningkatkan kemampuan para guru dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar. Tentunya peningkatan kemampuan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan guru dalam merencanakan, melaksanakan dan bahkan menilaia hasil pembelajaran yang dilakukannya. Pengembangan kemampuan guru yang diterapkan kepala sekolah yaitu dengan cara mengikutsertakan para guru dalam seminar, diklat dan penataran kependidikan yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga kepofesian. Bahkan dalam hal ini pihak sekolah memberikan keleluasaan yang penuh terhadap para guru yang akan melanjutkan pendidikan formalnya. Sementara itu pula, kepala sekolah berupaya untuk mendorong para guru agar aktif dalam Kelompok Kerja Guru, sehingga diharapkan setiap guru mampu mengembangkan kemampuannya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pengajar. Melalui KKG inilah guru dapat saling tukar pengalaman dan berdiskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam mengajar. Optimalisasi Penggunaan Media dan Sarana Pendidikan Strategi yang diterapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran yaitu dengan optimalisasi pemanfaatan dan penggunaan media dan sarana pendidikan. Permasalahan yang muncul dalam hal ini bahwa selama ini guru kurang mendayagunakan penggunaan media dan sarana pendidikan yang ada, sehingga keberadaannya jelas tidak bermanfaat untuk memperlancar pembelajaran. Optimalisasi penggunaan media dan sarana ini dilakukan dengan cara membuat kebijakan untuk mewajibkan setiap guru dalam melakukan pembelajarannya dengan menggunakan media atau sarana pendidikan yang tersedia, sehingga mampu mewujudkan hasil pengajaran yang optimal. Sementara itu pula sebagai pimpinan, kepala sekolah berupaya untuk membina dan mengarahkan cara-cara penggunaan media dan sarana pendidikan yang mendukung terhadap pembelajaran, sehingga hasil pembinaan dan pengarahan ini setiap guru dapat menggunakan media dan sarana pendidikan tersebut dengan baik dalam pembelajaran. Untuk memberdayakan penggunaan media dan sarana pendidikan ini pula, kepala sekolah berupaya menerapkan pengelolaan yang baik. Kepala sekolah mendesain atau mengatur penempatan, penggunaan dan pemeliharaan dari media dan sarana pendidikan yang ada. Keadaan ini dilakukan dalam upaya mengkondisikan media dan sarana pendidikan yang ada mampu dilindungi dan mampu untuk dimanfaatkan keberadannya. Lebih lanjut kepala sekolah menganggarkan biaya untuk pemeliharaan dan pengadaan media dan sarana pendidikan yang belum tersedia. Pelaksanaan Supervisi secara Rutin Strategi yang lain yang diterapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yaitu dengan pelaksanaan supervisi rutin. Keadaan ini dilakukan mengingat keberadaan guru yang relatif memiliki pendidikan cukup sama yaitu SPG, sehingga pembinaan dan pengarahan merupakan suatu kebutuhan yang diperlukan sekali dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Strategi inipun ditemph kepala sekolah untuk mengatasi permasalahan sehubungan dengan kurangnya sikap profesionalisme yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugas. Kegiatan supervisi dilakukan kepala sekolah agar kepala sekolah mengetahui secara langsung permasalahan yang dihadapi guru selama melaksanakan pembelajaran, sehingga kepala sekolah dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya. Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah dengan cara mengadakan kunjungan kelas, rapat-rapat dan pembinaan secara individual terhadap guru. Kunjungan kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah di sini yaitu dengan mengadakan pengunjungan terhadap setiap kelas tentang kelengkapan sarana pendidikan yang ada dan mengecek kehadiran guru maupun siswa. Selanjutnya supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah ini dilakukan dengan cara mengadakan rapat-rapat yang dilakukan dalam mengadakan pengevaluasi atau bahkan pembinaan terhadap para guru untuk mengenalkan sesuatu yang baru dan perlu diketahui oleh guru mengenai hal yang berkaitan dengan pembelajaran. Kemudian juga kepala sekolah sering mengadakan supervisi terhadap para guru secara perorangan dalam membina dan mengarahkan guru tersebut, sehingga mampu menjalankan tugasnya dengan baik, biasanya dilakukan jika ada permasalahan yang begitu besar dan terjadi pada tugas guru tersebut. Menjalin Kerjasama dengan Masyarakat Masyarakat merupakan relasi yang cukup besar dalam memberikan pengaruh dan bantuan terhadap kelancaran penyelenggaraan pembelajaran. Palagi jika dikaitakan dengan keadaan sekarang bahwa masyarakat memiliki peran sebagai pengawas dan penyumbang kebutuhan sekolah dengan dibentuknya “Dewan Sekolah”. Namun demikian dalam kenyataannya bahwa masyarakat masih kurang peka terhadap kebutuhan sekolah. Oleh karena itulah sebagai langkah awal memperbaiki hubungan dengan sekolah dengan masyarakat, maka kepala sekolah mengadakan suatu strategi dalam bentuk kerjasama dengan masyarakat. Dalam mengadakan hubungan kerjasama dengan masyarakat ini, maka sekolah membentuk Dewan Sekolah yang memiliki fungsi dan peran sebagai wadah untuk memfasilitas masyarakat berhubungan dengan sekolah atau sebaliknya. Selama ini melalui “Dewan Sekolah” itulah orang tua siswa, masyarakat umum atau donatur mengadakan jalinan hubungan yang harmonis. Lebih lanjut kepala sekolah mengadakan hubungan dan komunikasi dengan para orang tua siswa dan “Dewan Sekolah” yaitu dengan mengadakan rapat-rapat. Rapat/pertemuan dengan para orang tua siswa dilakukan pada awal tahun pelajaran dan pada waktu pembagian “Buku Laporan Pendidikan”. Pada pertemuan sekolah dengan orang tua siswa pada awal tahun merupakan pertemuan yang membicarakan tentang pengenalan program-program pendidikan yang akan diselenggarakan dan uraian secara terbuka mengenai penggaran yang digunakannya. Sementara pertemuan pada pembagian Buku Laporan Pendidikan merupakan pertmuan yang berupaya untuk secara tetap menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua siswa. Rapat “Dewan Sekolah” merupakan upaya menjalin kerjasama dengan masyarakat dalam membahas program-program pendidikan yang akan diselenggarakan oleh pihak sekolah. Pada pertemuan ini dibahas mengenai program-program yang akan dilaksanakan oleh pihak sekolah. Penerapan Disiplin yang Ketat Penerapan disiplin yang ketat merupakan pula salah satu strategi yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Penerapan disiplin ini penting dilakukan sehubungan dengan rendahnya tingkat kedisiplinan guru maupun siswa, antara lain: datang terlambat, berpakaian kurang rapi dan pulang belajar mengajar belum pada waktunya. Pendisiplinan ini dilakukan untuk mengkondisikan semua warga SD memiliki kinerja dalam menjalankan tugas dan peranannya secara optimal. Di mana melalui pendisiplinan ini diharapkan para personil pendidikan mampu memberikan kinerjanya yang optimal. Sementara pendisiplinan yang terapkan pada siswa diharapkan mampu menciptakan keteraturan dan ketertiban dalam menjalankan atau mengikuti pembelajaran. Pendisiplinan iklim sekolah ini dilakukan dengan cara pembuatan tata tertib bagi siswa dan tata tertib bagi para guru yang ada di sekolah. Pendisiplinan ini ditegakkan secara objektif, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Kepala sekolah setipa hari mengontrol kedisiplinan guru dan siswa dengan cara melihat kehadiran, kerapihan dari pakaiannya dan menampilkan perilaku kepemimpinan yang patut untuk dicontoh atau ditiru. Lebih konkritnya jika ada guru maupun siswa yang tidak berdisiplin, maka kepala sekolah melakukan teguran secara lisan, melakukan pemanggilan dan pemberian sanksi apabila guru maupun siswa tetap membandel. Selain itu pula khusus untuk siswa jika ada yang tidak disiplin, kepala sekolah memanggil orang tua siswa ke sekolah untuk meminta bantuan dalam membina anaknya. Secara lebih konkrit pendisiplinan yang dilakukan kepada guru, kepala sekolah melakukan evaluasi terhadap ketepatan waktu mengajar, kehadiran dan kerapihan pakainnya. Kepala sekolah terbiasa memanggil guru yang terlambat dalam mengajar, tidak rapih dalam berpakaian dan sering tidak hadir. Kondisi tersebut ditindaklanjuti dengan pembinaan dan pengajaran, sehingga para guru tetap mampu menegakkan kedisiplinannya. Kepala sekolah menggap bahwa melalui pendisiplinan inilah nantinya akan mampu memberikan dapak terhadap hasil belajar. Dengan demikian kedisiplinan ini perlu diciptakan dengan baik, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap mutu pembelajaran dengan baik pula. PENUTUP Kepala sekolah dalam konteks penyelenggaraan pendidikan memiliki peranan yang sangat strtaegis sebagai pemimpin, administrator dan supervisor pendidikan. Oleh karena itulah tanggung jawab sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajarannya terletak di tangan kepala sekolah. Strategi yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan merupakan pilihan yang terbaik sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah yang dipimpinnya. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran bersumber dari permasalahan guru serta fasilitas pendidikan yang dimiliki oleh sekolah. Oleh karena itu strategi yang ditetapkan kepala sekolahpun diorientasikan kepada guru (personil) dan juga fasilitas pendidikan yang tersedia. Strategi yang ditetapkan kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran meliputi: peningkatan kemampuan mengajar guru, pendayagunaan media dan sarana pendidikan, pelaksanaan supervisi secara rutin, menjalin kerjasama dengan masyarakat dan penerapan disiplin yang ketat, baik bagi guru maupun bagi siswa. Setelah penulis mengadakan pengkajian terhadap strategi kepala sekolah dalam meningkatkan mutu pembelajaran, maka saran yang dapat diajukan untuk kepala sekolah adalah: meningkatkan dan mengembangkan kualitas guru, sehingga diperoleh pengembangan kemampuan, keterampilan dan sikap seorang guru yang profesional. Keadaan ini bisa dilakukan dengan menganjurkan para guru untuk melanjutkan pendidikan formalnya, mengikutsertakan dalam pelatihan-pelatihan, diklat, penataran ataupun menganjurkan untuk aktif dalam mengikuti kegiatan KKG, lebih meningkatkan jalinan kerjasama dnegn masyarakat. Keadaaan ini mengingat masyarakat sebagai salah satu sumber daya pendidikan yang potensial dalam mendukung dan membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kerjasama yang dilakukan ini tidak hanya sebatas pengadaan dana, tetapi terlibat langsung dalam perencanaan dan pengawasan serta evaluasi program pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dan hendaknya pihak sekolah memberikan bantuan kepada guru dalam membiayai untuk mengikuti program pendidikan lanjutan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (minimal S1), sehingga profesionalisme guru dalam mengajar dapat diandalkan. Bantuan tersebut agar lebih rasional dilakukan melalui pembicaraan khusus dengan “Dewan Sekolah” sehingga tidak memberatkan anggaran pihak sekolah dan menjadi bahan pertimbangan bersama antara pihak sekolah dengan masyarakat.

PERAN DAN FUNGSI GURU DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN

Oleh: Nani Rosdijati ABSTRAK Guru memiliki tugas yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sehingga kedudukan, peran dan fungsinya tidak dapat digantikan dengan fasilitas apapun. Guru harus hadir bersama siswa melaksanakan pembelajaran di kelas. Peran dan fungsi guru dalam pembelajaran berkaitan dengan sebagai informator, organisator, motivator, pengarah/direktor, transmiter, fasilitator, mediator dan evaluator. Pencapaian mutu pembelajaran berkaitan dengan kemampuan sekolah dalam pengelolaan sekolah secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Komponen-komponen mutu meliputi: penampilan guru, penguasaan materi/kurikulum, penguasaan metode mengajar, pendayagunaan alat/fasilitas pendidikan, penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi serta pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler. Peran guru dalam pembelajaran terlebih dahulu guru harus membekali diri dengan sejumlah kompetensi dalam bidang pengajaran baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun bantuan kepala sekolah. Kegiatan pembekalan tersebut dilakukan secara kontinyu seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga pada akhirnya akan membentuk sikap lebih profesional dari guru itu sendiri. Agar kegiatan pembekalan lebih efektif langkah yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru serta kebutuhannya sehubungan dengan pelaksanaan tugas mengajar di sekolah. Kata kunci: pran dan fungsi, guru dan mutu pembelajaran PENDAHULUAN Pendidikan merupakan hal yang sangat mendasar (central basic) yang dapat membawa perubahan terhadap manusia. Perubahan tersebut sifatnya bertahap dan memerlukan waktu yang cukup lama. Telah banyak perkembangan dan kemajuan di segala bidang yang disebabkan oleh adanya pendidikan. Dengan demikian adanya pendidikan dapat mengubah suatu keadaan (negara, bangsa bahkan perorangan) menjadi kondisi kehidupan yang lebih baik. Melalui pendidikan manusia memperoleh berbagai ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga dapat dikembangkan di lingkungan masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri termasuk juga kepentingan dirinya sendiri. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka sudah sepatutnya apabila berbagai lembaga pendidikan dari waktu ke waktu senantiasa meningkatkan peranannya, termasuk dalam peningkatan mutu pembelajarannya. Upaya peningkatan mutu pembelajaran setiap jenjang dan satuan pendidikan pada saat ini terus-menerus diupayakan. Peningkatan mutu tersebut semata-mata dilakukan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk mencapai ke arah tujuan tersebut menuntut adanya peranan dari berbagai unsur pendidikan yang terlibat, baik pihak sekolah (kepala sekolah dan guru), pemerintah maupun masyarakat. Khusus untuk guru yang secara internal terlibat langsung dalam pembelajaran di sekolah harus berusaha mencari terobosan-terobosan baru dalam rangka meningkatkan mutu pembelajarannya. Untuk itulah peningkatkan mutu pembelajaran menuntut peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab secara khusus dari guru agar senantiasa memikirkan upaya-upaya atau terobosan-terobosan baru secara konkrit, sehingga mutu pembelajaran di sekolah dapat lebih meningkat. Permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah upaya peningkatan peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran? Dengan demikian tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui, memahami dan menganalisis upaya peningkatan peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran. LANDASAN TEORI Peran dan Fungsi Guru dalam Pembelajaran Sehubungan dengan peran dan fungsi guru dalam pembelajaran, maka diperlukan adanya usaha dari guru untuk mengoptimalkan peran dan fungsinya tersebut. Peranan guru tersebut akan senantiasa menggambarkan pola tingkah laku yang diharapkan dalam berbagai interaksinya, baik dengan siswa, sesama guru maupun dengan staf sekolah atau bahkan dengan kepala sekolah. Dari berbagai kegiatan interaksi, maka kegiatan pembelajaran dapat dipandang sebagai sentral bagi peranannya, mengingat disadari atau tidak bahwa sebagian waktu dan perhatian guru banyak dicurahkan untuk penggarapan pembelajaran di dalam kelas dan berinteraksi dengan siswa. Beberapa fungsi guru menurut Zen (2010:69-70) sehubungan dengan tugasnya selaku pengajar dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Sebagai Informator. Sebagai pelaksana cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum. dalam pada itu berlaku teori komunikasi: teori stimulus – respon, teori dissonance – reduction dan teori – pendekatan fungsional. 2. Sebagai Organisator. Guru sebagai organisator, pengelola kegiatan akademik, silabus, work shop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar, semua diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa. 3. Sebagai Motivator. Peranan guru sebagai motivator, penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcemen untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya, sehingga akan terjadi dinamika di dalam pembelajaran. 4. Sebagai Pengarah/Direktor. Jiwa kepemimpinan bagi guru dalam peranan ini lebih menonjol. Guru dalam hal ini harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. 5. Sebagai Inisiator. Guru dalam hal ini sebagai pencetus ide-ide dalam pembelajaran. Sudah barang tentu ide-ide itu merupakan ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didiknya. 6. Sebagai Transmiter. Dalam kegiatan belajar guru juga akan bertindak selaku penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan. 7. Sebagai Fasilitator. Berperan sebagai fasilitator, guru dalam hal ini akan memberikan fasilitas atau kemudahan dalam pembelajaran, misalnya saja dengan menciptakan suasan kegiatan yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar akan berlangsung secara efektif. 8. Sebagai Mediator. Guru sebagai mediator dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa, misalnya menengahi atau memberikan jalan ke luar kemacetan dalam kegiatan diskusi siswa. Mediator juga diartikan penyedian media, bagaimana cara memakai dan mengorganisasi penggunaan media. 9. Sebagai Evaluator. Ada kecenderungan bahwa peran sebagai evaluator, guru mempunyai otoritas untuk menilai prestasi anak didik dalam bidang akademis maupun tingkah laku sosialnya, sehingga dapat menentukan bagaimana anak didiknya berhasil atau tidak. Tetapi kalau diamati secara agak mendalam evaluasi-evaluai yang dilakukan guru itu sering hanya merupakan evaluasi ekstrinsik dan sama sekali belum menyentuh evaluasi instrinsik. Evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi yang mencakup pula evaluasi intrinsik. Untuk itu guru harus hati-hati dalam menjatuhkan nilai atau kreteria keberhasilan. Dalam hal ini tidak cukup hanya dilihat bisa atau tidaknya mengerjakan mata pelajaran yang diujikan, tetapi masih perlu ada pertimbangan-pertimbangan yang sangat kompleks, terutama menyangkut perilaku dan values yang ada pada masing-masing mata pelajaran. Konsep Peningkatan Mutu Pembelajaran Pengertian Mutu Pembelajaran Mutu pembelajaran merupakan bagian dari mutu pendidikan secara keseluruhan. Dalam hal ini sebelum memahami konsep mutu pembelajaran, terlebih dahulu harus diketahui konsep dasar tentang mutu pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014:7) mendefinisikan pengertian mutu pendidikan, yaitu kemampuan sekolah dalam pengelolaan sekolah secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Berdasarkan pengertian tersebut diungkapkan bahwa pada dasarnya mutu pendidikan merupakan kemampuan sekolah dalam menghasilkan nilai tambah yang diperolehnya menurut standar yang berlaku. Bertitik tolak dari pemikiran tersebut, maka mutu pembelajaran merupakan kemampuan yang dimiliki oleh sekolah dalam penyelenggaraan pembelajaran secara efektif dan efisien, sehingga menghasilkan manfaat yang bernilai tinggi bagi pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan. Komponen-komponen Peningkatan Mutu Pembelajaran Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa peningkatan mutu pembelajaran akan terwujud secara baik apabila dalam pelaksanaannya didukung oleh komponen-komponen peningkatan mutu yang ikut andil dalam pelaksanannya. 1. Penampilan Guru. Komponen yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah penampilan guru, artinya bahwa rangkaian kegiatan yang dilakukan seorang guru dalam melaksanakan pengjaran sangat menentukan terhadap mutu pembelajaran yang dihasilkan. Kunci keberhasilannya mengingat bahwa guru yang merupakan salah satu pelaku dan bahkan pemeran utama dalam penyelenggaraan pembelajaran, sehingga diharapkan penampilan gutu harus benar-benar memiliki kemampuan, keterampilan dan sikap yang profesional yang pada akhirnya mampu menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yang akan dicapai. 2. Penguasaan Materi/Kurikulum. Komponen lainnya yang menunjang terhadap peningkatan mutu pembelajaran yaitu penguasaan materi/kurikulum. Penguasaan ini sangat mutlak harus dilakukan oleh guru dalam menyelenggarakan pembelajaran, mengingat fungsinya sebagai objek yang akan disampaikan kepada peserta didik. Dengan demikian penguasaan materi merupakan kunci yang menentukan keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran, sehingga seorang guru dituntut atau ditekan untuk menguasai materi/kurikulum sebelum melakukan pengajaran di depan kelas. 3. Penggunaan Metode Mengajar. Penggunaan metode mengajar juga merupakan komponen dalam peningkatan mutu pembelajaran yang menunjukkan bahwa metode mengajar yang akan dipakai guru dalam menerangkan di depan kelas tentunya akan memberikan konstribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran. Dengan menggunakan metode mengajar yang benar dan tepat, maka memungkinkan akan mempermudah siswa memahami materi yang akan disampaikan. 4. Pendayagunaan Alat/Fasilitas Pendidikan. Kemampuan lainnya yang menentukan peningkatan mutu pembelajaran yaitu pendayagunaan alat-fasilitas pendidikan. Mutu pembelajaran akan baik apabila dalam pelaksanaan pembelajaran didukung oleh alat/fasilitas pendidikan yang tersedia. Hal ini akan memudahkan guru dan siswa untuk menyelenggarakan pembelajaran, sehingga diharapkan pendayagunaan alat/fasilitas belajar harus memperoleh perhatian yang baik bagi sekolah-sekolah dalam upaya mendukung terhadap peningkatan mutu pembelajaran. 5. Penyelengaraan Pembelajaran dan Evaluasi. Mutu pembelajaran ditentukan oleh penyelenggaraan pembelajaran dan evaluasi yang menunjukkan bahwa pada dasarnya mutu akan dipengaruhi oleh proses. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran, sehingga mampu mewujudkan peningkatan mutu yang optimal. 6. Pelaksanaan Kegiatan Kurikuler dan Ekstra-kurikuler. Peningkatan mutu pembelajaran dipengaruhi pula oleh pelaksanaan kegiatan kurikuler dan ekstra-kurikuler yang menunjukkan bahwa mutu akan mampu ditingkatkan apabila dalam pembelajaran siswa ditambah dengan adanya kegiatan kurikuler dan esktra-kurikuler. Kegiatan tersebut perlu dilakukan, mengingat akan menambah pengetahuan siswa di luar pengjaran inti di kelas dan tentunya hal ini akan menjadi lebih baik terutama dalam meningaktkan kreativitas dan kompenetis siswa. Peranan Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Sebagaimana yang telah diketahui bahwa selain kepala sekolah hal yang tidak kalah pentingnya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah peran, fungsi dan tanggung jawab guru, mengingat guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran, sehingga pada akhirnya out put pendidikan dapat dirasakan oleh masyarakat. Keadaan tersebut dapat terlaksana apabila ditunjang dengan adanya upaya peningkatan kemampuan guru dalam mengelola dan berperan langsung dalam mengajar serta mendidik para siswanya. Guru merupakan pelaksana terdepan pendidikan anak-anak di sekolah. Oleh karena itu berhasil tidaknya upaya peningkatan mutu pendidikan banyak ditentukan juga oleh kemampuan yang ada pada guru dalam mengemban tugas pokok sehari-harinya yaitu pengelolaan pembelajaran di sekolah. Adapun peran dan fungsi guru dalam meningkatkan mutu pendidikan menurut Usman (2014:6-9) meliputi : 1. Guru sebagai demonstrator berfungsi untuk mendemonstrasikan suatu materi pembelajaran, sehingga lebih mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa. Oleh karena itu guru harus mampu menguasai bahan atau materi pelajaran yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkan kemampuannya yang pada akhirnya mampu memperagakan apa yang diajarkannya secara didaktis. 2. Guru sebagai pengelola kelas berfungsi untuk mengendalikan dan mengorganisasikan siswa di dalam kelas agar lebih terarah kepada tujuan pembelajaran. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasikan. 3. Guru sebagai mediator dan fasilitator berfungsi untuk memperagakan suatu media atau alat pembelajaran yang mendukung materi sehingga siswa lebih merasa jelas. Oleh karena itu guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan pembelajaran. 4. Guru sebagai evaluator berfungsi untuk mengevaluasi hasil belajar siswa. Oleh karena itu guru harus melaksanakan evaluasi pada waktu-waktu tertentu selama satu periode pendidikan untuk mengadakan penilaian terhadap hasil yang telah dicapai, baik oleh pihak terdidik maupun oleh pendidik. Sebagai wujud nyata dari guru untuk meningkatkan kompetensi pribadi yang menunjang terhadap peningkatan peran dan fungsi guru tersebut, maka usaha-usaha konkrit yang dapat dilakukan antara lain: (1) guru sebagai demonstrator: mengetahui kurikulum pembelajaran secara keseluruhan, membaca dan mempelajari materi yang akan diajarkan, melatih diri di depan cermin atau rekan sejawat mengenai cara menyampaikan materi yang baik serta mengetahui dan mempelajari cara memperagakan hal-hal yang diajarkannya secara didaktis, (2) guru sebagai pengelola kelas: mengetahui dan memahami aspek-aspek yang berhubungan dengan psikologis siswa, mengetahui latar belakang, sifat, sikap, perilaku dan kemauan siswa yang berhubungan dengan pembelajaran serta mengetahui cara-cara memberikan sanksi dan memotivasi siswa yang diarahkan kepada tujuan pembelajaran, (3) guru sebagai mediator dan fasilitator: mengetahui, memahami dan berketerampilan dalam menggunakan media pengajaran serta mampu berpikir kritis untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media pembelajaran bagi siswa dan (4) guru sebagai evaluator : mampu menyusun alat evaluasi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa, menilai diri sendiri (self evaluation) untuk mengukur keberhasilan dalam menyampaikan materi pelajaran atau melalui rekan sejawat serta mampu melakukan penilaian terhadap hasil prestasi belajar siswa, sehingga dapat diketahui kelemahan dan kekurangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Semua kegiatan tersebut dapat diperoleh guru dalam bentuk wadah pembinaan profesional, pendidikan dan pelatihan serta peningkatan kompetensi secara pribadi atau pendidikan lanjutan. Selanjutnya setelah guru memiliki kemampuan profesional yang menunjang terhadap peran dan fungsinya, maka strategi yang dapat dilakukan sehubungan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan antara lain: pelaksanaan pembelajaran lebih mengaktifkan belajar siswa, perhatian menyeluruh terhadap semua siswa, memahami perbedaan karakter setiap siswa (aspek psikologisnya), memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan melaksanakan evaluasi secara keseluruhan terhadap hasil belajar siswa. Mengingat begitu pentingnya peran dan fungsi guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan terutama dalam pelaksanaan pembelajaran sudah selayaknyalah apabila kemampuanya ditingkatkan, dibina dengan baik dan secara kontinyu, sehingga benar-benar memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan profesinya. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki beberapa syarat yaitu tertentu, sebagaimana yang dikemukakan Hamalik (2011:76), yaitu: 1. Persyaratan fisik, yaitu kesehatan jasmani yang artinya seorang tenaga kependidikan harus berbadan sehat dan tidak memiliki penyakit menular yang membahayakan; 2. Persyaratan psychis, yaitu sehat rohani yang artinya tidak mengalami gangguan jiwa ataupun kelainan; 3. Persyaratan mental, yaitu memiliki sikap mental yang baik terhadap profesi kependidikan, mencintai dan mengabdi serta memiliki dedikasi yang tinggi pada tugas dan jabatannya. 4. Persyaratan moral, yaitu memiliki budi pekerti yang luhur dan memiliki sikap susila yang tinggi; serta 5. Persyaratan intelektual, yaitu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan, yang memberikan bekal guna menunaikan tugas dan kewajibannya sebagai pendidik. Dengan demikian syarat-syarat tersebut dapat ditelaah bahwa syarat yang terakhir yang bersifat khusus dan hanya dilakukan secara khusus pula. Selanjutnya untuk merealisasikan peningkatan mutu oleh guru berdasarkan peran, fungsi dan tanggung jawabnya tentunya guru akan dihadapkan terhadap sejumlah permasalahan antara lain: karakteristik siswa yang berbeda, media pembelajaran yang relatif terbatas, kurangnya pemahaman terhadap aspek psikologis dan latar belakang siswa serta kurangnya koordinasi antara guru dengan orang tua siswa. Oleh karena itu dengan adanya permasalahan tersebut akan menyebabkan guru tidak optimal dalam meningkatkan mutu pendidikan, sehingga guru perlu bekerja sama dengan kepala sekolah dan masyarakat. PEMBAHASAN Permasalahan yang berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang upaya yang dilakukan adalah memberikan kesempatan kepada guru yang mengikuti studi lanjutan pada Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang menunjang keilmuan dan pengembangan karier, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah upaya yang dilakukan adalah pembinaan dari kepala sekolah maupun pengawas sekolah, mengharuskan aktif dalam organisasi keprofesian, mengikuti kegiatan pendidikan dan penataran serta pemberian motivasi dan disiplin dari kepala sekolah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap upaya yang dilakukan adalah pembinaan supervisi yang kontinyu dari kepala sekolah dan pengawas, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran upaya yang dilakukan adalah guru melakukan evaluasi terhadap seluruh pembelajaran dan berkonsultasi dengan guru lainnya, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu upaya yang dilakukan adalah konsultasi dan kerjasama dengan orang tua siswa, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar upaya yang dilakukan adalah memfasilitasi guru dengan fasilitas pendidikan selengkap mungkin dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru upaya yang dilakukan adalah melakukan kegiatan percobaan dalam bidang pengajaran dan mengharuskan guru untuk berusaha sendiri memperkaya pengetahuan melalui berbagai informasi yang sangat bermanfaat bagi kemajuannya. Jika digambarkan, maka pola peran guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran adalah sebagai berikut. Gambar 1 Pola Peran Guru dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Berdasarkan gambar tersebut dapat ditelaah bahwa untuk mencapai mutu pembelajaran terlebih dahulu guru harus membekali diri dengan sejumlah kompetensi dalam bidang pengajaran baik yang dilakukan oleh diri sendiri maupun bantuan kepala sekolah. Kegiatan pembekalan tersebut dilakukan secara kontinyu seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan dunia pendidikan, sehingga pada akhirnya akan membentuk sikap lebih profesional dari guru itu sendiri. Agar kegiatan pembekalan lebih efektif langkah yang perlu dilakukan adalah dengan terlebih dahulu menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi guru serta kebutuhannya sehubungan dengan pelaksanaan tugas mengajar di sekolah. Kegiatan analisis ini penting dilakukan, sehingga proses pembekalan lebih berarti dan sesuai dengan kebutuhan guru. Jika sikap profesional telah dimiliki, maka secara otomatis mutu pembelajaran akan dicapai secara optimal yang ditandai oleh prestasi belajar siswa meningkat, lulusan mampu bersaing dengan sekolah lain dan presentase lulusan banyak diterima di sekolah unggulan. PENUTUP Pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia untuk meningkatkan kualitas diri dan kemampuannya agar berguna baik untuk kehidupannya sendiri maupun lingkungannya. Keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Peranan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran menempati posisi yang secara langsung sangat menentukan keberhasilannya, mengingat guru sebagai figur yang secara langsung terlibat dalam pembelajaran di dalam kelas. Peranan guru dalam meningkatkan mutu pendidikan dapat diidentifikasi dari perilaku guru sebagai fasilitator, demonstrator, pengelola kelas, mediator dan evaluator. Kesemua peran tersebut membutuhkan lagi usaha yang lebih konkrit dan langsung menyentuh terhadap kebutuhan peserta didik agar mutu pembelajaran lebih bermutu. Permasalahan-permasalahan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran berhubungan dengan masih adanya guru yang memiliki kualifikasi pendidikan kurang, sikap profesionalisme guru dalam melaksanakan tugas masih rendah, persiapan guru untuk melaksanakan pengajaran yang kurang mantap, masih sering terdapatnya rentang perolehan nilai siswa yang cukup jauh dalam setiap mata pelajaran, masih terdapatnya siswa yang memiliki nilai merah untuk mata pelajaran tertentu, kurangnya memanfaatkan media dan sumber belajar dan masih rendahnya sikap inovatif serta kreativitas mengajar guru. Setiap permasalahan tersebut dilakukan upaya pemecahannya yang sekiranya mampu dilakukan oleh guru maupun pihak lain di sekolah. Beberapa saran yang dapat diberikan sehubungan dengan peranan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran adalah: agar lebih berhasil dalam meningkatkan mutu PBM, sehingga tercapai prestasi belajar siswa yang memuaskan hendaknya guru dalam melaksanakan tugas mengajar disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan perkembangan siswa dengan tetap mengacu kepada kurikulum yang telah ditetapkan, agar siswa belajar lebih serius dan memiliki perhatian yang tinggi terhadap mata pelajaran yang diberikan, hendaknya guru mampu mengelola kelas secara efektif dan untuk mencegah terjadinya prestasi belajar siswa yang jelek, hendaknya guru dapat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh siswa terutama dalam hal pembelajaran dan membantu mengatasi kesulitan dalam belajarnya, misalnya dengan mengadakan pengajaran remidial atau memberikan kesmepatan kepada siswa yang memiliki nilai jelek untuk memperbaikinya. DAFTAR PUSTAKA Hamalik. 2011. Profesionalisasi Tenaga Kependidikan. Bandung: Angkasa. Kemendikbud. 2014. Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Kemendikbud. Usman. 2014. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Angkasa. Zen. 2010. Peranan Guru dalam Pembelajaran. Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.