Senin, 08 Desember 2014

SEMBILAN CARA UNIK DALAM MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS UNTUK PARA GURU

SEMBILAN CARA UNIK DALAM MEMPELAJARI BAHASA INGGRIS UNTUK PARA GURU

Oleh: Mampuono, S.Pd., M.Kom
Widyaiswara LPMP Jawa Tengah
ABSTRAK
Bagi orang Indonesia, belajar bahasa Inggris tampaknya bukanlah suatu perkara yang mudah. Realitanya, orang masih harus bersusah-payah ketika berkomunikasi dalam bahasa tersebut walaupun banyak dari mereka yang yang sudah mempelajari bahasa internasional ini dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar. Bisa dilbuktikan bahwa bahasa ini sudah dipelajari terus menerus oleh para siswa Indonesia, umumnya selama enam tahun, yaitu tiga tahun di SMP dan tiga tahun di SMA, , namun hasilnya lebih sering mengecewakan daripada sebaliknya. Mereka masih sulit mengimplementasikan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari walaupun faktanya mereka minimal memperoleh pembelajaran bahasa Inggris empat jam pelajaran seminggu di SMP dan SMA. Penulis termasuk satu dari sekian banyak orang Indonesia yang mengalami hal tersebut sekian puluh tahun yang lalu, tetapi pengalaman di lapangan membawa penulis kepada sembilan cara yang unik tetapi efektif untuk mempelajari bahasa Inggris. Cara ini sangat berguna bagi guru karena guru harus banyak belajar hal-hal yang baru dari sumbernya langsung, yaitu yang berbahasa Inggris. Dengan demikian para guru pengetahuannya selalu up to date.

PENDAHULUAN
Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Kemampuan berbahasa Inggris dapat menjadi aspek yang sangat penting bagi kehidupan kita di berbagai bidang, mulai dari bisnis sampai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ter-up date. Bahkan dengan menguasai bahasa Inggris dengan baik seorang penutur asli bahasa Inggris bisa mendapatkan keuntungan dari peningkatan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan menulis. Ada banyak cara yang dapat diakses untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris secara efektif tanpa mengambil kelas formal karena jika kita hanya mengkitalkan pembelajaran bahasa Inggris di sekolah, hasilnya belum tentu memuaskan.
Adalah sebuah keniscayaan bahwa belajar bahasa Inggris bagi orang Indonesia tampaknya bukanlah perkara mudah. Terbukti, banyak sekali orang yang sudah mempelajari bahasa internasional ini dalam jangka waktu yang tidak bisa dibilang sebentar, tetapi realitanya mereka masih harus bersusah-payah ketika berkomunikasi dalam bahasa tersebut. Bayangkan, selama enam tahun, yaitu tiga tahun di SMP dan tiga tahun di SMA, bahasa ini dipelajari terus menerus oleh para siswa Indonesia, namun hasilnya sering tidak sesuai harapan. Para siswa ini minimal memperoleh pembelajaran bahasa Inggris empat jam pelajaran seminggu, nyatanya mereka cenderung masih sulit mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
tahun yang lalu (1989) penulis termasuk satu dari sekian banyak orang Indonesia yang mengalami hal tersebut. Bahkan penulis belajar bahasa Inggris bukan hanya selama enam tahun, tetapi tujuh tahun karena ada tambahan satu tahun (dua semester pada tahun pertama) ketika kuliah di jurusan pendidikan kimia di IKIP Semarang, tepatnya dari tahun 1989-1990. Sampai semester sembilan penulis masih “gagu” dalam urusan komunikasi dalam bahasa yang satu ini. Namun alhamdulillah pada tahun 1994 ketika penulis sedang menjalankan program KKN di kabupaten Wonosobo, penulis di tempatkan di dukuh Klesman, desa Blederan, kecamatan Mojotengah. Penulis berada satu desa dengan seorang mahasiswa jurusan bahasa Inggris yang cakap yang bernama Silakhul Muttaqien. Pertemuan dan interaksi intensif dengan mahasiswa yang asli kelahiran desa Kangkung, kecamatan Mranggen Demak tersebut membuat penulis terinspirasi untuk belajar dan menguasai bahasa Inggris agar kelak bisa jalan-jalan ke luar negeri. Kritikan mahasiswa tersebut tentang kemampuan bahasa Inggris penulis yang masih sangat perlu ditingkatkan membuat penulis sadar diri dan bangkit dari keterpurukan. Waktu itu penulis bepikir, jika anak TK atau gelkitangan di Amerika yang tidak sekolah saja bisa berbahasa Inggris, tentu penulis sebagai “anak sekolahan” harusnya lebih bisa dari mereka. Dan hipothesis penulis tersebut ternyata berhasil penulis buktikan sekian tahun kemudian. Tentu saja diperlukn langkah-langkah yang tepat untuk sampai pada pembuktian hipothesis tersebut. Berikut ini akan diuraikan sembilan langkah yang dapat dikatakan unik yang sudah penulis tempuh dalam belajar bahasa ratu Elizabeth tersebut.
CARA UNIK MENGUASAI BAHASA INGGRIS.
Ada berbagai cara yang ditempuh guru untuk menguasai bahasa Inggris. Berikut ini adalah sembilan cara unik menguasai komunikasi dalam bahasa inggris yang bila diimplementasikan secara kontinyu akan menjadikan guru lebih mahir berbahasa Inggris.
1. Think in English
Bagaimana memberdayakan pikiran kita dalam belajar bahasa Inggris? Pertama, kita perlu mulai berpikir dan mengidentifikasi motivasi kita dengan menanyakan pada diri sendiri mengapa ingin belajar bahasa Inggris. Dengan memahami motivasi, apakah itu untuk membantu memenuhi syarat untuk pekerjaan yang lebih baik, mempelajari ilmu-ilmu ter-update dengan lebih mudah, atau untuk berkomunikasi dengan seseorang yang kita kenal, akan membantu kita tetap tujuan kita belajar bahasa Inggris. Pertama kali yang harus kita pikirkan adalah bahwa bahwa bahasa Inggris itu mudah. Hal itu sangat membantu memotivasi kita untuk lebih meningkatkan diri. Jika anak kecil di London atau gelkitangan di Boston yang sama-sama tidak “makan” sekolah saja bisa berbahasa Inggris dengan lancar, kita yang sudah sekolah mestinya lebih bisa. Apakah English sesulit operasi otak atau mekanika kuantum? Ternyata tidak. Itu hanya bahasa asing, sesuatu yang diucapkan dengan mudah oleh jutaan orang setiap hari tanpa berpikir. Itu seperti kita berbahasa Indonesia. Benar-benar penutur bahasa Inggris memperlakukan bahasa Inggris sebagai hal yang sekunder, bukan sesuatu yang dipikirkan, dan tentu saja kita tidak perlu khawatir, itu hanya keterampilan lain, seperti menyapu bersepeda atau mengendarai mobil. Ini adalah sesuatu yang dapat kita capai dengan mudah. Yang dibutuhkan adalah cara berpikir yang benar dan sedikit usaha. Mari kita mulai berpikir bahwa bahasa Inggris itu mudah.
Kedua, ketika pada umumnya orang lain memulai belajar bahasa asing dengan listening, kita bisa kembali ke awal dan memulainya dengan thinking. Ya, ini seperti pepatah, “mulutmu harimaumu!” dalam bentuk lain. Pikir baik-baik sebelum bicara! Diperlukan sedikit tambahan energi untuk mencoba cara ini. Kita harus berusaha keras merombak semua pola pikir yang ada di dalam otak penulis ke dalam bahasa Inggris. Ibaratnya ada dua buah folder, yaitu folder bahasa Indonesia dan folder bahasa Inggris di dalam otak kita. Maka ketika sedang terfokus belajar bahasa Inggris, yang diaktifkan adalah folder bahasa Inggris. Contoh: Ketika kita mendengar orang berbicara atau kita sendiri berbicara, di dalam hati kita menterjemahkan pembicaraan itu ke dalam bahasa Inggris sebisanya. Jika suatu ketika kita tidak tahu tahu arti kata dalam pembicaraan itu, kita akan mencatatnya baik-baik di dalam ingatan, selanjutnya usahakan kalau ada kesempatan kita membuka kamus untuk mencari artinya. Ketika mengalami atau melihat suasana tertentu, atau ketika membaca buku, koran, bahkan membaca bacaan sholat, semuanya kata dan kalimat coba diartikan dalam bahasa Inggris. Kebiasaan itu lambat laun memperkaya kosa kata kita dalam bahasa Inggris. Pengalaman penulis, hal-hal kecil yang penulis lakukan sehari-hari juga penulis cari terjemahannya di dalam kamus yang penulis miliki.
Misalnya:
- Kentut : fart
- Terkentut : Let fart by accident
- Berkacak pingg
ang : akimbo
- keplengkang
(Jawa) : straddled
- Kejlungub
(Jawa) : fall headfirst
- gragapan (Jawa) : grapple,
-
menungging : topsy-turvy
-
terjungkal : upside down
-
tergeletak : sprawl
- telentang = recumbent
- dengan telentang= recumbently
- mengkurep (Jawa) = prone
- miring(Jawa) = tilt, sideways
- merot(Jawa) = asymmetrical
- tonggos, prongos = crooked
- nylekutar, njepat (Jawa) = bouncy, curl up
dll.

2. Listening All the Time
Tiada hari tanpa listening. Hal termudah yang dilakukan penulis saat itu adalah memanfaatkan piranti elektronik paling umum, yaitu TV dan radio. Menonton atau mendengarkan media dalam bahasa Inggris adalah cara untuk meningkatkan pemahaman bahasa Inggris tanpa merasa seperti kita belajar. Menonton film Inggris yang populer dan mendengarkan musik Inggris Pada tahun-tahun 1995-an penulis selalu menyempatkan diri melakukan aktivitas listening terhadap film barat yang diputar di TVRI setiap malam (adanya saat itu hanya TVRI) selama dua jam setiap malam. Setiap jam 21.30 setelah siaran Dunia Dalam Berita biasanya di TVRI diputar film-film barat. Anehnya setelah skian lama melakukan kegiatan ini, seringkali penulis bermimpi didatangi oleh para aktor yang ada di film-film tersebut dan berkomunikasi dengan mereka. Kegiatan listening penulis bermula dari pemahaman yang sangat minim, tetapi karena penulis rutinkan maka kemampuan penulis lambat laun meningkat pesat. Penulis bahkan juga mulai menirukan sepersis mungkin apa yang diucapkan para aktor di film-film tersebut. Dengan bangga penulis bisa menyebut bahwa bintang film serial HUNTER adalah salah satu guru native speaker penulis karena dia salah satu yang sering berkunjung ke dalam mimpi penulis. Di samping itu penulis sempatkan juga melakukan aktivitas listening terhadap siaran radio luar negeri selama dua jam setiap pagi. Hampir setiap hari, mulai jam 04.00-06.00 WIB penulis mendengarkan siaran BBC, Radio Australia, dan VOA dalam siaran gelombang SW2 dari radio bekas yang penulis beli seharga 7500 rupiah di PM (maaf, PM = Pasar Maling, nama untuk pasar barang loak di Semarang, sekarang sudah lama digusur). Lama-lama karena kegiatan itu jadi kebiasaan, seiring dengan peningkatan kemampuan listening penulis akhirnya penulis mulai paham dengan sendirinya materi yang ada di dalam siaran radio tersebut.
3. Reading All the Time
Saat kita membaca bahasa Inggris itu berarti bahwa kita menggunakan otak dengan cara yang sangat aktif. Membaca adalah proses yang sangat aktif. Ketika membaca teks, kita dapat secara kritis membayangkan adegan di kepala kita, memahami dengan jelas apa yang penulis coba katakan atau setuju dan tidak setuju dengan penulis.
Ada banyak keuntungan yang terkait dengan membaca, salah satunya adalah belajar kosakata dalam konteks. Kita biasanya akan menemukan kata-kata baru ketika membaca. Jika dalam membaca ditemukan terlalu banyak kata baru, itu artinya tingkat bacaan terlalu tinggi, dan kita harus beralih membaca sesuatu yang sederhana. Tapi jika ada, katakanlah, maksimal lima kata baru per halaman, kita akan belajar kosa kata ini dengan mudah. Kita sering kali tidak perlu repot-repot membuka kamus karena kita bisa menebak makna dari sisa teks (dari konteks). Kita tidak hanya belajar kata-kata baru, namun kita juga akan terbiasa melihat kata-kata tersebut digunakan secara alami.
Membaca juga merupakan aktivitas mencermati sebuah model untuk menulis. Ketika kita membaca, bacaan itu memberikan contoh yang baik untuk menulis. Teks yang kita baca menunjukkan struktur dan ekspresi yang dapat kita gunakan ketika menulis. Selain itu, dengan membaca kita bisa mencermati stuktur bahasa Inggris yang benar. Ketika orang menulis, mereka biasanya menggunakan struktur gramatikal bahasa Inggris yang tepat. Hal ini tidak selalu benar ketika orang berbicara. Jadi, dengan membaca kita melihat dan belajar tata bahasa dalam bahasa Inggris yang alami.
Kita dapat membaca secepat atau selambat yang kita inginkan. Kita dapat membaca sepuluh halaman dalam 30 menit, atau mengambil satu jam untuk mengeksplorasi hanya satu halaman. Tidak masalah. Pilihan ada di tangan kita. Kita tidak dapat dengan mudah melakukan hal ini ketika berbicara atau mendengarkan. Ini adalah salah satu keuntungan besar dari membaca karena orang yang berbeda bekerja pada kecepatan yang berbeda.
Untuk melengkapi dan memperbanyak kosakata bahasa Inggris yang penulis miliki, penulis mulai membaca apa saja asal artikelnya dalam bahasa Inggris. Mulai dari buku kimia terbitan luar negeri semacam Organic Chemistry yang setebal 800 halaman, novel-novel picisan, cerita rakyat, koran The Jakarta Post bekas, sampai majalah Hello bekas yang penulis beli Rp.1000 dapat tiga. Penulis baca semua sambil sangu kamus. Pikir penulis kalau penulis "khatam" satu majalah, insya Allah penulis akan mudah mengkhatamkan yang lain karena bahasanya kurang lebih sama. Dan kenyataannya memang benar-benar demikian.
4. Speaking All The Time
Salah satu aspek yang paling penting untuk mendapatkan kemahiran dalam bahasa apapun adalah dengan berbicara secara teratur. Belajar-sendiri dapat meningkatkan membaca dan pemahaman keterampilan, tetapi berinteraksi dengan penutur bahasa Inggris lainnya sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dunia nyata dan penggunaan praktis bahasa Inggris. Jika kita tinggal di sebuah lingkungan bilingual, misalnya sekolah internasional, pondok pesantren, atau kampung Inggris sebagaimana di Kota Pare Kabupaten Kediri, kita bisa aktif meningkatkan kemampuan kita dengan mengimplementasikan kegiatan setiap hari dengan berbicara hanya dalam bahasa Inggris. Berteman berbahasa Inggris, mungkin mereka yang tertarik untuk belajar bahasa yang berbeda yang kita berbicara, juga dapat membantu meningkatkan kemampuan kita . Tinggal di sebuah negara berbahasa Inggris akan membantu membuat kita tenggelam dalam bahasa dan meningkatkan berbahasa Inggris, kita harus punya partner semua aspek pengetahuan bahasa Inggris kita. Namun, bagaimana jika semua itu tidak kita miliki?
Pengalaman ini pernah penulis alami. Ajaran yang penulis peroleh adalah, jika ingin sukses berbahasa Inggris, kita harus punya partner. Dan kenyataannya penulis tidak memiliki partner sama sekali. Tetapi jangan kehilangan akal, kita bisa membuat partner imajinasi. Kita bisa tetap berbicara dalam bahasa Inggris dengan teman bayangan kita tersebut. Mulailah menjadi getol atau bahkan "gila" dengan selalu berbicara dalam bahasa Inggris di mana ada kesempatan, terutama sekali ketika berada dalam perjalanan. Caranya? Penulis menutup helm cakil (helm untuk pembalap) penulis, lalu mulai "ngedumel" dan "ndremimil" dalam bahasa Inggris. Yang penulis ucapkan adalah dialog-dialog dalam film atau radio dan penulis ulang-ulang sepersis mungkin (hingga akhirnya penulis menemukan berbagai metode gila cara belajar English yang sukses). Siapa partnernya? Siapa lagi kalau bukan para tokoh imaginer di dalam film atau radio?
Untuk membuat cara berbicara bahasa Inggris kita lebih fasih, terurutama dalam mengucapkan konsonan ledak seperti pada bunyi huruf c, d, k, dan p kita dapat menggunakan cara khusus. Kalau orang lain memaksa bahasa Inggris ke dalam aksen bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, penulis justeru sebaliknya. Penulis berbicara dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia dengan logat asing. Kita menamainya logat Asindo (asing-Indonesia) sebagaimana yang dilakukan olah artis Cinta Laura atau pebola Christian Gonzales. Pendeknya kalau mereka asli sedangkan penulis memang sengaja meniru agar nantinya pronunciation penulis lebih baik.
Sampai saat ini, karena penulis banyak bepergian dengan mengendarai mobil, maka biasanya penulis menyetel siaran radio dalam bahasa Indonesia. Lantas, ketika penyiarnya mengucapkan kalimat-kalimat siarannya dalam bahasa Indonesia, penulis cepat-cepat menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Cara ini sangat efektif untuk memelihara kemampuan bahasa Inggris penulis. Terbukti ketika bulan April 2008 penulis harus berpidato di hadapan 200 orang guru dari 22 negara karena sempat menjadi salah satu yang terbaik dalam event Microsoft Asia Pacific Innovative Teacher Competition, banyak guru dari kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia menyatakan apresiasinya terhadap pidato bahasa Inggris penulis. Demikian juga pada bulan Oktober 2013 lalu ketik penulis harus berpidato di hadapan para pejabat Indonesia, duta besar, rektor, dan tokoh-tokoh pendidikan dari Finlandia semisal Prof.Dr.Pashi Sahlberg (Penulis buku best seller, Finnish Lesson), penulis banyak mendapat apresiasi sebagai great presenter dari mereka karena kelancaran bahasa Inggris penulis.
DSC02795.JPG
Gambar 1: Penulis menerima penghargaan sebagai salah satu juara guru Innovative tingkat Asia Pasific dari Director of Unesco (April 2008).
https://fbcdn-sphotos-g-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/1383011_10202154334690289_846934532_n.jpg
Gambar 2: Berbicara di depan duta besar dan para tokoh pendidikan dari negara dengan sistem pendidikan terbaik, Finlandia.
5. Writing All the Time
Kemampuan tertinggi seseorang dalam menguasai bahasa terlihat dari kemampuannya menulis, maka tidak salah jika porsi latihan tulis-menulis dalam bahasa Inggris juga perlu ditingkatkan. Setiap saat jika tersedia waktu kita dapat selalu menuliskan even-even yang dialami ke dalam lembaran-lembaran kertas. Sebagai misal, ketika seorang guru sedang mengawasi ulangan atau ujian nasional, maka tangan guru tersebut diharapkan tidak pernah berhenti mencorat-coretkan ide dalam bahasa Inggris. Usaha terebut tidak hanya berguna untuk menghilangkan kejenuhan dan menghabiskan waktu menunggu, tetapi juga memperbaiki ketrampilan writing para pembelajar bahasa Inggris. Bahkan ungkapan hati terdalam terhadap sesuatu atau seseorang yang dapat digoreskan dalam tulisan berbahasa Inggris. Bagi yang masih membujang, ada kalanya ungkapan hati sebaiknya terkirim dalam bahasa Inggris, baik melalui surat, email, Blackberry message, sms, atau media sosial, meskipun dengan resiko memaksa penerimanya sering membuka kamus atau dibiarkan sama sekali.
kita dapat memotivasi diri dengan harapan dan impian masa depan lebih baik dengan terus-men erus emnulis dalam bahasa Inggri. Contoh, saking semangatnya menulis dalam bahasa Inggris, thesis S-2 penulis di jurusan Gametech UDINUS ketika menjadi mahasiswa Beasiswa Unggulan Kemdikbud tahun 2007-2010 juga penulis tulis dalam bahasa Inggris. Ringkasn thesis tersebut pernah masuk ke dalam proceeding di sebuah seminar internasional (ISODEL = International Seminar of Open Distance Learning) yang dihadiri peserta dari 18 negaradi seluruh dunia yang penulis juga menjadi salah satu pembicaranya. Hingga saat ini, kebiasaan menulis dalam bahasa Inggris penulis salurkan dengan berkomunikasi dengan teman-teman guru dari negara lain ataupun dengan memasuki sebuah dunia virtual yang disebut Second Life, di mana penulis yang diwakili avatar penulis bisa berkeliling dunia dan bertemu berbagai karakter avatar dari berbagai bangsa dan berkomunikasi dengan mereka.

Senin, 11 Agustus 2014

Menyemai Benih Guru Kreatif Abad 21[1]



Menyemai Benih Guru Kreatif Abad 21[1]
Oleh : Nugroho[2]

Guru Biasa hanya mendongeng,
Guru Baik menjelaskan,
Guru Ulung memperagakan,
Guru Masyhur mengilhami!

  1. Pendahuluan
Praksis pembelajaran dewasa ini mengalami perubahan yang demikian pesat; dari yang sangat konservatif --ditandai dengan peran dominan guru (teacher centered)-- kini bergeser ke dominannya peran aktiif siswa (student centered). Relasi peran guru murid dalam pembelajaran memang telah jauh berubah dari yang semula murid hanya diposisikan sebagai obyek kini tidak lagi demikian; siswa adalah subyek yang menentukan. Dari sisi substansi materi perubahan itu juga tampak dalam pemahaman terhadap makna materi ajar (subject matter). Di masa lalu materi ajar – ilmu pengetahuan dipahami sebagai sesuatu yang sudah “given” (sudah jadi, sudah tuntas, sudah paripurna) dan oleh karenanya tugas pembelajaran dikelas adalah mentransfer ilmu pengetahuan atau subyek matter tersebut kepada siswa. Pada masa kini,  materi ajar (subject matter) tidak bisa lagi dimaknai sebagai sesuatu yang sudah final, sudah jadi melainkan harus dipahami sebagai sesuatu yang masih harus dikembangkan disempurnakan.
Ada tiga aspek yang menjadi faktor penentu berlangsungnya percepatan perubahan praksis pembelajaran. Pertama, kemajuan di bidang riset tentang mekanisme kerja dan fungsi otak. Riset tentang mekanisme kerja otak memfokuskan pada kajian tentang bagaimana proses kerja saraf-saraf otak saat siswa diajar, atau saat siswa berpikir. Sementara itu riset tentang fungsi otak telah berhasil membedah adanya perbedaan fungsi berpikir antara belahan otak kiri dan belahan otak kanan; serta temuan otak emosional yang menguatkan fungsi memori dan mengoptimalkan sinergi kerja otak kanan dan otak kiri. Hal ini memberikan sumbangan penting dalam perubahan praksis pembelajaran yang sesuai untuk merangsang berfungsinya otak secara optimal. 

Kedua, riset di bidang inteligensi dengan tokohnya Howard Gardner dengan bukunya Frame of Mind; The Theory of Multiple Intelligences (2001) menemukan teori multiple intelligence.  Temuan Gardner ini mematahkan mitos yang selama ini diyakini masyarakat luas yang menyebutkan bahwa kecerdasan intelektual (IQ) adalah faktor penentu dalam keberhasilan studi seseorang. Temuan Gardner menyebutkan bahwa kecerdasan intelektual itu tidak bermatra tunggal melainkan bermatra jamak, dengan demikian faktor penentu keberhasilan studi itu bukan hanya IQ. Temuan paling mutakhir bahkan menyebutkan bahwa kontribusi IQ dalam menunjang keberhasilan sesorang hanya 20 % saja; selebihnya ditentukan oleh faktor lain terutama oleh kecerdasan emosional. Selanjutnya. Solovey (1995); Goleman (1996); menemukan teori tentang kecerdasan emosional. Meskipun demikian masyarakat hingga saat ini masih sangat mendewa-dewakan kehebatan IQ; maka laris manislah penjual jasa psikotes di sekolah-sekolah.
Ketiga, perubahan yang berlangsung dalam paradigma pendidikan; yang semula sangat didominasi oleh paradigma konservativism yang didukung oleh psikologi behavioristik; kini telah bergeser kearah paradigma progresif-eksistensialism yang ditopang oleh psikologi humanism-eksistensialism.  Pendidikan konservatis memandang praksis pendidikan sebatas mencetak warga negara yang patuh dengan jalan melestarikan nilai-nilai luhur suatu masyarakat yang sudah paripurna (given). Sekolah lantas dimaknai sebagai tempat berlangsungnya transfer of knowledge. Inilah yang menjadikan praksis pembelajaran mengalami distorsi menjadi sekedar aktivitas menghafal dan mempraktekkan; dengan demikian peran guru hanya sebatas “pawang” atau pelatih. Hal ini berakibat pada menurunnya peran (baca: derajat) guru dari teaching didistorsi menjadi training; dan dari training menjadi sekedar drill!. Kini di abad 21 dalam paradigma pendidikan yang progresivim-eksistensialism peran guru tidak hanya sebatas tukang atau pawang; melainkan sebagai fasilitator, inspirator yang menjadi mitra belajar siswa-siswanya sehingga siswa mampu menemukan ilmu pengetahuan baru, Houston, 1989). Dalam hal  ini sekolah bukan sekedar tempat transfer ilmu pengetahuan melainkan lebih luas dari itu yakni sebagai the fabric of the new meaning, new value and the new science.



Merunut dahsyatnya temuan-temuan penelitian dan arus perubahan pada tiga domain tersebut di atas, maka jelas bahwa reposisi peran guru merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Abad 21 butuh guru yang lebih kreatif dan inovatif. Bukan guru yang hanya trampil mengikuti juklak dan juknis dari birokrasi pendidikan. Tanpa ada kesanggupan dan kesiapan untuk melakukan reposisi peran; maka eksistensi guru semakin diragukan masyarakat

b.      Peran Guru Abad 21
Peran dan fungsi guru dalam pembelajaran modern  mencakup: pemandu bakat dan potensi siswa; pengembang kurikulum, perancang desain pembelajaran, pengelola proses pembelajaran, peneliti dan penilai proses serta hasil belajar. Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi tersebut dibutuhkan bekal pengetahuan dan keahlian yang ditopang kreativitas dan inovasi yang dilandasi oleh sikap kerja yang penuh dedikasi terhadap profesi.                                                                                                                  
1.      Pemandu bakat siswa
Guru yang baik mampu mengenali secara dini potensi-potensi keberbakatan yang dimiliki setiap siswanya. Sudah ditegaskan di muka bahwa orientasi didaktis-psikologis masa kini tidak lagi bersifat teacher centered ataupun subject matter centered melainkan lebih kepada student centered yang intinya adalah pada optimalisasi potensi. Mengacu pada temuan Gardner tentang multiple intelligence guru harus mampu memetakan jenis keberkatan dan kecerdasan apa saja yang dimiliki siswa di kelasnya. Hal ini penting untuk menyusun “menu” pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap siswa. Perlu dicatat bahwa trend pembelajaran modern mengutamakan pelayanan individual dalam suasana klasikal. Setiap bakat dan potensi siswa dilayani; namun tidak secara eksklusif terpisah dari komunitasnya, melainkan tetap dalam suasana kebersamaan klasikal.  

2.      Pengembang Kurikulum.
Berdasarkan pemahaman yang akurat atas potensi, bakat, dan kebutuhan belajar siswa, guru mengembangkan kurikulum. Dalam hal ini diperlukan kepiawaian untuk mensinergikan antara tuntutan kurikulum nasional dengan tuntutan kebutuhan belajar siswa. Tanpa keberanian kreatif dari guru sebagai pengembang kurikulum maka kepentingan perkembangan keberbakatan siswa akan dikorbankan demi target kurikulum nasional; hal inilah yang selama ini terjadi.
Dalam pengembangan kurikulum guru di samping harus mengacu pada kebutuhan bakat minat siswa, hendaknya juga tepat dalam memposisikan keberadaan sekolah sebagai institusi  “produsen” ilmu pengetahuan dan juga sebagai “distributor” ilmu pengetahuan. Sebab seperti dikatakan oleh Price, R.F (1996) di era kapitalisme jika sekolah mengabaikan dua tugas tersebut maka keberadaan sekolah tidak lebih dari sekedar “budak-budak” pasar. Konyolnya, setiap pergantian kurikulum selalu berbasis argumentasi tuntutan pasar! Ini adalah logika yang terbalik; bukanya sekolah yang harus menyesuaikan dengan pasar namun seharusnya justru sekolah yang akan menentukan pasar. Pasar itu dikreasi oleh manusianya jangan dibalik manusia dikreasi oleh pasar! Hal lain yang juga penting dalam pengembangan kurikulum adalah substansi tentang penguasaan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Higher order thinking adalah substansi penting yang harus masuk dalam setiap pengembangan kurikulum. Kualitas unggul sumberdaya manusia ditentukan dari kemampuan berpikirnya. Pengelolaan potensi otak secara maksimal dalam arti mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis inilah yang diabaikan dalam setiap kali perombakan kurikulum. Meskipun judulnya sudah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) tanpa sanggup mengolah kapasistas mental berpikir tingkat tinggi yang kreatif dan kritis; pendidikan kita hanya akan melahirkan generasi  “tukang”  kelas rendah.

3.      Perancang desain pembelajaran
Merancang desain pembelajaran adalah juga tugas yang harus bisa dilakukan dengan baik oleh guru. Dalam merancang desain pembelajaran guru hendaknya mengacu pada hasil-hasil penelitian yang mutakhir. Menurut riset-riset tentang mekanisme kerja otak dalam proses belajar dan berpikir disebutkan bahwa, kehidupan emosional mendahului-mendasari proses kognisi (Pribam, 1971; Clark, 1986, Strongman, 1996, dan LeDoux, 1999). Maka pembelajaran seharusnya mampu menyulut berfungsinya amygdala sehingga dapat memicu optimalisasi fungsi otak emosional dan otak intelektual sehingga tercipta multiple chance of education karena terbukanya multiple channel dalam proses belajar (Semiawan, 2000).


Hubungan yang serasi antara otak emosional dan otak intelektual, menjadikan saraf otak manusia bisa bekerja dalam  modus gelombang alpha yang rileks dan meditative yang sangat diperlukan dalam berpikir tingkat tinggi dan mampu mengelola diri sendiri dalam belajar (Levinger , 1997; Rose dan Nicholl, 1997).

Memperhatikan temuan penelitian di bidang otak sepeti diatas, maka desain pembelajaran yang relevan untuk tujuan tersebut adalah pembelajaran konstruktivism seperti yang dikemukakan oleh Gagne, (1985), Marzano, (1992) Reigeluth, (1983), Degeng, (2001). Pembelajaran konstruktivism mengutamakan terbentuknya sikap dan persepsi positif terhadap belajar, perolehan dan pengintegrasian pengetahuan, perluasan dan penyempurnaan pengetahuan, serta pembiasaan mental berpikir produktif.
Apabila yang dihadapi oleh  guru adalah anak-anak yang gifted and talented (anak-anak dengan keberbakatan khusus) maka guru perlu membuat desain pembelajaran yang spesifik sesuai kebutuhan mereka misalnya dengan desain Enrichment and Acceleration (Maker 1991; Renzulli, 1977); atau Schoolwide Enrichment Model dan The Autonomous Learner Model.

4.      Pengelola Proses Pembelajaran
Kemampuan merancang desain pembelajaran harus dilanjutkan sampai pada kemampuan mengelola atau mengimplementasikan desan pembelajaran. Dalam hal ini perlu dicatat bahwa, pembelajaran preskriptif maupun deskriptif sama-sama lemahnya dalam memahami perilaku siswa sebagai pihak yang aktif belajar. Kedua proses pembelajaran itu sibuk berkutuat pada persoalan hasil belajar dan metode pembelajaran; sementara itu siswa sebagai subyek pebelajar kurang mendapatkan perhatian.
Hal ini sangat berbeda dengan pembelajaran konstruktivistik yang memberikan perhatian lebih mendalam terhadap siswa sebagai subyek pebelajar.  Pembelajaran konstruktivistik adalah suatu proses pembelajaran yang  mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep-konsep baru, pengertian - pengertian baru, pengetahuan-pengetahuan baru berdasarkan data, informasi dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Proses tersebut akan efektif jika siswa mampu secara kreatif merancang tujuan belajar dan memiliki konsern  yang kuat terhadap proses belajar (Clough dan Clark, 1994). Agar memiliki makna, belajar harus terjadi dalam latar yang actual dan diacukan ke arah pemecahan masalah yang aktual yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.  Pentingnya kebermakanaan dalam proses belajar juga ditegaskan oleh Gagne (1985), dan Marzano (1992).

Pembelajaran konstruktivistik tidak teacher centered ataupun student centered. Sebaliknya, konstruktivism memposisikan kesetaraan guru - siswa dalam proses pembelajaran sehingga memungkinkan  terjadinya proses elaborasi terhadap prinsip-prinsip dan konsep yang dipelajari guna membangun pengatahuan baru yang bermakna. Oleh karena itu mengajar haruslah “menghidupkan” topik yang mati sehingga tercipta pemahaman, penguasaan, dan rasa cinta pada materi yang diajarkan serta tumbuh komitmen untuk mempelajarinya lebih dalam (Glaser, 1996). Mengajar idealnya mampu memberikan pengalaman baru dan pencerahan pada siswa sehingga mereka mengalami “ketagihan” (addictive) untuk belajar sendiri lebih dalam. Ringkasnya, konstruktivism memandang penting peran siswa untuk dapat membangun constructive habits of mind dalam diri masing-masing siswa melalui setiap proses pembelajaran (Driver dan Leach, 1993). Pembelajaran konstruktivism memiliki beberapa varian, diantaranya discovery learning, scaffolding learning, cooperative learning, problem based instruction (Slavin, 1994; Arends, 1997).



5.      Peneliti, Penilai dan Penulis
Profesi guru adalah profesi intelektual yang siklus alaminya mencakup membaca, mengajar, meneliti dan menulis secara terus menerus menjadi satu siklus yang tidak pernah berhenti. Membaca yang banyak di bidang ilmu yang menjadi tangung jawabnya adalah kewajiban mutlak; berdasarkan bahan bacaan yang dikuasai itu guru menguatkan muatan materi ajar, hal itu akan menambah bobot kualitas pembelajaran yang diampu (Ryan and Cooper; 1998).
Selanjutnya, proses belajar yang dikelolanya juga dievaluasi secara terprogram dan temuan-temuannya ditulis menjadi catatan hasil penelitian. Kemampuan meneliti para guru sekarang seang gencar ditingkatkan melalui pelatihan penelitian tindakan kelas (classroom action research) memang sangat cocok bagi guru untuk senantiasa memperbaiki kemampuan pengelolaan proses pembelajaran. Elliot (1991) mengatakan guru yang berkualitas senantiasa “memperbaiki” performancenya dengan cara melakukan  classroom action research  yang hasilnya kemudian ditulis dalam naskah yang didiskusikan bersama peer groupnya (semacam MGMP atau KKG di sini).
Hasil penelitian yang dilakukan sendiri juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk menulis buku bahan ajar dan sejenisnya. Guru yang selalu memperbaharui pengetahuan dan kemampuan mengajar melalui meneliti dan menulis akan mencapai performance yang exellence. Tulisan-tulisan yang dibuat oleh guru lebih memiliki bobot ilmiah karena berbasis dari data akurat yang sehari-hari dihadapi oleh guru. Meskipun demikian banyak guru yang kemampuan menulisnya masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, saat ini banyak sekali buku-buku yang ditulis oleh orang-orang yang kesehariannya tidak secara langsung berkecimpung dengan dunia pendidikan. Padahal lewat MGMP ataupun KKG guru semestinya mampu menulis sendiri bahan ajar yang mereka butuhkan.
Melakukan penilaian adalah tugas dan tangggung jawab guru yang selama ini juga sering terampas oleh birokrasi pendidikan. Implementasi KBK menuntut model evaluasi yang lebih autentik, bukan hanya bersifat paper and pencil test semata.
Ada sejumlah model atau sistem penilaian yang menurut hemat saya lebih cocok digunakan untuk memenuhi tujuan tersebut di atas. Sistem penilaian itu antara lain adalah evaluasi proyek, evaluasi performance dan evaluasi portofolio. Dalam kesempatan ini akan dibahas masing-masing sistem penilaian tersebut; tentu saja serba singkat mengingat keterbatasan waktu yang ada.

c. Penutup
Abad 21 ditandai dengan revolusi informasi yang selanjutnya memicu munculnya kecenderungan knowledge base economy yang menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai modal utama (menggantikan modal capital berupa uang dan sumberdaya alam) dalam membangun kesejahteraan masyarakat – bangsa. Untuk menyiapkan masyarakat pembelajar (learning society) menuju knowledge base economy maka dibutuhkan guru-guru yang kreatif-inovatif yang  selalu memiliki kegelisahan intelektual menyemaikan benih-benih kreativitas pada muridnya, memberi inspirasi untuk mengembangkan produk-produk baru.
Abad 21 membutuhkan guru yang memiliki komitmen kuat terhadap profesi, berjiwa altruistic (suka menolong atau membantu orang lain dalam hal ini muridnya), memiliki kecerdasan spiritual yang kokoh. Ketiga hal tersebut merupakan persoalan serius dalam kepribadian guru Indonesia saatini yang cenderung suka mengeluh, kurang gigih mengembangkan keahlian profesionalnya, rendah komitmentnya terhadap profesi. Hal ini dapat dibuktikan dari temuan tim independent monitoring dan evaluasi program sertifikasi yang menemukan banyaknya manipulasi portofolio para guru. Hal ini cermin rendahnya kejujuran dan komitmen moral guru. Abad 21 menempatkan komitmen dan kejujuran sebagai landasan jmoral dalam pembangunan manusia. Pertanyaannya kapan guru Indonesia mereformasi dirinya menjadi lebih jujur terhadap tanggungjawab profesi, dan memiliki komitmen yang kuat untuk senantiasa mengembangkan keahlian profesionalitasnya.




Rabu, 25 Juni 2014

JADWAL KEGIATAN PPD


NO KEGIATAN Tanggal
1 Pendaftaran tidak datang langsung ke satuan pendidikan 29 Juni - 3 Juli 2014
2 Pendaftaran datang langsung ke satuan pendidikan 30 Juni - 4 Juli 2014
3 Verifikasi Data Pendaftar 30 Juni - 4 Juli 2014
4 Batas akhir pencabutan berkas pendaftaran pukul 10.00 WIB 4 Juli 2014
5 Analisis dan penyusunan peringkat 5 - 7 Juli 2014
6 Pengumuman penerimaan 8 Juli 2014
7 Pendaftaran ulang daring (online) 8 - 10 Juli 2014
8 Verifikasi data pendaftaran ulang ke satuan pendidikan 10 - 11 Juli 2014
9 Hari pertama masuk satuan pendidikan  14 Juli 2014