Selasa, 14 April 2015

KELUARGA CEMARA

Harta yang paling berharga, adalah keluarga Istana yang paling indah, adalah…Keluarga Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga Mutiara tiada tara, adalah … Keluarga Selamat pagi emak Selamat pagi Abah Mentari hari ini berseri indah Terima kasih emak Terimakasih Abah sumpah sakti perkasa dari kami putera-puteri yang siap berbakti

Jumat, 20 Februari 2015

PROFIL KINERJA GURU MENINGKATKAN KINERJA GURU DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF

PROFIL KINERJA GURU MENINGKATKAN KINERJA GURU DALAM MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF Dra.Suminarsih,M.Si Widyaiswara LPMP jawa Tengah Abstrak Penilaian Kinerja Guru (PK Guru) telah dilaksanakan di sekolah sejak tahun 2013, namun hasilnya belum sesuai dengan profil kinerja guru yang diharapakan. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi dan bahan pemikiran bagi guru, Kepala Sekolah dan stake holder pendidikan lainnya agar PK Guru hasilnya sesuai dengan profil kinerja guru. Sekolah efektif adalah sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diharapkan dalam menyelenggarakan proses belajarnya, dengan menunjukkan hasil belajar yang bermutu pada peserta didik sesuai dengan tugas pokoknya. Dengan memahami profil kinerja guru harapannya PK Guru dapat berjalan sesuai dengan proses yang semestinya, dan akan memiliki kontribusi dalam mewujudkan sekolah yang efektif, karena guru merupakan kunci keberhasilan dari terwujudnya sekolah efektif. Kata kunci: profil kinerja guru, penilaian kinerja guru, sekolah efektif I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang - Undang No.14 tahun 2013 Guru dan Dosen pasal 1 menyatakan Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Untuk dapat melaksanakan tugas fungsinya PP 74 Tahun 2008 tentang Guru pasal 2 manyatakan Guru wajib memiliki Kualifikasi Akademik, kompetensi, Sertifikat Pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional . Dalam melaksanakan tugas nya diperlukan seperangkat kompetensi, pasal 3 menyatakan 1) Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan 2) Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. (3) Kompetensi Guru sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bersifat holistik. Oleh sebab itu, profesi guru perlu dikembangkan secara terus menerus dan proporsional menurut jabatan fungsional guru. Selain itu, agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka diperlukan Penilaian Kinerja Guru (PK GURU) yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan. Pelaksanaan PK Guru telah dimulai Tahun 2013, fakta dilapangan belum semua sekolah melaksanakan dengan baik. Dari hasil kunjungan ke beberapa sekolah berbagai jenjang , sekolah yang telah melaksanakan PKGuru hasilnya menunjukkan 90% nilai PK Gurunya amat baik dan baik, jarang sekali guru yang mendapat nilai cukup, sedang apalagi kurang. Fenomena tersebut tidak sesuai dengan profil kinerja guru yang telah ditetapkan, hal ini disebabkan pengaruh budaya timur ”ewuh-pekewuh” tidak sampai hati untuk menelia temannya belum baik. Hal ini menyebabkan PKGuru yang telah dilaksanakan belum memberikan potret/profil guruu seutuhnya. Makalah ini akan membahas PKGuru kaitannya dengan profil kinerja guru dan hubungannya dengan peran guru mewujudkan sekolah efektif. Guru adalah kunci keberhasilan pembelajaran di kelas, pembelajaran bermutu menjadi salah satu indikator sekolah efektif . B. Permasalahan PKGuru yang dilaksanakan di sekolah belum sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan, misal berkas instrumen yang harus dilengkapi masih ada yang salah, catatan fakta tidak lengkap, perhitungan usulan angka kredit belum benar, dan masalah-masalah yang lain. Selain itu hasil PKGuru belum menunjukkan potret sesungguhnya umumnya tidak mencerminkan kompetensi guru yang sebenarnya. Permalasalahan dari makalah ini adalah: 1. Bagaimana hasil PKGuru sesuai dengan Profil Kinerja Guru 2. Bagaimana PKGuru dapat membantu mewujudkan sekolah efektif. C. Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah 1. Profil Kinerja Guru dapat dipahami dan dilaksanakan sebagai tolok ukur hasil PKGuru. 2. Hasil PKGuru dapat mendorong terwujudnya sekolah efektif. II. KAJIAN TEORI A. Penilaian Kinerja Guru PermenPAN dan RB No.16 Tahun 2009 pasal 3 menyatakan jenis guru berdasarkan sifat , tugas dan kegiatannya guru, meliputi (1) guru kelas, (2) guru mata pelajaran dan (3) guru bimbingan dan konseling. Khusus dalam penelitian ini pelatihan pada guru mata pelajaran di SMK. Pasal 5 (1) menyatakan Tugas utama Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah serta tugas tambahan yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah. Ayat (2) menyatakan beban kerja Guru untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, dan/atau melatih sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit 24 (dua puluh empat) jam tatap muka dan paling banyak 40 (empat puluh) jam tatap muka dalam 1 (satu) minggu. Selanjutnya pasal 6 menyatakan kewajiban Guru dalam melaksanakan tugas adalah: (a). merencanakan pembelajaran/bimbingan, melaksanakan pembelajaran/bimbingan yang bermutu, menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran/bimbingan, serta melaksanakan pembelajaran/ perbaikan dan pengayaan, (b). meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (C) bertindak obyektif dan tidak diskriminatif atas pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran, (d). menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik Guru, serta nilai agama dan etika; dan (e). memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa Terkait dengan ketentuan untuk menjadi guru, UU N0.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Pasal 8 mensyaratkan Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Diperkuat pada pasal 9 kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Sedangkan pasal 10 menyebutkan kompetensi guru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Kompetensi guru inilah yang nanti dijadikan dasar dalam penilaian kinerja guru. Guru sangat menentukan keberhasilan peserta didik, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Murphy dalam Mulyasa (2007) menyatakan “ keberhasilan pembaharuan sekolah ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran , fasilitator, dan sekaligus merupakan pusat inisiatif pembelajaran . Karena itu guru harus senantiasa mengembangkan diri secara mandiri serta tidak bergantung pada inisiatif kepala sekolah dan supervisor”. pembelajaran bagi guru mata pelajaran atau guru kelas, meliputi kegiatan merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi dan menilai, menganalisis hasil penilaian, dan melaksanakan tindak lanjut hasil penilaian dalam menerapkan 4 (empat) domain kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Pengelolaan pembelajaran tersebut mensyaratkan guru menguasai 24 (dua puluh empat) kompetensi yang dikelompokkan ke dalam kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Untuk mempermudah penilaian dalam PK GURU, 24 (dua puluh empat) kompetensi tersebut dirangkum menjadi 14 (empat belas) kompetensi sebagaimana dipublikasikan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Rincian jumlah kompetensi tersebut diuraikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Kompetensi Guru Kelas/Guru mata Pelajaran No Ranah Kompetensi Jumlah Kompetensi Indikator 1 Pedagogik 7 45 2 Kepribadian 3 18 3 Sosial 2 6 4 Profesional 2 9 Total 14 78 Dengan rincian kompetensi dan cara pengumpulan fakta sebagai berikut. Tabel.2 Cara menilai Kompetensi Guru Kompetensi Cara menilai Pedagogik 1. Menguasai karakteristik peserta didik. Pengamatan & Pemantauan 2. Menguasasi teori belajar dan prinsip‐prinsip pembelajaran yang mendidik. Pengamatan 3. Pengembangan kurikulum. Pengamatan 4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik. Pengamatan 5. Pengembangan potensi peserta didik. Pengamatan & Pemantauan 6. Komunikasi dengan peserta didik. Pengamatan 7. Penilaian dan evaluasi. Pengamatan Kepribadian 8. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional. Pengamatan & Pemantauan 9. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan. Pengamatan & Pemantauan 10. Etos Kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru. Pengamatan & Pemantauan Sosial 11. Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif. Pengamatan & Pemantauan 12. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, peserta didik, dan masyarakat. Pemantauan Profesional 13. Penguasaan materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu. Pengamatan 14. Mengembangkan Keprofesionalan melalui tindakan yang reflektif. Pemantauan

Kamis, 12 Februari 2015

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBAHASA INGGRIS MATERI DEMONSTRATIVE MELALUI MEDIA MENYANYI, MUSIKALISASI DAN PERMAINAN TIC-TAC-TOE PADA SISWA KELAS VA SDN TLOGOSARI WETAN 01 TAHUN PELAJARAN 2008/2009



BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya, bahasa digunakan untuk berkomunikasi secara lisan. KTSP sendiri menyuratkan dengan jelas. Bahasa Inggris lisan sangat sederhana dalam konteks sekolah yang disajikan sejak kelas 4, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) memesankan perlunya pengajaran bahasa Inggris lisan diawal pembelajarannya di SMP sampai tercapai kompetensi lisan maupun tulisan dikelas 3 SMA. Kalau begitu, pembelajaran di SD sepenuhnya adalah pengajaran bahasa lisan dan perlu memperhatikan kesinambungan dengan pembelajaran di tingkat SMP dan SMA
Pertama, Teori Psikologi Perkembangan Piaget mengatakan, anak usia SD (6-12 tahun ) masih berada pada tahap operasional konkret sehingga belum bisa berpikir tentang sesuatu abstrak atau tidak secara nyata dalam pengalamannya (here and now). Kedua, Brain Theory yang dinyatakan Dr. Wilder Penfield dalam bukunya Bumpass menyatakan, pada usia delapan,sembilan dan sepuluh tahun anak akan dapat menunjukkan kinerja optimal dalam belajar bahasa.

Berikutnya, Teori Pemerolehan Bahasa Kedua (Second Language acquisition Theory) yang menyatakan, bahasa kedua/asing akan diperoleh kalau dalam proses belajar mengajar siswa ditempatkan dalam lingkungan berbahasa target yang kaya input (masukan) dan dapat dipahami dalam suasana  belajar yang rendah filter afektif, atau yang menyenangkan dalam Hipotesis Input dan Hipotesis Filter Afektifnya.

Sementara itu, KTSP bahasa Inggris untuk SD seperti yang disebutkan Sainul memesankan siswa SD diajar Bahasa Inggris lisan. Kalaupun ada bahasa tulis yang diajarkan, fungsinya untuk membantu terbentuknya ketrampilan berbahasa Inggris lisan.
Implikasi pedagogis berbagai teori tersebut, Aplikasi teori Piaget  dalam proses pembelajaran, mengharuskan guru mempertimbangkan materi yang kongkret dan tidak konkret. Tata bahasa memang merupakan unsur penting dalam pembelajaran bahasa untuk membentuk ketrampilan berbahasa Inggris yang berterima, tetapi karena  tata bahasa bersifat, abstrak maka pembelajaran tata bahasa di SD tidak di perlukan. Ditingkat SD , sebaiknya itu diajarkan bahasa non verbal, isyarat, alat bantu mengajar, visual, audio, audio visual, menyanyi, puisi, permainan, drama dan masih banyak lagi yang dapat digunakan untuk memeperjelas makna tanpa harus menterjemahkan. Masalahnya, apakah guru pernah mencoba  menggunakannya bahkan nyanyian sederhana, gambar yang tersedia dipinggir jalan sekalipun? Apakah guru mampu menggunakan bahasa Inggris untuk mengelola kelasnya? Exposure terhadap bahasa Inggris harus dilakukan dalam situasi rendah filter afektifnya. Artinya, siswa termotivasi, bebas dari kecemasan dan memiliki percaya diri untuk mampu berbahasa Inggris, Dengan kata lain, guru mengajar dalam suasana yang menyenangkan, menyanyi, berpantun, menari, bercerita dalam bahasa Inggris merupakan kegiatan yang menjadi bagian pengajaran bahasa Inggris di SD. Itu semua adalah bagian dari kehidupan anak usia SD.
Hipotesis input dan Filter Afektif dalam Teori Pemerolehan Bahasa Kedua , adalah hipotesis yang dapat menjelaskan bagaimana pemerolehan bahasa terjadi. Pemerolehan akan terjadi kalau lingkungan belajar bahasa Inggris di SD kaya Input yang dapat dipahami dalam situasi filter efektif yang rendah, atau menyenangkan.
Diatas segalanya , Bumpass mengatakan, keberhasilan pembelajaran Bahasa  Inggris diSD tergantung pada guru yang hanya bukan bisa berbicara bahasa Inggris dan budayanya. Tetapi  juga harus tahu bagaimana Bahasa Inggris di ajarkan di tingkat SD.

Definisi guru bahasa kedua / asing yang di katakan Stephen D Krashen dalam teori pemerolehan bahasa,  yaitu  guru Bahasa Inggris  yang efektif adalah seseorang  yang dapat menyediakan input (masukan) dan membantu pemahamannya dalam lingkungan belajar bahasa Inggris yang rendah filter afektifnya atau dalam suasana yang menyenangkan. Jadi semuanya tergantung pada guru sebagai pengelola kegiatan belajar  mengajarnya.
Bagi peneliti hal ini merupakan masalah yang serius  karena peneliti khawatir dimana peserta didik tingkat SD berada pada usia emas (golden age) artinya pada usia antara 6 - 12 mengalami perkembangan dalam penguasaan bahasa lisan yang sangat pesat , jika masa itu terlewatkan begitu saja tanpa kesan, tidak bermakna dan tidak mendapatkan hasil belajar berbicara bahasa Inggris yang optimal pada siswa.
Dari permasalahn di atas peneliti sebagai guru bahasa Inggris tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas guna meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris.
            Dalam hal ini peneliti akan mengadakan penelitian tindakan kelas di lihat dari Apakah ada peningkatan melalui media menyanyi, musikalisasi dengan menggunakan readboy Talking Book dan Permainan Tic-Tac-Toe terhadap keterampilan berbahasa Inggris pada siswa kelas VA di SD Negeri Tlogosari Wetan 01 dan seberapakah besar  peningkatan tersebut  ?
Peneliti kemudian melakukan perubahan dalam pendekatan maupun media pembelajaran. Pendekatan yang peneliti  lakukan adalah dengan  menggunakan Menyanyi bahasa Inggris (English song), Musikalisasi dengan Talking Book Readboy multi languages reading computer dan Permainan menggunakan  alat peraga (Game tic-tac-toe). Sebagai peneliti saya berharap melalui media  dan pendekatan pembelajaran ini, berkesan, bermakna, dan meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris Inggris siswa.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang uraian di atas, peneliti merumuskan permasalahan sebagaiberikut :
Apakah ada peningkatan melalui menyanyi, musikalisasi dengan menggunakan readboy Talking Book dan Permainan Tic-Tac-Toe terhadap keterampilan berbahasa Inggris pada siswa kelas VA di SD Negeri Tlogosari Wetan 01 dan seberapakah besar  peningkatan tersebut  ?
  1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah
1.      Untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris materi pokok Demonstrative That/This
2.      Untuk menemukan model/strategi pembelajaran yang menarik berupa English song yang relevan terhadap materi Demontartive That/This, talking Book Readboy yang mendukung  dan   permainan   Tic-Tac-Toe.
3.      Untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris yang signifikan
4.      Untuk meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses kegiatan belajar bahasa Inggris khususnya keterampilan berbahasa Inggris
  1. Manfa’at  Penelitian
Menafaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Bagi guru hasil penelitian ini dapat menjadi acuan, salah satu model dalam pemecahan masalah pembelajaran bahasa Inggris di SD khususnya aspek keterampilan berbahasa Inggris (Speaking skill) materi  Demontartive That/This
2. Bagi siswa penelitian tindakan kelas ini diharapkan :
a.       Mampu meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran bahasa Inggris khususnya keterampilan berbahasa  Inggris
b.      Siswa dapat menerima model pembelajaran ini dengan suasana menyenangkan, dengan demikian akan timbul keinginan yang besar untuk berbicara bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pijakan dalam mengembangkan pendekatan dan media pembelajaran yang lebih efektif dalam  Standar Kompetensi (SK)dan kompetensi Dasar (KD) pada materi lain dalam pembelajaran bahasa Inggris maupun mata pelajaran yang lain.
4. Bagi Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan, Provinsi dan Kota/Kabupaten dapat menjadi pertimbangan kebijakan didalam pendidikan dasar  



BAB. II
KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN HIPOTESA
A.    Kajian Teori
Beberapa istilah dalam penelitian ini perlu dilakukan pembatasan yang jelas.  Pembatasan dan penjelasan istilah bertujuan agar arah dan fokus penelitian ini menjadi jelas :
1.      Keterampilan   Berbahasa Inggris
a.  Ketrampilan
Mengacu rujukan Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan (DEPDIKBUD dalam Moedjiono,1992/1993:14) Pendekatan keterampilan proses dapat diartikan sebagai wawasan atau anutan pengembangan ketrampilan-ketrampilan intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan mendasar yang prinsipnya telah ada dalam diri sendiri siswa
Menurut Semiawan, dkk ( Nasution,2007:1.9-1.10) menyatakan bahwa keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mentak terkait dengan kemampuan-kemampuan yang mendasar yang dimiliki, dikuasai dan diaplikasikan dalam suatu kegiatan ilmiah, sehingga para ilmuan berhasil menemukan sesuatu yang baru.
Keterampilan yang diperoleh dari latihan kemampuan-kemampuan mental,fisik,sosial yang mendasari sebagai penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuan-kemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lama-kelamaan akan menjadi suatu keterampilan.
Sudjana (200:5) menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang ditandai dengan adanya perubahan-perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu melalui latihan dan pengalaman.
Adapun kompetensi yang diterapkan setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran bahasa Inggris melalui menyanyi,musikalisasi dengan Talking Book  Readboy dan  permainan Tic Tac Toe sesuai dengan standar Isi tahun  2006 untuk mata pelajaran bahasa Inggris
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
2  Berbicara
Mengungkapkan instruksi dan informasi sangat sederhana dalam konteks sekolah.


2.1.Bercakap-cakap untuk meminta/memberi jasa/barang secara berterima yang melibatkan tindak tutur: meminta bantuan, memberi bantuan, meminta barang, dan memberi barang.
2.2Bercakap-cakap untuk meminta/memberi informasi secara berterima yang melibatkan tindak tutur: mengenalkan diri, mengajak, meminta ijin, memberi ijin, menyetujui, tidak menyetujui, dan melarang.Mengungkapkan kesantunan secara berterima yang melibatkan ungkapan: do you mind….
b. Pengertian Berbahasa Ingngris
Bahasa Inggris (Speaking English) adalah suatu alat komunikasi yang tidak jauh bedanya dengan makna bahasa Indonesia, hanya disini bahasanya berbeda (Artikom:Google.net )
Kemampuan berbahasa Inggris adalah mengungkapkan pikiran,perasaan melalui ungkapan –ungkapan sederhana,kata-kata,phrase yang digunakan sehari-hari.Pada prinsipnya bukan mengajarkan tata bahasa yang formal, namun siswa dibiasakan untuk berani mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
1.            Media Menyanyi English Song, Talking Book Readboy dan Game-Tic Tac Toe
    1. Media Pembelajaran
Akhmad Sudrajat (2008) menyatakan bahwa Media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari “ Medium”. Secara harfiah berarti ”Piranti” atau :” Pengantar:” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan.
Beberpa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran sebagai beikut.
Media pembelajaran aalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran (Schramm dalam Akhmad sudrajat,2008) Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti  buku, , film, video, dan sebagainya Sedangkan National Education Association(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar termasuk teknologi perangkat keras.
Brown  dalam  Akhmad Sudrajat (2008) mengungkapkan bahwa media pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap keefektifan pembelajaran. Pada umumnya media pembelajaran hanya berfungsi sebagai alat bantu guru untuk mengajar yang menggunakan alat bantu visual. Sekitar pertengahan abad ke-20 usaha pemanfaatan visual dilengkapi dengan alat audio-visual. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya dalam bidang pendidikan.Saat ini penggunaan  alat baru atau media pembelajaran menjadi semakin luas  dan interaktif, seperti adanya komputer dan internet.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan  pesan dapat merangsang fikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
    1. Menyanyi
Menurut (Articom,Google.Net ) Menyanyi adalah mengeluarkan suara bernada; berlagu (dengan lirik atau tidak ).
    1. Musikalisasi
Pembelajaran dengan menggunakan media yang berisis visualisasi dan musikalisasi / audiio visual (English song) diyakini mampu memperbaiki hasil belajar. S. Nasution (2003:15) menyatakan bahwa alat audiovisual dapat (English Song) dapat membantu peserta didik belajar dengan menyajikan dalam bentuk yang lebih konkret. Menyanyi, musik, lirik lagu, model-model dan lainnya dapat mempermudah pengertian tentang konsep dan proses tertentu.
    1. Talking Book Readboy
Talking Book Readboy merupakan suatu revolusi dalam dunia belajar, mengajar dan bermain. Media ini akan melafalkan kata dan kalimat yang ada pada buku hanya dengan menunjukkan menggunakan Pen Interaktif sehingga menjadi buku-buku anda menjadi lebih hidup dan bersuara.( Petunjuk Penggunaan Multi Languagee Reading Computer V9:2008)

    1. Permainan Tic Tac Toe
Silvester Goridus Sukur-grasindu:2008) Game adalah permainan yang disepakati dalam sebuah peraturan bersama antara siswa dan guru .
Permainan Tic Tac Toe  merupakan permainan cara bermainnya seperti bermain catur. Adapun langkah-langkah permainan Tic Tac Toe sebagai beikut
1.      Seluruh siswa duduk berpasangan .
2.      Tiap siswa dalam satu kelompok diberi tiga chips atau benda apa saja untuk menggantikan chip dengan ukuran atau warna berbeda
3.      Secara bergantian mereka membuat kalimat berdasarkan benda-benda dalam kotak itu seperti, Is it a table ? lalu menempatkan chip mereka.
4.      Penempatan chip tidak boleh melompati satu kotak.
5.      Pemenangnya adalah siswa yang berhasil menempatkan chip atau alat bantu lain secara diagonal, vertikal, atau horizontal.
6.      Contoh pemenangnya adalah seperti berikut.
  1. Kontribusi Media/Alat Peraga Pembelajaran
Dalam menerima pengalaman atau ketrampilan baru, peserta didik menggunakan alat sensor berupa pendengaran, pengucapan dan gerakan. Pembelajaran yang menggunakan English Song, Talking Book Readboy, dan Game-Tic Tac Toe diharapkan mampu memberikan
pengalaman dan keterampilan baru sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut ini :
No
Pendekatan
Intensitas sensori yang digunakan
Pendengaran
Pengucapan
Gerakan
1
Menyanyi (English Song)


R
T


T


2
Musikalisasi
T



S



R
3
 Permainan Tic -Tac -Toe

S


S

T



Keterangan: T : Tinggi  S: Sedang   R: Rendah
Untuk dapat meningkatkan intensitas penggunaan sensori peserta didik sangat ditentukan oleh strategi pembelajaran yang didesain oleh guru. Puji Santosa (2008:1.15) menyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran yang baik adalah :
1.      Mengembangkan rasa ingin tahu murid
2.      Menantang murid untuk belajar
3.      Mengaktifkan mental, fisik dan psikis murid
4.      Memudahkan guru
5.      Mengembangkan kreatifitas murid
6.      Mengembangkan pemahaman murid terhadap materi yang dipelajari.
Ciri pembelajaran yang baik tersebut juga dapat diterapkan dalam mata pelajaran bahasa Inggris khususnya aspek keterampilan berbahasa Inggris (speaking skill). Siswa lebih suka menbangun pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai melalui berbagai aktivitas. Siswa akan termotivasi jika guru merancang strategi yang melibatkan siswa untuk melakukan permainan yang dapat meningkatkan kompetensinya. Inilah potret pembelajaran yang menyenangkan.
Nurhadi (2004:47) menyatakan bahwa hasil pembelajaran juga dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar dapat diperoleh melalui berbagi,diskusi antara teman.
Guru juga dapat merancang strategi pembelajaran juga dapat melalui kelompok, baik melalui kelompok besar maupun kecil. Merancang pembelajaran bahasa Inggris yang melibatkan kelompok menjadikan siswa mampu berkomunikasi dengan sesama temannya untunk saling bertanya, mencari menemukan jawaban, membangun pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai seperti kebersamaan.
Pembelajaran bahasa Inggris khususnya meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris diharapkan mampu meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris (Speaking Skill) dapat disajikan lebih konkret. Setelah siswa menyanyikan lagu bahasa Inggris dengan  suara alami dilanjutkan dengan musikalisasi melalui media/alat peraga Talking Book Readboy dan dikolaborasikan dengan game tic tac toe .
B.     Kerangka  Berpikir
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan kerangka berpikir sebagai berikut pada awalnya guru melaksanakan pembelajaran bahasa Inggris di SD dengan pendekatan konvensional. Guru menjelaskan materi perbendaharaan kata dan siswa mendengarkan, mencatat dan mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) Setelah dilakukan penilain ternyata kemampuan berbicara siswa rendah, hampir 90 % siswa pasif, enggan menyapa, mengucapkan kata, dan kaliamat.
Guru kemudian mengadakan tindakan dengan menyanyi lagu bahasa Inggris, Talking Book Readboy dan game tic- tac -toe yang terdiri dari 3 siklus.
1.      Pada siklus I guru menggunakan media English Song dan  musikalisai dengan  alat peraga Talking Book Readboy, guru juga mengulang pengucapan yang benar  kata, kalimat beserta artinya. Proses Pembelajaran dalam siklus I ini bertujuan agar siswa tertarik dengan materi bahasa inggris.
2.      Pada siklus II guru melakukan modifikasi  strategi  musikalisai  alat peraga Talking Book Readboy dengan teknik Dikte, artinya guru juga mengulang pengucapan yang benar  kata, kalimat, suara, dan  makna harfiahnya (arti kamus) yang harus disalin dan ditulis kembali oleh siswa apa yang didengar beberapa kali beserta suara benda, kata tersebut. Proses pembelajaran pada siklus II ini bertujuan agar keaktifan siswa lebih meningkat.
3.      Pada siklus III guru melakukan kolaborasi dengan permainan ( game-tic tac toe )  hal ini bertujuan agar siswa terlibat lebih aktif dalam pembelajaran.
Kerangka berpikir dalam penelitian tindakan kelas ini tergambar dalam bagan di bawah ini :








Gambar 2: Kerangka Berpikir PTK








 

GURU
Menggunakan media
menyanyi,musikalisasi
Game-Tic Tac Toe

 

 



    




 



    










REFLEKSI
 



SISWA
Diharapkan tertarik dan terfokus dalam pembelajaran dan keterampilan berbahasa   Inggris
 





 









C.     Hipotesa Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas dapat dinyatakan bahwa secara teoretis keterampilan berbahasa Inggris materi pokok Demontrative That/This dapat meningkat dengan menggunakan media Menyanyi, Musikalisasi dan  PermainanTic Tac Toe.



BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Setting  Penelitian
  1. Waktu Penelitian
Waktu yang digunakan untuk melakukan penelittian itu pada bulan April sampai dengan Juni 2009.
  1. Tempat Penelitian
Tempat penelitian di SD Negeri Tlogosari Wetan 01 Jl. Syuhada Raya N0.14 Semarang
B.     Subjek Penelitia
Subjek penelitian adalah siswa kelas V A SD Negeri Tlogosari Wetan 01 Semarang untuk tahun pelajaran 2008/2009 berjumlah 44 siswa.
C.    Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa yang diperoleh dengan cara sebagai berikut :
  1. Melalui test Unjuk Kerja (test performance)
  2. Melalui Pengamatan ( Observasi )
  3. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui pendapat tentang pembelajaran bahasa Inggris di SD
D.    Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Tes performance
Tes performance digunakan untuk mengukur kemampuan siswa mengenai penampilan menyanyikan sebuah lagu bahasa Inggris kedepan kelas. Kemampuan yang hendak diukur  penguasaan lirik lagu dari awal sampai dengan akhir lagu.
b.      Observasi
Observasi dilakukan peneliti untuk mengetahui keaktifan siswa dalam meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris materi Demonstrative That/This
c.   Wawancara
Wawancara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui tingkat ketertarikan peserta didik terhadap pembelajaran yang telah dilakukan.
2. Alat Peraga
Alat pengumpulan Data
Alat pengumpulam data yang digunakan oleh peneliti berupa :
a.  Butir  Soal tes (Speaking  test )  Statements– responds / questions- answers
b. Lembar Observasi
c..Pedoman wawancara yang berisi 4 pilihan: sangat menarik, menarik, kurang menarik, dan tidak menarik
E. Analisa Data
     1. Hasil  speaking test dibuat rerata dan dianalisa  secara deskriptif. Hasil tes juga dianalisa untuk mengetahui persentase siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
2. Hasil pengamatan peneliti secara deskriptif tentang berbagai kejadian dalam proses pembelajaran.
    1. Dinyatakan sangat aktif jika 81%-100% siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.
    2. Dinyatakan aktif jika 61%-80% siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran
    3. Dinyatakan cukup aktif jika 41%-60% siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran
    4. Dinyatakan kurang aktif jika terdapat kurang dari 21%-40%  siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran
    5. Dinyatakan tidak aktif jika hanya terdapat 1%-20% siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran.
3. Hasil Wawancara dianalisa secara deskriptif
a.       Dinyatakan sangat menarik jika lebih dari 50% siswa menyatakan sangat tertarik
b.      Dinyatakan cukup menarik jika lebih dari 50% siswa menyatakan cukup tertarik
c.       Dinyatakan kurang menarik jika lebih dari 50% siswa menyatakan kurang tertarik.
d.      Dinyatakan tidak menarik jika lebih dari 50% siswa menyatakan tidak tertarik.
F. Langkah-Langkah Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas terdiri dari 3 siklus.
Langkah –langkah  dalam tiap siklus terdiri dari :
1.      Perencanaan (Planning)
2.      Tindakan (Acting)
3.      Pengamatan (Observing)
4.      Refleksi
1. Perencanaan/Persiapan (Planning)
Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan beberapa kegiatan seperti mencari referensi yang berkaitan dengan kemampuan berbicara bahasa Inggris , media/alat peraga pembelajaran. Referensi tersebut diperoleh peneliti dari buku-buku, seminar, pendidikan dan latihan (Diklat) yang relevan dan internet.
Pada tahapan ini peneliti juga melakuakn kegiatan-kegiatan berikut :
    1. Pembuatan jadwal penelitian.
    2. Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
    3. Menyusun lagu lahu dan gerak dalam bahasa Inggris
    4. Pembuatan  daftar pertanyaan secara lisan (Speaking Test). Tes ini untuk mengukur sejauhmana keterampilan berbahasa Inggris
    5. Pembuatan alat peraga Game Tic-Tac-Toe yang digunakan untuk melakukan. Permainan ini diharapkan mampu menjadikan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
    6. Pembuatan Instrumen penilaian
    7. Pembuatan lembar pengamatan
    8. Pembuatan daftar pertanyaan untuk wawancara
    9. Pembuatan catatan harian untuk merekam informasi secara kualitatif yang diperoleh selama tindakan.
2. Tindakan ( Action )
Tindakan penelitian dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris. English Song dan musikalisasi disajikan dengan menggunakan Talking Book Readboy dimana sebuah alat peraga yang dapat mengiringi lagu bahasa inggris. Kegiatan ini sangat sederhana karena cukup dilakukan diruang kelas.
  1. Observasi
Observasi atau pengamatan dilakukan di setiap siklus .
Dalam tahap ini yang diamati antara lain ;
a.       Jalannya proses pembelajaran
b.      Situasi lingkungan dan subjek penelitian pada waktu proses pembelajaran
c.       Tingkah laku siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
  1. Refksi
Kegiatan refleksi dilakukan setiap akhir siklus. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kekurangan, kelemahan dan kelebihan terhadap kegiatan pembelajaran selama penelitian.
Setelah mengetahui keberhasilan dan kendala yang dialami dalam pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, peneliti akan melakukan penyempurnaan tindakan, modifikasi dan inovasi pada siklus-siklus berikutnya. Peneliti berusaha agar kemampuan berbicara bahasa Inggris meningkat. Signifikan.
Prosedur penelitian tindakan kelas ini secara sederhana dapat digambarkan melalui bagan berikut ini :



Gamabr 3 : Langkah-langkah  Penelitian Tindakan Kelas







 
















































BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Kondisi Awal
Pada awalnya peneliti melakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ceramah /penjelasan lisan  (konvensional)  didalam kelas.
Setelah pembelajaran selesai peneliti melakukan penilaian formatif serta melakkukan pengamatan terhadap aktivitas siswa. Hasil penilaian dan observasi tersebut tergambar dalam tabel 2 dibawah ini :
Tabel 2 : Hasil penilaian dan pengamatan pada kondisi awal
No
Indikator
Kemampuan
Rerata


Persentase
Siswa yang tuntas
Persentase
Partisipasi siswa dalam pembelajaran
1
Kemampuan
Memahami
Kalimat Positif

64,5%

  43,18%



25%
2
Kemampuan
Memahami
Kalimat Negatif

69,8%

65%
3
Kemampuan
Memahami
Kalimat Tanya

61,2

40%
RERATA
42 %


Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

65



 Berdasarkan tabel 3 di atas,  dapat dinyatakan bahwa partisipasi  siswa dalam mengikuti penjelasan pemakian listrik hemat dengan pendekatan belajar konvensional sangat rendah. Rendahnya partisipasi tersebut menyebabkan hasil pembelajaran rendah.
Pada indikator kemampuan I hanya terdapat  43, 18 % siswa yang tuntas dan 96,81% yang belum tuntas. Reratanya juga rendah yakni 61,2%   
Pada indikator kemampuan 2 hanya terdapat  65 % siswa yang tuntas dan masih terdapat 35 % siswa yang belum tuntas. Reratanya 69,8 %.Sementara  hasil wawancara menyatakan  mayoritas  siswa kurang tertarik ( 57,9 %)
Hasil belajar yang demikian membuat peneliti berusaha untuk mencari solusi agar pembelajaran dan mampu memancing perhatian siswa. Peneliti mempunyai ide untuk menyajikan pembelajaran dengan menyanyikan lagu yang relevan dengan materi  Demonstrative that/this  sekaligus mengemasnya dengan musikalisasi yang mendukung.
  1. Deskripsi Tindakan dan Hasil Siklus I
    1. Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan ini peneliti melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
a.       Pembuatan RPP ( Lesson Plan )
b.      Menyusun lagu-lagu bahasa Inggris 
    1. Pelaksanaan  Tindakan
 That is a door ,   That is a window,   That is a blackboard,    This is a floor,    This is a floor

 
Menyajikan lagu-lagu bahasa Inggris dalam catatan buku tugas harian, kemudian digunakan peneliti sebagai media pembelajaran. Setiap awal pelajaran bahasa Inggris peneliti mengajak menyanyi lagu yang relevan dengan kompetensi yang akan diajarkan misalnya peneliti akan mengajar tentang  kata benda ( Noun ),  sebelum materi tersebut disajikan peneliti mengajak siswa menyanyi lagu yang sesusai dengan tema tersebut, misalnya
                                                                                 .

Kegiatan ini selain menyanyi juga diikuti dengan gerakan ( Gerak dan Lagu ) Penggunaan media menyanyi gerak dan lagu cukup menarik perhatian siswa. Menyanyi gerak lagu ini dikolaborasi dengan musik yang mendukung membawa suasana yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan dengan variasi kegiatan menyanyi (gerak dan lagu). Agar siswa lebih jelas peneliti juga menerangkan arti kata, kalimat yang ada dalam lirik lagu tersebut.

    1. Pengamatan
Setelah pembelajaran, peneliti kembali melakukan test formatif dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan  proses pembelajaran.
Adapun hasil pembelajaran tergambar dalam tabel 3 berikut ini :
Tabel 3 : Hasil penilaian dan pengamatan pada siklus I
No
Indikator
Kemampuan
Rerata


Persentase
Siswa yang tuntas
Persentase
Partisipasi siswa dalam pembelajaran
1
Kemampuan Memahami
Kalimat Positif

74 %

56,8  %

66 %
 

66 %
 

66 %
2
Kemampuan
Memahami Kalimat Negatif

73,6 %

75 %
3
Kemampuan
Memahami Kalimat Tanya ( Introgative )

67,5 %

56,8 %
RERATA
61,36  %


Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

65 %



Berdasarkan tabel 3 di atas, dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris  dengan menyanyi, musikalisasi cukup aktif (66% ). Kenaikan persentase partisipasi siswa tersebut disebabkan oleh faktor ketertarikan mereka terhadap musikalisasi dengan alat peraga Talking Book Readboy. Namun bisa jadi ketertarikan itu sifatnya hanya sementara. Berdasarkan pengamatan peneliti, pada awalnya mereka begitu antusias, namun semakin lama para siswa tersebut merasa jenuh.
Walaupun demikian, meningkatnya perhatian siswa  karena penggunaan media pembelajaran ini telah berhasil menaikkan keterampilan berbahasa Inggris materi Demonstrative That/This baik dalam kalimat positif, negatif dan kalimat tanya.
Pada indikator  kemampuan 1 terdapat 56,8% siswa yang tuntas dari kondisi awal 43,18% ( kenaikan 13 % ). Dengan demikian masih terdapat 43,2 % yang belu tuntas. Reratanya juga mengalami kenaikan dari  64,5%  menjadi 74 %
Pada indikator  kemampuan  2 terdapat  75 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 65 % ( kenaikan 10 % ). Dengan demikian masih terdapat  25 % siswa yang belum tuntas.. Reratanya juga mengalami kenaikan  dari  69,8% menjadi  73,6 %.
Pada indikator kemampuan 3 terdapat 56,8 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 40% (Kenaikan 16%). Dengan demikian masih terdapat 43,2 % yang belum tuntas. Reratanya juga  mengalami kenaikan dari 61,2 menjadi 67,5 %. Sementar ahasil wawancara menyatakan mayoritas siswa kurang tertarik (52,6 %) dan sebagian besar yang lain menyatakan cukup tertarik ( 47.4 %)
4.            Refleksi
Setelah melakukan pengamatan pada siklus I peneliti merasa bahwa penggunaan media tersebut memang berpengaruh dalam menarik perhatian siswa. Namun masih terdapat beberapa kelemahan  sepanjang pengamatan peneliti. Kelemahan yang dimaksud antara lain :
a.       Perhatian siswa terhadap pembelajaran khusunya bagi laki-laki sifatnya temporer (sementara). Semakin lama perhatian siswa tersebut semakin berkurang (tidak fokus).
b.      Terdapat beberapa siswa yang tidak terfokus pada materi. Ada yang hanya mencari sisi lucunya, dan ada pula yang hanya sekedar menyanyi pada kata-kata atau kalimat tertentu, hal ini disebabkan karena mereka tidak hafal  seluruh lirik lagu, bahkan adapula yang hanya sekedar menikmati musik tanpa sama sekali mau menyanyi.
Kelemahan dalam siklus pertama ini membuat peneliti melakukan modifikasi pembelajaran. Peneliti kemudian mengambil kesimpulan sementara bahwa penggunaan media menyanyi (gerak & lagu) yang diiringi dengan musikalisasi harus disertai dengan lembar tugas yang relevan dengan media pembelajaran dan membuat perhatian mereka terfokus pada materi pembelajaran.
 C. Deskripsi Tindakan dan Hasil Siklus II
1. Perencanaan Tindakan
            Pada tahap perencanaan peneliti melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
a.       Pembuatan RPP (Leson Plan)
b.      Menyusun lembar tugas siswa
Bentuk lembar tugas yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Gambar 4: Lembar Tugas Siswa
LEMBAR TUGAS SISWA
MATERI POKOK DEMONSTRATIVE THAT / THIS
Nama                     :......................
No. Absensi          : …………….

  1. Kalimat Positif
That is a book
………………………..
  1. Kalimat Negatif
That is not  a book
…………………….
  1. Kalimat Tanya ( Introgative )
Is that a book ?
…………………….


 
 








2. Pelaksanaan Tindakan
Pada siklus II ini pembelajaran tetap menggunakan pembelajaran menyanyi lagu bahasa Inggris (Gerak & Lagu ) dan musikalisasi, namun peneliti juga membagi lembar tugas  diselesaikan siswa di dalam proses pembelajaran.
3. Hasil Pengamatan
Setelah proses pembelajaran peneliti kembali melakukan tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran. Adapun hasil pembelajaran tergambar dalam tabel 4 berikut ini :


Tabel 4 : Hasil penilaian dan pengamatan pada siklus II
No
Indikator
Kemampuan
Rerata


Persentase
Siswa yang tuntas
Persentase
Partisipasi siswa dalam pembelajaran
1
Kemampuan
Memahami Kalimat Positif

84 %

90,90 %



79 %
2
Kemampuan
Memahami Kalimat Negatif

72,9 %

90,90 %
3
Kemampuan
Memahami Kalimat Tanya ( Introgative )

84 %

88,63  %
RERATA
73%


Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
65



Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris matri pokok Demonstrative That/This dengan menyanyi, musikalisasi dan permainan tic tac toe sampai pada level (79%). Kenaikan persentase partisipasi siswa tersebut disebabkan oleh faktor ketertarikan mereka terhadap menyanyi, musikalisasi tersebut ditambah adanya fokus perhatian yang lebih intens terhaap materi.
Pada indikator I terdapat 90,90% siswa yang tuntas dari kondisi awal 56,80% 9 kenaikan (34,1%). Dengan demikian hanya terdapat 9.1% yang belum tuntas.. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 74,091% menjadi 84%.,
Pada indikator kemampuan 2 terdapat 90,90% dari kondisi awal 75% (Kenaikan 15,9%). Dengan demikian masih terdapat 9,1% yang belum tuntas. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 68% menjadi 72,95%
Pada indikator 3 terdapat 88,63% siswa yang tuntas  dari 56,80% (Kenaikan 31%) Dengan demikian masih terdapat 31,83 %  yang belum tuntas. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 68 % menjadi 84 %. Semenatra hasil wawancara menyatakan mayoritas siswa sangat tertarik  (60,60%), sedangkan yang menyatakan  cukup tertarik (9,52 %.).

4.      Refleksi
Setelah melakukan pengamatan pada tindakan siklus II, peneliti merasa bahwa penggunaan media yang dikolaborasikan denga lembar kerja ternyata menbawa dampak yang sangat signifikan
Meskipun demikian peneliti masih tertantang untuk melakukan inovasi kembali karena masih terdapat siswa yang belum tuntas. Peneliti ingin agar siswa berpartisipasi aktif baik perhatian, pengucapan, pendengaran, maupun aktivitas fisiknya (gerak).
Peneliti kemudian bermaksud mengoptimalkan hasil belajar pada materi ini dengan melakukan inovasi alat peraga dan model pembelajaran.
  1. Deskripsi Hasil Pengamatan  Siklus III
    1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan peneliti melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut :
a.       Membuat RPP ( Lesson Plan )
b.      Membuat dan menyiapkan alat peraga Game-Tic-Tac Toe
Alat peraga ini dibuat dari bahan kertas bergambar. Cara bermainnya berpasangan, setiap siswa menyiapkan chip atau alat bantu sebanyak 3 buah yang berbeda dengan chip lawan mainnya. Peraturan permainan seperti bermain catur bergantian missal dengan bertanya is it a lamp ?  siswa B menjawab yes, it is  sambil menempatkan chipnya diatas kertas yang bergambar. Kegiatan ini saling bergantian, pemenangnya adalah siswa yang tercepat menempatkan chipnya secara horizontal , vertikal atau diagonal.





    Adapun contoh  Game-Tic Tac Toe tersebut adalah
NEGATIVE
NEGARIF
 
INTROGATIVE
PERTANYAAN
 
POSITIVE
POSITIF
 
Demonstrative That / This
 
Gambar 5 : Contoh   Game-tic tac toe  Demonstrative That / This

 






Dalam setiap tahap peneliti membagi permainan dalam 3 tahap, tahap pertama permainan  tic tac toe  demonstrative  that/this dimulai dengan kalimat positif, tahap kedua kalimat negatif  dan tahap terakhir membuat kalimat Tanya. Peneliti kemudian mengecek  kebenaran permainan semua kelompok.
    1. Pelaksanaan  Tindakan
Pada siklus III ini pembelajaran menggunakan kolaborasi media menyanyi (gerak & lagu), musikalisasi dan game-tic tac toe. Adapun tempat permainan yang dipilih oleh peneliti adalah ruang kelas karena lebih efektif  tidak berpindah tempat. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar aktivitas konsentrasi  siswa tidak terganggu.
Alat peraga game tic-tac-toe digunakan peneliti untuk melakukan permainan dalam tiga tahapan.
a.       Pada permainan tahap pertama yang dipasangkan adalah demonstrative This / That dengan kalimat positif
b.      Pada permainan tahap kedua yang dipasangkan adalah Demonstrative That / This  dengan kalimat negatif
c.       Pada permainan tahap ketiga yang dipasangkan adalah  Demonstrative That / This  dengan Kalimat Tanya.
Dalam setiap tahap penelitian,  peneliti membuat kesepakatan bersama bagi pemenang akan diberikan reward berupa skorskor dengan tujuan untuk memotivasi  siswa mengakhiri permainannya dengan cepat dan tepat sebaliknya bagi yang kalah dalam permainan, peneliti meenjelaskan.dan mengulang kembali permainan dari putaran pertama  dengan  seluruh tahapan permainan .
3.      Hasil Pengamatan
Setelah pembelajaran peneliti kembali melakukan tes formatif dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran tersebut.
Adapun hasil pembelajaran tergambar dalam tabel 5 berikut ini :
Tabel 5 : Hasil penilaian dan pengamatan pada siklus III
No
Indikator
Kemampuan
Rerata


Persentase
Siswa yang tuntas
Persentase
Partisipasi siswa dalam pembelajaran
1
Kemampuan Memahami
Kalimat Posistif
96 %
  93,18 %

92 %
2
Kemampuan
Memahami  kalimat negatif
95,9 %
95,45 %
3
Kemampuan Memahami kalimat tanya  (Introgative )
96 %
  93,18  %
RERATA
95,45%


Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
65



Berdasarkan tabel 5 di atas, dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris materi pokok Demonstrative That/This  dengan menyanyi, visualisasi dan permainan Tic Tac Toe  sampai pada level sangat aktif (92). Kenaikan partisipasi siswa terbut disebabkan oleh faktor ketertarikan dan keterlibatan aktif mereka terhadap pembelajaran yang berlangsung.
Pada indikator kemampuan I terdapat 93,13 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 90,90 %  ( Kenaikan 2,28 %) dengan demikian masih hanya masih 3 siswa yang belum tuntas dari jumlah  44 siswa dalam satu kelas mungkin karena kurang mendengarkan dan memperhatikan proses pembelajaran. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 84 % menjadi 96 %.
Pada  indikator kemampuan  2 terdapat 95,45 % siswa yang tuntas  dari kondisi awal 90,90 % (Kenaikan 4,55 % ) dengan demikian hanya 2 siswa dari 44 siswa yang belum tuntas, mungkin karena faktor jumlah siswa yang terlalu banyak sehingga mempengaruhi hasil belajar. Reratanya juga meningkat dari 72,9% menjadi 95,9%.
Pada indikator 3 terdapat 93,18% dari kondisi awal 88,63% (Kenaikan 4.55%). Dengan demikian hanya ada 2 anak yang belum tuntas karena banyak faktor diantaranya jumlah siswa terlalu banyak dalam satu kelas, faktor siswa yang lemah daya serapnya, tidak mendengarkan, dll. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 84 % menjadi 93,18%. Sementara hasil wawancara menyatakan sangat tertarik (85,71 %).
4. Refleksi
Berdasarkan hasil pembelajaran pada siklus III peneliti menyakini bahwa pembelajaran bahasa Inggris materi pokok Demonstrative That/This yang inovatif dan variatif sangat menarik perhatian siswa. Meskipun demikian masih terdapat sedikit kelemahan pada siklus III. Kelemahan yang dimaksud adalah pada saat melakukan permainan tic tac toe, terdapat sebagaian kecil siswa yang usil dan bermain-main di luar koridor pembelajaran. Kelemahan tersebut dapat diselesaikan dengan memberikan perhatian, memberi sapaan mapun teguran kecil pada siswa dan mengecek satu kelompok ke kelompok yang lain dengan intensif.
E. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
Berdasarkan uraian pada siklus I, II, III maka hasil dari tindakan yang dilakukan  peneliti dapat digambarkan dalam tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6 : Hasil penilaian dan pengamatan  pada tiap siklus
N0
Indikator
Kemampuan
RerataHasil Penilaian
Persentase Siswa
Yg Tuntas (%)
Persentase partisipasi siswa aktif


KA
I
II
III
KA
I
II
III
KA
I
II
III
1
Kemampuan
Memahami
Kalimat positif

61

74

84

96


43,18

56

90,90

93,18




2
Kemampuan
Memahami
Kalimat Negatif

64

76

72

95

69,80

75

90,90

95,45

58

66

79

85
3
Kemampuan
Memahami
Kalimat Tanya

69

68

84

96

40,90

560

88,63

93,18





RERATA
42
63
72
95
25
61,
90,.90
95,45





KKM
65
65





Tabel 7 : Hasil Wawancara  Pada Tiap Siklus

N0
OPSI PILIHAN
PERSENTASE  ( % )


Kondisi
Awal
Siklus I
Siklus II
Siklus III
1
Sangat Menarik

0,0
10,5
60,5
85
2
Cukup Menarik

2,6
4,7
86,8
39,5
3
Kurang Menarik

57,9
52,6
2,6
0,0
4
Tidak Menarik

39,5
0,0
0,0
0,0

Berdasarkan tabel 6 dan 7 diatas terlihat bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris materi pokok Demonstrative This/This  sebelum adanya tindakan sangat rendah. Rendahnya partisipasi tersebut menyebabkab hasil pembelajaran rendah.
Pada indikator kemampuan I hanya terdapat  43, 18 % siswa yang tuntas dan 96,81% yang belum tuntas.Reratanya juga rendah yakni 61,2%   
Pada indikator kemampuan 2 hanya terdapat  65 % siswa yang tuntas dan masih terdapat 35 % siswa yang belum tuntas. Reratanya 69,8 %.Sementara  hasil wawancara menyatakan  mayoritas  siswa kurang teratarik ( 57,9 %).
Hasil belajar yang demikian membuat peneliti berusaha untuk mencari solusi agar pembelajaran dan mampu memancing perhatian siswa. Peneliti mempunyai ide untuk menyajikan pembelajaran dengan menyanyikan lagu yang relevan dengan materi  Demonstrative that/this  sekaligus mengemasnya dengan musikalisasi yang mendukung.
Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris  dengan menyanyi, musikalisasi cukup aktif (66% ). Kenaikan persentase partisipasi siswa tersebut disebabkan oleh faktor ketertarikan mereka terhadap musikalisasi dengan alat peraga Talking Book Readboy. Namun bisa jadi ketertarikan itu sifatnya hanya sementara . Berdasarkan pengamatan peneliti, pada awalnya mereka begiru antusias, namun semakin lama para siswa tersebut merasa jenuh.
Walaupun demikian, meningkatnya perhatian siswa  karena penggunaan media pembelajaran. Pada indikator  kemampuan 1 terdapat 56,8% siswa yang tuntas dari kondisi awal 43,18% ( kenaikan 13 % ). Dengan demikian masih terdapat 43,2 % yang belu tuntas. Reratanya juga mengalami kenaikan dari  64,5%  menjadi 74 %
Pada indikator  kemampuan  2 terdapat  75 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 65 % ( kenaikan 10 % ). Dengan demikian masih terdapat  25 % siswa yang belum tuntas.. Reratanya juga mengalami kenaikan  dari  69,8% menjadi  73,6 %.
Pada indikator kemampuan 3 terdapat 56,8 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 40% (Kenaikan 16%). Dengan demikian masih terdapat 43,2 % yang belum tuntas. Reratanya juga  mengalami kenaikan dari 61,2 menjadi 67,5 %. Sementar ahasil wawancara menyatakan mayoritas siswa kurang tertarik (52,6 %) dan sebagian besar yang lain menyatakan cukup tertarik ( 47.4 %)
Setelah dilakukan tindakan pada siklus II, dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris matri pokok Demonstrative That/This dengan menyanyi, musikalisasi dan permainan tic tac toe sampai pada level (79%). Kenaikan persentase partisipasi siswa tersebut disebabkan oleh faktor ketertarikan mereka terhadap menyanyi, musikalisasi tersebut ditambah adanya fokus perhatian yang lebih intens terhaap materi.
Pada indikator I terdapat 90,90% siswa yang tuntas dari kondisi awal 56,80% 9 kenaikan (34,1%). Dengan demikian hanya terdapat 9.1% yang belum tuntas.. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 74,091% menjadi 84%.,
Pada indikator kemampuan 2 terdapat 90,90% dari kondisi awal 75% (Kenaikan 15,9%) . Dengan demikian masih terdapat 9,1% yang belum tuntas.Reratanya juga mengalami kenaikan dari 68% menjadi 72,95%
Pada indikator 3 terdapat 88,63% siswa yang tuntas  dari 56,80% (Kenaikan 31%) Dengan demikian masih terdapat 31,83 %  yang belum tuntas. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 68 % menjadi 84 %. Semenatra hasil wawancara menyatakan mayoritas siswa sangat tertarik  (60,60%), sedangkan yang menyatakan  cukup tertarik (9,52 %.).
Setelah dilakukan tindakan siklus III,  dapat dinyatakan bahwa partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran bahasa Inggris materi pokok Demonstrative That/This  dengan menyanyi, visualisasi dan permainan Tic Tac Toe  samapai pada level sangat aktif (92). Kenaikan partisipasi siswa terbut disebabkan oleh faktor ketertarikan dan keterlibatan aktif mereka terhadap pembelajaran yang berlangsung.
Pada indikator kemampuan I terdapat 93,13 % siswa yang tuntas dari kondisi awal 90,90 %  ( Kenaikan 2,28 %) dengan demikian masih hanya masih 3 siswa yang belum tuntas dari jumlah  44 siswa dalam satu kelas mungkin karena kurang mendengarkan dan memperhatikan dalam proses pembelajaran. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 84 % menjadi 96 %.
Pada  indikator kemampuan  2 terdapat 95,45 % siswa yang tuntas  dari kondisi awal 90,90 % (Kenaikan 4,55 % ) dengan demikian hanya 2 siswa dari 44 siswa yang belum tuntas, mungkin karena faktor jumlah siswa yang terlalu banyak sehingga mempengaruhi hasil belajar. Reratanya juga meningkat dari 72,9% menjadi 95,9%.
Pada indikator 3 terdapat 93,18% dari kondisi awal 88,63% (Kenaikan 4.55%). Dengan demikian hanya ada 2 anak yang belum tuntas karena banyak faktor diantaranya jumlah siswa terlalu banyak dalam satu kelas, faktor siswa yang lemah daya serapnya, tidak mendengarkan, dll. Reratanya juga mengalami kenaikan dari 84 % menjadi 93,18%. Sementara hasil wawancara menyatakan sangat tertarik (85,71 %).
F. Kesimpulan Hasil Penelitian
Dengan demikian dapat disimpulkan  bahwa pembelajaran bahasa Inggris  dengan menyanyi, musikalisasi dan permainan tic tac toe mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat pada akhir siklus III rerata hasil penilaian mencapai angka 95, hanya 3 siswa yang belum tuntas, banyak faktor yang menyebabkan  penelitian tindakan kelas ini belum mencapai angka optimal yakni 100% diantaranya adalah jumlah siswa terlalu banyak sehingga beberapa siswa kurang konsentrasi dengan baik, kurang perhatian orang tua dalam belajar dirumah, namun walaupun  demikian peningkatan hasil belajar khususnya materi pokok Demonstrative That/This sudah ckup baik. Sedangkan pendapat siswa mengenai proses pembelajaran sampai akhir siklus III sebanyak 85,71 % menyatakan sangat menarik.





G. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dari pengamatan menyanyi, musikalisasi dan permainan tic tac toe untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris siswa sebagai berikut :
1. Terjadi peningkatan rerata nilai penguasaan materi pokok Demonstrative that / this dari 25 % sampai dengan  95 ,45 %
 2. Persentase siswa yang mencapai ketuntasan belajar mencapai titik angka 95 %, meskipun belum mencapai titik optimal namun demikian sudah ada peningkatan hasil belaja yang maksimal.
3.  Persentase siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran dia atas  88 %
4. Hasil wawancara lebih dari 85,71 % menyatakan sangat tertarik terhadap kegiatan pembelajaran materi pokok demonstrative that / this melalui menyanyi , musikalisasi dan permainan tic tac toe.